Pelabuhan Hati Sang Duda

Pelabuhan Hati Sang Duda
Pulang kerumah


__ADS_3

Dengan menaiki sebuah taksi Dara menuju rumahnya, selama perjalanan pikirannya terus tertuju pada Neysa yang tadi menangis saat ia tinggalkan. Dara berjanji tidak akan pergi lama.


Mobil berhenti tepat di depan pagar besi yang menjulang tinggi, usai membayar ia langsung menggedor pintu pagar agar di buka oleh Satpam di rumahnya.


"Alhamdulillah non Dara pulang juga, Tuan dan Nyonya udah panik non"


Begitu yang Dara dengar saat pintu pagar terbuka, ia hanya membalas dengan senyuman lalu masuk kedalam rumah untuk bertemu kedua orang tuanya.


Setiba di ruang tamu ia melihat sang Mama sedang duduk termenung. Layar televisi masih menyala entah sedang membahas masalah apa.


"Mama" Panggil Dara.


Tatapan kosong itu perlahan terjaga, Syerli mendongak, kemudian terkejut saat melihat putri nya sudah berdiri di hadapannya.


"Dara" pekik Syerli, ia berdiri dan langsung memeluk erat tubuh Dara.


"Akhirnya kamu pulang juga nak, maafkan Papa karena memaksa kamu menikah dengan Rendi"


"Iya Ma, aku udah maafin Papa kok"


Dara melepaskan pelukannya, ia hapus air mata yang menetes membasahi pipi sang Mama, sungguh Dara tidak rela wanita yang telah melahirkan nya dan juga membesarkannya menetes kan air mata.


"Kamu dari mana ? kamu baik-baik saja kan ?"


Tubuh Dara di periksa oleh Syerli, ia takut putrinya kenapa-napa di luar sana.


"Aku baik-baik saja Ma, gak usah khawatir!"


"Bagaimana Mama gak khawatir sayang, kamu anak gadis Mama satu-satunya"


Dara terkekeh, lalu menuntun Syerli untuk kembali duduk di sofa.


"Bisa gak Mama suruh Papa pulang sekarang ?" tanya Dara.


"Mama telefon dulu"


Syerli langsung menghubungi sang suami untuk menyuruh nya pulang, ia juga mengatakan kalau Dara sudah kembali.

__ADS_1


"Bagaimana Ma ?"


"Papa sedang di jalan, tunggu sebentar"


Entah kenapa rasanya sang Papa sangat lah lama, Dara sudah gelisah, ia ingin segera kembali dan bertemu Neysa, anak cantik itu membuat Dara merasakan rindu...


Setelah sekian lama menunggu akhirnya Mario tiba, sama seperti saat pertama bertemu Syerli tadi. Dara juga memeluk sang Papa dengan erat, minta maaf karena sudah membuat semuanya khawatir.


"Papa janji tidak akan memaksa kamu lagi nak" ucap Mario penuh penyesalan.


"Makasih Pa, tapi Dara belum bisa pulang sekarang, ada pekerjaan yang harus Dara selesai kan dulu"


"Pekerjaan apa ? dan kenapa tidak bisa pulang nak ?" sahut Syerli menatap putrinya intens.


Dara pun menceritakan kalau saat dirinya kabur, ia mengaku dari kampung hingga akhirnya ia terjebak ikatan kontrak untuk menjadi pengasuh Neysa.


Mendengar putrinya bekerja sebagai baby sitter tentu saja Mario tak terima, Dara adalah putrinya dan menurutnya Dara tidak pantas bekerja seperti itu.


"Papa tidak setuju kamu kerja baby sitter" ucap Mario


"Mama juga, itu akan membuat kamu kecapekan nak, pokoknya kamu pulang dan berhenti bekerja disana, kalau mereka menuntut Papa pasti bisa bayar" sahut Syerli


"Iya papa memang tidak akan memaksa kamu lagi, tapi jangan kerja sebagai baby sitter juga nak. Dimana martabat Papa kalau semua orang tau kamu kerja sebagai baby sitter"


"Tidak akan ada yang tau Pa, Dara yakin hal itu. Makanya Papa hapus semua berita tentang kehilangan itu"


Mario dan Syerli saling tatap, mereka begitu sulit menyetujui keinginan putrinya yang terus ingin melanjutkan pekerjaannya sebagai baby sitter. Menurut mereka Dara tidak pantas bekerja seperti itu, ia lulusan terbaik dan perusahaan sang Papa juga membutuhkan Dara.


"Aku mohon Ma, Pa. Janji Dara tidak akan lama bekerja disana, di kontak kerja hanya satu tahun. Nanti setelah satu tahun Dara akan pulang dan berhenti bekerja"


Mario menarik napas berat, ini pilihan cukup sulit untuk nya. Selain takut ada yang mengetahui status Dara, ia juga takut kalau ternyata Dara bekerja di pesaing bisnisnya.


"Anak itu sudah kehilangan Mama nya dari bayi, pertama ketemu Dara dia sudah lengket banget, tadi aja saat Dara tinggal dia nangis. Apa Mama dan Papa tega dengan anak sekecil itu"


Dara kembali merayu, berharap kedua orang tuanya menyetujui keinginan nya. Kalau di pikir memang orang tua mana yang setuju putrinya bekerja sebagai baby sitter, apalagi Dara bukan berasal dari kalangan bawah melainkan berasal dari keluarga kaya yang bisa membeli apapun.


"Please" kali ini Dara mengantupkan kedua tangannya, memohon dengan sangat kepada Mama dan Papa..

__ADS_1


"Janji cuman satu tahun !" ucap Syerli


"Janji Ma, setelah satu tahun Dara akan pulang dan melanjutkan bekerja di perusahaan Papa"


"Ya sudah Mama izinkan" kata Syerli terpaksa.


"Ma apa-apaan sih, kan Papa belum ngambil keputusan" sahut Mario tak terima karena sang istri main setuju saja.


"Biarkan saja Pa, Entar kalau di larang Dara kabur lagi."


Dara tersenyum lalu memeluk sang Mama "Makasih Ma, Mama memang yang terbaik" ucapnya dengan raut bahagia.


"Ya sudah Papa setuju juga, tapi kamu bawa ponsel kamu, biar Papa dan Mama bisa hubungin kamu". ujar Mario yang akhirnya juga ikut menyetujui.


"Nanti aku beli ponsel biasa saja Pa, kalau aku bawa ponsel aku nanti penyamaran aku bakalan ketahuan, masa anak dari kampung ponselnya mewah" jelas Dara.


"Hu, terserahlah. Asal yang penting kamu bahagia"


Usai menjelaskan semuanya, Dara minta langsung pergi. Tapi sang Mama menahan karena ingin makan malam dulu dengan Dara. Ia tak bisa menolak karena kalau Dara menolak Syerli tidak akan mengizinkan dirinya bekerja sebagai baby sitter.


Dan entah kenapa waktu terasa sangat lambat bagi Dara, ia terus melirik jam dinding dan waktu masih menunjukan pukul lima tiga puluh. Yang artinya makan malam masih lama. Karena jadwal makan malam di rumahnya selesai isya.


"Neysa pasti nyariin aku, dan Mas Kenzo pasti sudah pulang juga. Aduh alasan apa yang harus aku katakan kalau nanti pulang kesana" batin Dara.


Melihat putrinya yang terus gelisah, Syerli akhirnya mendekat. Ia belai rambut panjang Dara kemudian berkata.-


"Pergilah kalau memang kamu begitu mengkhawatirkan anak itu, Kabari Mama sesegera mungkin kalau terjadi apa-apa!" ucap Syerli.


"Mama serius ?"


"Iya nak, karena sepertinya kamu gelisah terus dari tadi"


"Makasih Ma, memang Dara kepikiran terus sama Neysa, dia nangis saat Dara tinggal"


"Makanya pergilah ! dia pasti nungguin kamu"


Dara langsung berdiri, mencium punggung tangan sang Mama dan memeluk nya dengan erat, setelah itu ia berlari keluar rumah untuk segera kembali ke rumah Kenzo.

__ADS_1


Dara berharap Kenzo tidak akan marah karena dirinya pulang telat.


__ADS_2