Pelabuhan Hati Sang Duda

Pelabuhan Hati Sang Duda
Ancaman Ningrum


__ADS_3

Pertemuan Dara dengan Bibi Rus membuat Dara kembali mendapatkan info tentang kehamilan Vio. Tadi sebelum ia dan Bibi Rus berpisah, Dara meminta agar Bibi Rus merekam jika terjadi pembicaraan antara Vio dan Mama Wilda jika menyangkut tentang kehamilan.


Kini, wanita cantik itu tengah duduk di atas ranjang tempat tidur. Setelah pulang dari bertemu dengan bibi Rus. Dara mencari cara supaya bisa menemukan siapa pria yang menghamili Vio.


"Aku harus secepatnya cari tau siapa pria itu, sebelum pernikahan Mas Kenzo dan Vio terjadi" Dara bergumam, sambil menggigit kuku telunjuknya yang baru saja dapat perawatan.


"Apa minta tolong sama Mas Tama aja ?" Dara berpikir sejenak, harusnya ia melibatkan sang Kakak untuk mengatasi masalah ini.


"Coba aja deh, siapa tau mas Tama bisa bantu"


Dengan mengumpulkan keberanian, Dara mulai menekan tombol memanggil di layar ponselnya. Ia menarik napas panjang saat panggilan sudah terhubung.


"Ada apa dek ?" Itu adalah kata penyambutan dari Tama.


"Emm" Dara terlihat ragu, tapi hati kecilnya mengatakan kalau membutuhkan bantuan Tama.


"Apa ?, Bicara yang jelas !" Tegas Tama di seberang sana.


"Boleh Dara minta tolong ?"


"Apa ?"


Dara mulai menceritakan setiap masalahnya, bahkan ia jujur saja saat Tama bertanya apa hubungan Dara dengan Kenzo.


"Please" begitu kata Dara saat mendapat penolakan dari Tama. Ternyata kakak nya itu tidak setuju dengan kisah cinta Kenzo dan Dara.


"Bukankah kamu bilang kalau kalian tidak punya hubungan lagi ?, Jadi buat apa kamu melakukan ini ?. Biar saja dia mau nikah sama siapa saja"


"Aku masih cinta sama dia mas"


"Dia duda Ra, sedangkan kamu masih gadis. Kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari dia"


Benar memang kata Tama, jika Dara mau dia bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari pada Kenzo. Tapi hati Dara sudah sepenuhnya untuk Kenzo membuat wanita itu sulit untuk berpaling.


"Mas akan bantuin kamu tapi ada syaratnya" kembali suara Tama terdengar di ujung telepon.


"Apa ?" Tanya Dara.


"Setelah mas menemukan siapa pria itu, kamu harus mau tinggal sama mas disini untuk sementara. Bantu mas mengembang bisnis Papa yang baru saja di bangun"

__ADS_1


Dara langsung terdiam, syarat dari Tama entah kenapa bagai musibah untuk Dara. Jika ia harus tinggal dengan Tama di luar negeri, lalu bagaimana dengan perasaannya dengan Kenzo.


Lama Dara terdiam, menimbang syarat yang di ajukan sang Kakak. Jika ia menolak lalu kepada siapa Dara harus minta tolong untuk mencari tau siapa Ayah dari anak yang Vio kandung. Dan Dara juga tau kalau meminta pertolongan Tama adalah pilihan yang tepat karena sudah yakin dalam waktu 24 jam Tama pasti akan mendapatkan info tentang Vio.


"Ya aku akan tinggal disana dan membantu mas Tama untuk mengurus bisnis Papa" jawaban penuh keterpaksaan Dara lontarkan. Ia tak punya pilihan lain selain menurut. Lagian belum tentu ia dan Kenzo akan kembali bersama walau dirinya telah membongkar kelicikan Vio. Mengingat betapa bencinya Kenzo pada Dara.


"Nah gitu dong, ok nanti mas kirim info tentang orang itu. Kamu kirim saja nama lengkap nya dan foto orang itu di WA"


Beberapa saat kemudian panggilan terputus. Dara kembali menarik napas panjang saat merasakan dadanya terasa amat sesak. Bahkan kamar nya yang begitu luas tak cukup untuk ia mengambil napas dengan tenang.


*


*


*


Malam itu setelah mengantongi izin dari dokter akhirnya Neysa sudah di perbolehkan pulang. Wajah cantik putri semata wayang Kenzo itu masih di tutupi dengan wajah pucat. Namun dokter sudah mengatakan kalau Neysa sudah baik-baik saja, hanya perlu istirahat yang banyak.


"Apa kakak cantik sudah di rumah ?" Tanya Neysa, matanya di arahkan pada Kenzo dan Mama Ningrum bergantian .


"Belum sayang" balas Kenzo cepat.


"Aku mau ketemu sama kakak cantik" gumam Neysa pelan, namun masih bisa di dengar oleh Kenzo dan Mama Ningrum.


Menarik napas panjang, Kenzo mengusap wajahnya dengan gusar. Mendengar gumaman Neysa membuat separuh hatinya semakin terluka, ucapan itu bagai belati tajam yang menusuk hatinya.


Sakit.... Tapi Kecewa


Mungkin itulah yang dirasakan oleh pria beranak satu itu, di saat ia tengah mencintai Dara dengan segenap hati tapi ia harus menelan pil pahit saat mengetahui siapa Dara sebenarnya.


"Besok, kita coba temui kakak ya sama nenek" ucapan Mama Ningrum membuat Kenzo tersadar, ia menatap sang Mama dengan pandangan sinis tapi sedikitpun Mama Ningrum tak menghiraukan.


"Nenek janji" kini jari kecil Neysa mengarah kepada Mama Ningrum, berharap ucapan nenek nya itu dapat ia percaya.


"Insya Allah sayang" Balas Mama Ningrum.


"Ney ingat pesan dokter, kalau Neysa harus banyak istirahat dan tidak boleh kemana-mana, jadi singkirkan dulu pikiran untuk menemui kakak cantik" Kenzo menyahut, seraya menekankan setiap kalimat yang ia lontarkan.


Sebisa mungkin Kenzo akan menghalangi pertemuan Neysa dengan Dara. Ia berharap putrinya akan melupakan Dara.

__ADS_1


"Iya Pa" balas Neysa dengan suara lemah.


"Bagus, sekarang ayo pulang"


*


*


*


Kini mobil Kenzo sudah berhenti tepat di depan rumahnya. Di teras rumah tampak bibi Rus tengah berdiri untuk menyambut kepulangan Neysa.


"Alhamdulillah non Neysa udah sembuh" ucap Bibi Rus menampilkan senyum.


Neysa membalas senyuman, tapi tidak berniat membalas ucapannya.


"Tolong bantu bawakan barang Neysa ya Bi !" Pinta Kenzo sopan.


"Baik tuan"


Kenzo berjalan duluan, sementara Mama Ningrum menyusul di belakang sambil menggendong Neysa. Saat melewati ruang tamu Kenzo melihat Mama Wilda sedang duduk santai dengan mata tertuju pada layar televisi.


Sebenarnya Mama Wilda tau kalau Neysa pulang malam ini, hanya saja ia terlalu malas untuk menjemput.


"Kok bisa ya duduk santai seperti ini, padahal cucu nya masuk rumah sakit" Mama Ningrum menyindir. Ia sudah terlalu jengah melihat kehadiran besan nya itu.


Mendengar kalau Mama Ningrum menyindir dirinya, Mama Wilda tampak biasa saja, sedikitpun wanita itu tidak menunjukan kekesalan.


"Ney mau tidur sama nenek gak ?" Mama Wilda merentangkan kedua tangannya hendak mengambil Neysa setelah berdiri dari duduknya. Tapi Neysa menolak dengan gelengan kepala.


"Ya sudah kalau Neysa gak mau sama Nenek, jadi nenek ke kamar duluan"


Wanita paruh baya yang memakai daster tersebut meninggalkan ruang tamu, padahal televisi masih menyala membuat Mama Ningrum semakin geram.


"Dia kira ini rumahnya apa" gerutu Mama Ningrum.


"Sabar Ma" Kenzo berucap, berharap sang Mama bisa memaklumi sikap Mama Wilda.


"Mau sampai kapan Mama sabar Ken !, Pokoknya mama tidak setuju kamu menikah dengan Vio. Kalau kamu melanggar jangan pernah bicara sama Mama lagi"

__ADS_1


"Ma...."


__ADS_2