Pelabuhan Hati Sang Duda

Pelabuhan Hati Sang Duda
Kemarahan Tama


__ADS_3

Malam sudah datang, sementara Kenzo belum juga turun untuk ikut makan malam, ia masih termenung di balkon kamar sambil menunggu balasan pesan atau telepon dari Dara.


Kembali menarik napas panjang, Kenzo akhirnya mengantongi ponsel mwahnya. Karena sampai sekarang Dara juga tidak menghubunginya.


*Mungkinkan wanita itu lupa?


Mungkinkah wanita itu sibuk*?


Semua pertanyaan itu terus bermunculan di pikiran Kenzo, memikirkan tentang Dara yang tidak ada kabar.


"Apa keadaan ibunya Dara parah ya? sampai-sampai Dara tidak punya waktu menghubungiku? " batin Kenzo mencoba menebak apa yang terjadi.


Seandaianya ia tau dimana alamat rumah Dara, mungkin sudah sejak tadi Kenzo menyusul, lalu menemui Dara di rumah sakit.


Kenzo mengaku salah, kenapa selama ini ia tidak pernah menanyakan alamat lengkap rumah Dara. Dulu mungkin pikir Kenzo semua itu tidak lah penting, lagian ia juga tidak pernah terpikirkan akan jatuh cinta pada sosok Dara.


Tok-tok-tok.


Pintu kembali di ketok dari luar, Kenzo menoleh lalu meninggalkan balkon untuk menuju pintu. Ia buka pintu tersebut dengan gerakan pelan.


"Kenapa belum turun juga? Neysa tidak mau makan sama Mama, dia terus merengek minta makan sama Dara, coba kamu bujuk siapa tau dia mau makan sama kamu" ucap Ningrum.


"Baik Ma"


Kenzo mengikuti langka kaki Ningrum menuruni anak tangga, mereka menuju meja makan dimana ada Neysa di sana.


Kenzo melirik piring Neysa, nasi beserta lauknya masih utuh bahkan belum termakan barang sedikitpun.


"Kenapa Ney tidak makan? nanti Ney sakit loh" seloroh Kenzo sambil menarik sebuah kursi untuknya duduk.


"Aku mau makan sama Kakak cantik Pa, ayo suruh kakak pulang! " balas Neysa yang langsung menangis saat teringat dengan Dara.


"Kakak cantik pulang sebentar nak, ibu nya kakak cantik sakit, nanti kalau ibu nya kakak sudah sembuh pasti kesini lagi nemenin Ney"


Tangisan Neysa langsung pecah mendengar ucapan Kenzo, ia begitu merindukan sosok Dara.


"Ney kan anak pintar, gak boleh gini nak" Kenzo iba, juga merasa sedih melihat keadaan putrinya. Entah bagaimana caranya supaya Dara bisa di hubungi lalu menenangakan Neysa walau hanya lewat telepon.


"Besok Papa akan jemput kakak pulang kesini, tapi Ney jangan nangis lagi" kata Kenzo mencoba membujuk Neysa.


"Papa tidak bohong kan? "


"Tidak sayang, makanya hapus dulu air matanya. Dan malam ini Ney makan sama Papa"

__ADS_1


Perlahan Neysa menganggukan kepalanya, ia pun mau makan di suapi oleh Kenzo.


Ningrum yang melihat itu juga merasa sedih, entah bagaimana nanti jika Dara tidak kembali. Bagainana dengan Neysa dan kemana dirinya harus mencari Dara sementara baik dirinya maupun Kenzo tidak tau dimana desa dan alamat rumah Dara.


Setelah menyuapi Neysa makan dan menidurkannya . Kenzo keluar kamar Neysa. Ia bertemu dengan Ningrum.


"Apa Dara sudah bisa di hubungi? " tanya Ningrum.


"Belum Ma, jika saja aku tau alamat desa dan rumah Dara aku sudah menyusulnya"


"Sabar dulu, siapa tau besok pagi Dara lihat ponselnya"


"Semoga saja Ma"


"Ya sudah mama mau istirahat di kamar Neysa, kamu juga istirahat sana! besok kan harus kerja"


Kenzo mengangguk, ia menuju kamarnya dengan langka pelan. Saat melewati kamar Dara langka kaki nya berhenti, terbesit ada keinginan untuk masuk kekamar Dara mungkin bisa sedikit mengobati rasa rindu.


*********


Sementara itu di rumah sakit...


Karena sibuk mengurus Syerli, membuat Dara lupa mengabari Kenzo. Bahkan ia tidak ingat sama sekali dengan Kenzo maupun Neysa karena saat ini pikiran Dara hanya tertuju pada kesehatan sang Mama.


Apalagi sampai sekarang Syerli belum juga membuka matanya, membuat dirinya, Tama dan juga Mario terus merasakan kepanikan.


"Iya Bang"


"Abang mau bicara berdua sama kamu, ayo ikut abang"..


Jika seperti ini pasti ada sesuatu, perasaan Dara tidak enak tapi dirinya tidak bisa membantah. Dara berdiri dan ikut dengan Tama.


Dan disini lah mereka berada di sebuah restoran yang tidak jauh dari rumah sakit, Tama memesan minuman untuknya dan juga Dara.


"Mau bicara apa Bang? " tanya Dara.


Sebelum menjawab Tama menarik napas panjang "Di rumah siapa kamu menjadi baby sitter? "


Deggggg


Jantung Dara berdegup sangat kencang, dari mana sang Kakak tau kalau dirinya bekerja sebagai baby sitter, padahal Dara sudah meminta kepada kedua orang tuanya untuk merahasiakan semua ini dari Tama.


"Abang tau dari mana? "

__ADS_1


"Tidak penting Abang tau dari mana? sekarang jawab saja di rumah siapa kamu bekerja"


Dara terdiam, haruskah ia mengatakan kalau dirinya bekerja di rumah Kenzo. Tapi kalau dirinya jujur ia takut Tama akan mendatangi rumah Kenzo dan mengatakan semuanya.


"Untuk apa Abang nanya tentang ini? "


"Tidak untuk apa-apa, Abang cuman ingin kamu berhenti bekerja seperti ini. Memalukan tau gak"


"Memalukan bagaimana Bang?, Pekerjaan Dara halal"


"Iya Abang tau, tapi coba kamu pikir! kamu itu anak seorang Mario. Dan semua orang tau siapa Papa kita"


Tama kembali menarik napas berat, kemudian kembali berkata.


"Lebih baik kamu bantu Papa urus perusahaan dari pada kerja sebagai pengasuh , kalaupun kamu memang mau menjadi pengasuh, tuh anak-anak kakak sangat membutuhkan nya, lagian berapa sih gajinya"


Memang gaji yang Dara dapatkan tidak ada bandingannya dengan uang bulanan dari Mario, selama ini pun Dara mengerti tapi memang bukan itu yang Dara harapkan.


Dara masih terdiam, belum berani menjawab ucapan Tama. Dari dulu memang begini jika Tama sedang marah maka jangan sekali-kali membantah.


"Dan alasan apa kamu membatalkan perjodohan kamu dengan Rendi? "


"Karena aku tau Rendi bukan pria yang baik Bang, lagian aku sudah menemukan laki-laki yang pas untuk ku"


"Siapa? "


"Abang tidak perlu tau"


Tama menatap adiknya dengan tajam, ia sangat menyayanyi Dara makanya Tama tidak ingin terjadi sesuatu pada Dara.


Dan mengenai pekerjaan Dara. Sang Mama lah yang memberi tahu, Syerli menghubungi Tama dan meminta membujuk Dara agar segera pulang.


"Ok, nanti abang yang akan cari sendiri" balas Tama


"Yang terpenting sekarang berhenti bekerja sebagai baby sitter, atau kalau enggak kamu akan abang bawa ke luar negeri"


Ancaman Tama begitu menakutkan menurut Dara, tapi berhenti bekerja di rumah Kenzo lebih menakutkan dari pada itu. Ia tidak akan sanggup berpisah dengan Neysa apalagi dirinya pun baru jadian dengan Kenzo.


"Beri aku waktu sedikit lagi bang, anak yang Dara asuh itu sayang banget sama Dara, gak mungkin Dara ninggalin dia begitu saja"


"Kan ada Ibunya"


"Ibunya sudah meninggal Bang"

__ADS_1


Sudut bibir Tama terangkat ia seperti mengetahui sesuatu.


"Apa laki-laki yang kamu sukai Ayah dari anak itu? "


__ADS_2