
Dara menepuk punggung Kenzo dengan pelan, membiarkan laki-laki itu mengeluarkan rasa sesak yang di rasakan. Walaupun Dara tidak mengerti apa-apa, tapi otaknya sudah bisa menebak kalau Kenzo seperti ini pasti menyangkut dengan pernikahan Kenzo dan Vio.
Beberapa saat kemudian Kenzo melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Dara.
"Mereka akan membawa Neysa jika aku menolak untuk menikahi Vio" kata Kenzo dengan suara serak.
"Menikahlah Mas ! Mungkin Vio memang jodoh kamu"
Kepala Kenzo menggeleng pelan "Aku gak bisa Ra, aku gak cinta sama Vio"
"Cinta akan tumbuh seiring jalannya waktu mas, dia juga adik dari almarhum istri kamu, jadi Vio pasti akan menyayangi Neysa seperti anak kandungnya sendiri"
"Tapi aku cinta sama kamu Ra, bagaimana dengan hubungan kita ?"
Dara mencoba tersenyum, walau rasanya hatinya begitu sakit. Ia tidak ingin terlihat lemah di mata Kenzo.
"Hubungan kita baru terjalin beberapa bulan mas, jadi dengan muda kamu akan melupakan rasa itu"
Keduanya saling pandang, memikirkan nasib masing-masing kedepannya.
"Kamu tidak ingin berjuang untuk hubungan kita Ra ?" Tanya Kenzo lagi
"Untuk apa mas ? Kalau ujung-ujungnya kita akan tetap berpisah. Jangan memperumit keadaan kalau jalannya sudah seperti ini"
Entahlah ada rasa kecewa di diri Kenzo, padahal ia sangat berharap Dara mau berjuang untuk hubungan mereka yang baru saja terjalin. Tapi nyatanya Dara ingin mundur.
Tanpa mengatakan apapun Kenzo langsung meninggalkan Dara, ia masuk kerumah dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa di jelaskan.
Dara menarik napas panjang, menatap kepergian Kenzo dengan nanar.
"Bukan aku tidak ingin untuk memperjuangkan hubungan kita mas, tapi sepertinya memang jalan kita tidak bisa bersama" batin Dara sedih.
*******
Di dalam kamar Kenzo langsung menuju kamar mandi, menghidupkan air shower dan dirinya duduk disana. Menikmati pancuran air yang terus mengguyur tubuhnya.
"Ini tidak adil Allisya, kenapa kamu melakukan ini sama aku" gumam Kenzo. Tak terasa air matanya menetes.
"Aku tidak bisa menikahi Vio"
Kenzo berdiri dari duduknya, mematikan air shower kemudian mengambil handuk yang tergantung di sana. Ia melepaskan seluruh pakaiannya kemudian kembali ke kamar.
Hari ini pikiran Kenzo benar-benar kacau, setelah berganti pakaian Kenzo langsung pergi. Entah kemana tujuannya sekarang yang jelas Kenzo ingin menenangkan diri.
"Mau kemana mas ?" tanya Vio saat melihat Kenzo hendak keluar.
__ADS_1
"Pergi" jawab Kenzo datar. Tak ada lagi keramahan yang di tunjukan oleh pria itu
"Aku ikut"
Tanpa menjawab ucapan Vio, -Kenzo langsung berlalu begitu saja. Hari ini ia ingin sendiri dan tak ingin di ganggu siapapun.
Melihat sikap dingin Kenzo membuat Vio begitu kesal, ia menghentakkan kedua kakinya berulang kali. Hingga tak berapa lama Vio merasakan perutnya begitu mual, dengan gerakan cepat Vio berlari kedalam rumah dan menuju wastafel yang ada di dapur.
Uweek-Uweekkk.
Vio memuntahkan isi perutnya, wajahnya mulai pucat dan keringat dingin membasahi keningnya.
Dara yang memang berada disana langsung mendekat, ia membantu memijit tengkuk Vio untuk merendahkan mual.
"Kamu kenapa mbak ?" tanya Dara.
"Minggir Lo ! jangan sok peduli" Vio justru mendorong tubuh Dara walau masih merasakan mual.
"Aku cuman ingin membantu mbak, apa mbak masuk angin ?"
Vio menegakkan kepalanya, kemudian mengelap bibir yang basah. Ia menatap Dara dengan tajam "Bukan urusan Lo"
Setelah mengatakan itu Vio langsung berlalu begitu saja. Dara menggelengkan kepalanya hingga Bibi Rus muncul membuat Dara mengalihkan tatapannya.
"Mbak Vio muntah lagi ya ?" tanya Bibi Rus.
"Lah kan bibi sering lihat dia muntah mbak, terus bibi sering di suruh beli rujak". jawab Bibi Rus "Seperti orang mengidam saja mbak" sambung Bibi Rus lagi.
Disana Dara mulai merasakan kejanggalan, dari sikap Vio yang terus mendesak Kenzo untuk menikahinya dan sekarang cerita dari Bibi Rus
"Ada yang tidak beres" batin Dara.
**********
Kenzo pergi ke perusahaan, jika pria lain jika sedang ada masalah akan pergi ke klub malam, berbeda dengan Kenzo yang justru menghabiskan waktu dan tenaganya di perusahaan.
Setiba di ruangan Kenzo langsung di sambung oleh Gio, pria itu heran karena Kenzo datang. Pasalnya tadi Kenzo sudah mengatakan kalau hari ini ia akan libur dulu.
"Sedang ada masalah tuan ?" tanya Gio saat melihat wajah tak bersahabat dari Kenzo.
"Tinggalkan aku sendiri Gi ! aku sedang banyak masalah" pinta Kenzo tanpa menjawab pertanyaan Gio.
Gio menurut, ia sangat mengenal Kenzo. Jika dirinya membantah maka Kenzo akan marah. Gio pun paham bagaimana marahnya Kenzo, di perusahaan ini Kenzo begitu di takuti.
"Kalau ada apa-apa panggil saya tuan" kata Gio sebelum meninggalkan ruangan Kenzo.
__ADS_1
Kenzo tak menjawab, ia memfokuskan matanya pada layar komputer. Membaca setiap email yang masuk dengan teliti. Ia pikir dirinya bisa melakukan pekerjaan dengan benar seperti biasanya, tapi kali ini tidak. Karena pikiran Kenzo hanya tertuju pada Dara.
"Aaaaahhhhh" Kenzo berteriak kemudian mengambil guci yang berada di atas meja kerjanya
Praanng.
Guci itu jatuh dan pecah berhamburan, Kenzo tak peduli walau ruangannya akan berantakan. Karena saat ini ia benar-benar frustasi. Memikirkan hubungannya dengan Dara dan soal amanat dari Allisya yang menurutnya tak masuk akal.
"Brengsek !!"
"Sialan !"
Umpatan demi umpatan terus Kenzo lontarkan, lantaran begitu marah dan kesal dengan keadaan hidupnya. Baru saja ia akan merasakan kebahagiaan bersama Dara, tapi masalah sudah menghadang.
Kenzo sadar di dalam kehidupan pasti akan terus ada yang namanya masalah, tapi bisa tidak untuk kali ini Kenzo meminta hubungan percintaan nya bisa berjalan sesuai keinginan nya.
Ia berdiri dari duduknya, berjalan ke arah jendela kaca yang besar. Kedua tangannya ia masukan ke sakit celana, matanya menatap ribuan gedung pencakar langit.
"Kenapa kamu tidak mau berjuang Ra ? jika saja kamu mau aku akan berusaha untuk terus menolak permintaan Vio"
********
Sore harinya sebuah mobil berhenti tepat di rumah Kenzo, tak berapa lama Ningrum keluar dan berjalan memasuki rumah. Ningrum tidak tahu kalau Wilda datang kerumahnya. Jadi saat melihat kehadiran Wilda di teras rumah ia begitu terkejut.
"Wilda" ucap Ningrum.
Wilda menoleh kemudian tersenyum kearah besannya itu.
"Akhirnya mbak Ningrum pulang juga"
"Kapan datang ?" tanya Ningrum
"Tadi pagi mbak"
"Oh" Ningrum menganggukkan kepalanya, kemudian mengajak Wilda masuk kedalam.
"Bi" Panggil Ningrum dengan suara lantang.
Bibi Rus langsung mendekat saat suara Ningrum terdengar.
"Iya Bu"
"Di mobil ada barang saya, tolong di bawa masuk ya !" pinta Ningrum.
"Baik Bu"
__ADS_1
"Makasih Bi"
Wilda heran kenapa tidak menyuruh Dara saja, padahal Dara sedang tidak ada kerjaan disana.