Pelabuhan Hati Sang Duda

Pelabuhan Hati Sang Duda
Neysa sakit


__ADS_3

Sudah dua hari Dara meninggalkan rumah itu, membuat keadaan sangat berbeda. Apalagi di wajah Kenzo, pria itu kembali bersikap dingin dan bahkan lebih banyak diam.


Hari ini seperti biasa Kenzo akan kembali bekerja, saat ia sedang memasangkan dasi, pintu kamar di buka dengan kuat, di susul kemunculan Ningrum dengan wajah penuh kekhawatiran.


"Ken, cepat bawa Ney kerumah sakit ! Badannya panas sekali, mama takut dia kenapa-napa" ucap Ningrum.


Mendengar hal itu ia langsung berlari keluar kamar, menuju kamar Neysa dengan penuh ketakutan.


Setiba disana Kenzo melihat putrinya sudah di gendong oleh Wilda. Pria itu mendekat hendak mengambil alih menggendong putrinya.


"Biar saya saja Ma" ucap Kenzo.


Wilda memberikan Neysa, hawa panas dapat Kenzo rasakan. Membuatnya semakin khawatir. Namun gumaman Neysa membut Kenzo tertegun.


"Aku mau ikut kakak"


Begitu yang Kenzo dengar dari bibir mungil anaknya, hampir tak terdengar memang karena suara itu begitu kecil.


"Apa kamu merindukan Dara sayang ?, kalau iya kamu sama dengan Papa" batin Kenzo lirih


"Tunggu apalagi ayo bawa Neysa kerumah sakit" kata Wilda yang heran melihat Kenzo justru terdiam.


"Baik Ma"


*


*


Setiba di rumah sakit, Kenzo kembali menggendong Neysa masuk kedalam rumah sakit. Sementara Wilda, Ningrum dan Vio mengikuti dari belakang.


"Ada apa ini ?" tanya seorang suster.


"Anak saya demam, badannya panas" jawab Kenzo.


"Bawa ke IGD, kebetulan sedang ada dokter yang menunggu disana, jadi bisa langsung di tangani"


Kenzo mengangguk, ia mengikuti langka kaki suster menuju ruangan IGD, di sana Kenzo di minta menidurkan Neysa keatas brankar.


Dokter langsung memeriksa keadaan Neysa, setelahnya ia menatap Kenzo.


"Demamnya sangat tinggi, detak jantungnya begitu cepat. Sebaiknya anak bapak di rawat dulu sampai demamnya turun" jelas dokter itu.


"Silahkan dok, lakukan apa saja supaya anak ku sehat"


"Baik" balas dokter itu lagi "Sus segera siapkan ruangan"

__ADS_1


"Baik dok"


*


Kini Neysa sudah di pindahkan keruang rawat, cairan infus sudah mengalir di tangannya. Wajah anak itu sangat pucat, serta bibir yang terlihat membiru.


Di ruangan itu hanya ada Ningrum dan Kenzo, sementara Wilda dan Vio pamit pulang.


"Kata Bibi Rus dari semalam Ney mengigau dan selalu manggil nama Dara" kata Ningrum yang saat itu duduk di samping ranjang Neysa, wanita paruh baya itu menggenggam tangan cucunya yang terasa dingin.


"Terus ?" tanya Kenzo berusaha mengabaikan ucapan sang Mama, ia ingin menepis pikirannya kalau Neysa sakit karena merindukan Dara.


"Tidak kah kamu ingin mempertemukan Ney dengan Dara. Mama yakin Neysa seperti ini karena merindukan Dara"


"Ini bukan karena Dara ma, lagian selama di tinggal Dara, dia baik-baik saja. Mungkin Ney hanya demam biasa"


"Tapi Ken---"


"Ma stop, aku tidak mau bertemu dengan wanita pembohong itu lagi, Kenzo benci sama dia"


Ningrum menarik napas dalam-dalam, Kenzo masih dalam amarahnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang.


"Lagian aku akan menikah dengan Vio minggu depan"


"Kenapa kamu memutuskan sendiri tanpa berunding dulu dengan Mama? " tanya Ningrum cukup kesal.


"Buat apa Ma, tak ada gunanya kita berunding karena aku akan tetap menikahi Vio"


Ningrum kembali menarik napas panjang, ia memang tak berhak ikut campur dengan kehidupan Kenzo, tapi jujur saja ia tidak setuju jika putranya menikah dengan Vio.


"Kamu sudah yakin dengan kepusanmu? " tanya Ningrum lagi.


"Entahlah Ma, tapi aku tidak bisa menolak karena ini permintaan Allisya"


"Apapun keputusan kamu, mama doakan semoga ini yang terbaik"


Kenzo meringis mendengar doa sang Mama, ia tau Kalau mamanya tidak setuju ia menikah dengan Vio. Tapi Kenzo tak ada cara lain untuk menolak.


*


*


Sejak kemaren pikiran Dara tak tenang, ia terur memikirkan Neysa. Apalagi rasa khawatir yang kian melanda padahal ia sendiri tidak tau penyebab nya.


Ingin sekali Dara menghubungi Kenzo untuk menanyakan kabar Neysa, tapi Dara tak punya keberanian yang cukup untuk melakukan itu. Dara juga yakin Kenzo tak akan menjawab teleponnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa nak? sejak kemaren Mama lihat kamu gelisah" tanya Syerli yang menghampiri putrinya, ia pun duduk di sebelah Dara.


"Enggak tau Ma, Dara juga bingung kenapa"


"Coba kamu jalan-jalan, mungkin kamu suntuk di rumah. Atau mau mama temenin? "


Dara menggelengkan kepalalnya "Males Ma, aku mau di rumah aja."


Semenjak pulang, Dara belum pernah keuar rumah. Wanita itu sering mengurung diri di kamar . Jika Mario mengajaknya ke perusahaan Dara akan menolak dengan berbagai alasan.


"Coba saja Dara ini bukan anak Mama dan Papa"


Kening Syeri mengkerut dalam "Kamu gak mau jadi anak kami? "


"Bukan begitu Ma, coba aja kalau kita bukan orang kaya, Iiihhh susa ah mau jelasin" Dara berdiri dari duduknya dan langsung berlalu dari hadapan sang Mama.


Syerli menatap kepergian Dara "Ada apa dengan anak itu?, semenjak pulang dari tempatnya bekerja ia jadi begini. Apa tempat nya bekerja begitu nyaman sehingga Dara begitu betah? "


*


Di dalam kamar, Dara menghempaskan tubuhnya dengan kasar di tempat tidur. ia menatap Langit-langit kamar yang berwarna putih.


"Kenapa aku selau kepikiran dengan Neysa ya? "


"Semoga saja dia baik-baik saja disana"


Triiiing.


Ponsel nya tiba-tiba berbunyi, membuat Dara mencari benda itu. Entah kemana ia melemparnya tadi.


Setelah di temukan Dara melihat layar ponselnya.


"Dara ini tante Ningrum, saat ini Neysa sakit, badannya panas. Dia selalu menyebut nama kamu. Bisakah kamu kerumah sakit? "


Pesan singkat itu berhasil membuat kedua bola mata Dara membulat. Sekarang terjawab sudah apa yang membuatnya gelisah sejak kemaren. Ini karena Neysa sakit.


Dengan buru-buru Dara langsung bangkit lalu berjalan mengambil tas kecilnya untuk tempat ponsel , tak lupa kunci mobil kesayangannya.


"Mau kemana Ra? " tanya Syerli saat melihat putrinya keluar dengan buru-buru.


Dara berhenti lalu menoleh "Kerumah sakit Ma"


"Siapa yang sakit? "


"Neysa" jawab Dara kemudian berlalu dari sana.

__ADS_1


__ADS_2