
Kenzo masih menganga lebar mendengar ucapan Rendi. Ia menatap ke arah Dara dimana saat ini wanita itu sedang menunduk dengan tubuh bergetar.
"Katakan padaku Ra ! Kalau ucapan Rendi tadi salah" ucap Kenzo yang sekarang sudah berdiri disamping Dara.
"Maaf mas" jawab Dara dengan suara lirih.
"Kenapa minta maaf Ra ?, katakan saja kalau Rendi itu berbohong dan kamu bukanlah putri Tuan Mario"
Dara mengangkat kepalanya saat mendengar bentakan Kenzo yang menggema, wanita itu menatap wajah Kenzo yang menahan amarah.
"Ucapan Rendi benar mas, aku memang anak Papa Mario"
Kenzo langsung terdiam, mencerna setiap ucapan yang Dara lontarkan. Ia masih ingin menepis semuanya kalau Dara bukan anak Mario melainkan gadis desa yang selama ini ia kenal.
Tapi ucapan Rendi dan pengakuan Dara terus terngiang di kepalanya, membuat pria itu frustasi sendiri.
"Jadi selama ini kamu membohongiku dan Mama ? Kamu tega Ra, kenapa kamu merusak kepercayaan kami"
"Maafkan aku mas, aku melakukan ini karena ada alasannya. Aku kabur dari rumah untuk menghindari perjodohan ku dengan Rendi" jelas Dara sambil memegang lengan Kenzo tapi dengan cepat pria itu menepis tangan Dara.
"Jangan sentuh aku ! Dasar pembohong besar" kembali Kenzo membentak Dara.
Tak terima dengan kelakuan Kenzo, -Rendi pun mendekat. Sebagai laki-laki yang mencintai Dara ia tentu tak terima jika Dara di bentak seperti itu.
"Cukup Ken ! kamu tak berhak menyalahkan Dara seperti ini, kamu harus ingat dia ini putri Tuan Mario orang paling berkuasa di negara ini"
Kenzo menoleh ke arah Rendi. Pria itu menatap tajam.
"Bawa wanita ini pergi dari rumah ini ! Aku tak ingin melihatnya lagi" pinta Kenzo.
Mendengar hal itu Dara langsung meraih tangan Kenzo.
"Mas tolong jangan usir aku ! Aku masih ingin disini, bagaimana dengan Neysa jika aku pergi" ucap Dara memohon.
"Neysa putriku jadi aku bisa menjaganya. Kamu tidak perlu repot-repot untuk menjaga putriku"
"Lalu bagaimana dengan hubungan kita mas ?"
"Lupakan semua itu, karena mulai saat ini kita tak punya hubungan apa-apa lagi"
__ADS_1
Dara langsung terdiam dengan air mata yang sudah menetes dengan deras. Semudah itu Kenzo memutuskan hubungan mereka.
Saat suasana masih menegang, Ningrum dan Wilda datang. Kedua wanita paruh baya itu baru saja habis dari luar. Melihat Dara menangis Ningrum langsung mendekat, tapi langkahnya langsung di hentikan oleh Kenzo.
"Jangan dekati pembohong itu Ma !" ucap Kenzo begitu menyakitkan bagi Dara.
"Kenapa Ken ? Apa kalian ada masalah ?" tanya Ningrum menatap Kenzo dan Dara bergantian.
"Dia sudah bohongi kita semua Ma, dia bukan gadis desa seperti yang kita kenal selama ini"
"Maksudnya ?"
"Dara ini anaknya tuan Mario, pengusaha sukses dan paling di takuti"
Walau tak terlalu mengenal siapa Mario, tapi Ningrum tau bagaimana kekuasaan Mario di kota ini. Wanita itu menatap Dara dengan intens.
"Bukan maksud Dara membohongi tante dan mas Kenzo. Waktu itu Dara kabur karena menghindari perjodohan yang Papa buat" sahut Dara dengan napas tersenggal. Dadanya terasa amat sesak sekarang.
"Silahkan kemasi barangmu ! Dan pergilah dari rumah ini" kembali suara Kenzo terdengar.
"Apa kamu yakin akan mengusir Dara ?" tanya Ningrum.
Dara mengepalkan kedua tangannya, tak ada cara lain selain pergi dari rumah ini, meyakinkan Kenzo bukanlah hal yang mudah bagi Dara.
"Aku akan pergi mas, terima kasih sudah membuatku bahagia selama ini" ucap Dara lirih.
Wanita itu berjalan menuju kamarnya, meninggalkan semua orang dengan perasaan campur aduk. Tapi ada dua orang yang bahagia melihat kepergian Dara.
Walau kaget dan tak percaya tapi ini merupakan momen membahagiakan bagi Vio dan Wilda. Karena jika Dara pergi tak akan ada lagi yang menghalangi rencana mereka untuk membuat Kenzo menikahi Vio.
"Gue pikir dia anak desa beneran, tak taunya anak konglomerat" batin Vio merasa isi dengan status Dara.
*******
Usai memasukan pakaiannya Dara keluar kamar, air matanya masih terus menetes membasahi pipinya.
Di depan pintu kamarnya, ada Neysa yang berdiri sambil memeluk boneka hello kity kesukaannya, anak perempuan itu menatap Dara.
Dara mencoba tersenyum, ia duduk untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Neysa, telapak tangannya mengelus pipi Neysa dengan lembut. Mungkin hari ini adalah hari terakhirnya bertemu dengan Neysa.
__ADS_1
"Kakak mau kemana ? Tadi Ney dengal Kakak akan pelgi" tanya Neysa dengan suara cadalnya.
"Iya sayang, kakak harus pulang kerumah Kakak. Ney baik-baik disini ya ! Nurut sama Papa !"
"Ney ikut kak" tak di sangka Neysa langsung menangis membuat dada Dara terasa semakin sakit. Ia menarik tubuh Neysa kedalam pelukan.
"Gak bisa sayang, kamu disini saja ! Ada Papa dan nenek yang jagain Ney" kata Dara dengan suara serak.
"Aku ikut" balas Neysa yang semakin mengeratkan pelukannya.
Saat keduanya sedang berpelukan dengan erat, tiba-tiba tubuh Neysa di angkat oleh Kenzo, membuat pelukan mereka terlepas begitu saja.
"Aku mau ikut kakak Pa " ucap Neysa sambil menangis.
Tapi Kenzo tak menjawab, ia menatap Dara semakin tajam "Tunggu apa lagi ? Sekarang pergilah yang jauh !"
"Iya mas, jaga Neysa dengan baik ! Maaf jika aku menyakiti mas. Tapi percayalah tak ada niat sedikitpun untuk membohongi mas selama ini" balas Dara.
Melihat air mata Dara yang menetes semakin deras, entah kenapa ada rasa bersalah di hati Kenzo. Tapi ia menepis semua rasa itu kemudian memalingkan wajahnya ke arah lain.
Dara berlalu dari hadapan Kenzo dan Neysa, ia semakin sakit saat mendengar teriakan Neysa yang memanggil namanya. Dara ingin kembali lalu meraih tubuh Neysa, tapi ia ingat kalau kehadirannya sudah tak di harapkan lagi oleh Kenzo.
Sebelum mencapai pintu utama, Dara memeluk Ningrum dengan erat, selama ini ia sudah menganggap Ningrum ibunya sendiri.
"Tante gak marah sama Dara, mungkin Dara punya alasan kenapa melakukan itu" ucap Ningrum dengan suara serak menahan tangis.
"Sekali lagi maafkan Dara Tan !"
"Iya sayang, terima kasih sudah menyayangi Neysa selama ini, dia pasti sedih sekali karena kehilangan kamu"
Bukan hanya Neysa, -Dara pun merasakan hal yang sama.
Dara melepaskan pelukannya, kemudian menatap Vio dan Wilda. Kedua wanita itu tersenyum mengejek ke arah Dara.
"Ayo Ra" ajak Rendi hendak mengambil tas milik Dara.
"Tidak perlu, aku akan pulang dengan taksi" balas Dara yang menunjukan kebenciannya terhadap Rendi.
Dara meninggalkan rumah itu, rumah yang sudah banyak melukis kenangan dalam hidupnya. Rasanya sakit sekali harus pergi dengan cara seperti ini. Apalagi Kenzo yang memutuskan hubungan mereka tanpa memberikan Dara kesempatan untuk menjelaskan.
__ADS_1