
"Assalamualaikum" seru Dara saat tiba di rumahnya.
Mama Syerli yang saat itu sedang duduk di ruang tamu sambil menonton televisi langsung berdiri, saat mendengar suara putrinya. Senyumnya langsung mengembang saat melihat Dara pulang.
"Dara" ucap Syerli
"Ma" Dara menyahut, kemudian memeluk wanita paruh baya itu dengan erat.
"Akhirnya kamu pulang juga sayang, mama rindu banget sama kamu"
"Aku juga sangat merindukan mama"
Dara melepaskan pelukan, menatap sang Mama dengan intens. Kening Syerli mengkerut saat melihat kedua mata Dara berkaca-kaca, dan sedetik kemudian putrinya itu langsung menangis sambil mendudukan diri di sofa.
"Ada apa sayang ? Kenapa kamu menangis ? Apa kamu tidak suka pulang kerumah ?" tanya Syerli beruntun, ia duduk di samping Dara lalu mengelus punggung Dara dengan lembut.
Dara menggelengkan kepalanya "Bukan begitu Ma, aku sedih karena di usir oleh mas Kenzo" ia terisak mengingat bagaimana perlakuan Kenzo tadi.
"Ini semua gara-gara Rendi" teriak Dara kemudian, jika saja tadi Rendi tak membongkar jati dirinya, ia tidak akan merasakan ini. Kenzo pasti tidak akan membencinya.
"Memangnya apa yang terjadi ?, kok kamu sebut nama Rendi ?" kembali Syerli mengajukan pertanyaan, ia semakin kebingungan.
"Rendi membobgkar jati diriku di hadapan mas Kenzo, hingga aku di usir dari rumah itu"
Semakin bingung saja Syerli saat ini, kenapa Dara begitu terpukul di usir oleh majikannya. Menurut nya itu adalah hal yang bagus jadi Dara bisa pulang lebih cepat.
Mungkinkah Syerli perlu berterima kasih pada Rendi ?.
"Sudah sayang, mungkin memang ini jalannya. Kamu istirahat sana ! Pasti kamu lelah" pinta Syerli yang tidak ingin bertanya lagi.
Dara mengangguk, mungkin ia perlu istirahat untuk menenangkan hatinya yang gunda.
"Aku ke kamar dulu Ma"
"Iya nak"
Meninggalkan tas miliknya yang tergeletak begitu saja di lantai, Dara melangkahkan kakinya menuju kamar. Ia membuka pintu kamar itu dengan pelan.
Tak bisa di pungkiri kalau Dara begitu merindukan tempat ini, sudah lama sekali ia tak tidur dan menghirup aroma wangi kesukaannya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Neysa ?, apa dia masih menangis ?" di saat seperti ini ingatan Dara terus tertuju pada Neysa. Ia masih ingat dengan tangisan Neysa yang menggema sambil memanggil namanya.
Rasanya ingin Dara membawa Neysa bersamanya, tapi itu tidak mungkin terjadi. Ia bukan siapa-siapa.
"Hah" Dara menarik napas dalam-dalam, telapak tangannya menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya. "Semoga kamu baik-baik saja Ney, kakak harap Papa kamu dapat istri yang lebih baik"
*
*
Malam berkunjung, di dekat kolam renang Kenzo duduk sendiri. Ia ingat tempat ini adalah tempat dimana ia dan Dara resmi menjadi sepasang kekasih.
Kenzo melirik kesamping, dimana Dara sering duduk disana. Sebenarnya hatinya cukup sakit saat mengakhiri hubungan mereka tadi.
Tapi kemarahan menguasai dirinya, Kenzo tidak terima dengan kebohongan Dara apapun alasan wanita itu. Sedikit terlintas pikiran anehnya kalau Dara menyamar menjadi pembantu untuk memata-matai perusahaannya.
Sialan.. !!
Umpatan itu terus meluncur begitu saja, satu tangan Kenzo menggepal, matanya menatap lurus kedepan.
"Mas Ken"
"Mas Ken ngapain disini ?" tanya Vio cukup lembut, tapi Kenzo enggan menjawab ia justru berdiri hendak meninggalkan Vio sendiri.
"Mau sampai kapan mas menghindar ?, mau sampai kapan mas menolak takdir ini ?. Kita harus menikah mas dan ini permintaan Kak Allis" teriak Vio yang berhasil menghentikan langka kaki Kenzo.
Pria itu kembali menoleh, menarik napas dalam-dalam lalu berjalan mendekati Vio.
"Tolong jangan bahas ini dulu Vi !, saat ini pikiranku sedang kalut" ucap Kenzo dengan lembut.
"Terus sampai kapan aku harus menunggu tanpa kepastian mas ?, apa kamu pikir aku mau menikah dengan mas untuk menggantikan posisi kak Allis ?" Vio menjedah ucapannya, ia menatap wajah Kenzo .
"Tidak mas, aku tidak mau di posisi ini. Asal mas tau aku rela meninggalkan kekasihku hanya untuk menikah dengan mas. Aku melakukan ini karena aku menyayangi kak Alli" sambung Vio lagi.
Kenzo diam untuk beberapa saat, ucapan Vio mungkin ada benarnya. Wanita itu tidak mungkin mau menjadi istrinya dan menjadi ibu sambung Neysa. Kenzo sangat hapal selerah Vio masalah pasangan, dulu Allisya sering menceritakan tipe cowok yang Vio sukai.
"Jangan mas pikir hanya mas yang terluka, aku pun sama" kata Vio lagi, senyum liciknya sedikit tersungging saat melihat raut wajah Kenzo yang merasa bersalah.
"Maaf Vi" hanya itu yang keluar dari mulut pria itu.
__ADS_1
"Kenapa minta maaf terus mas ?, maafmu tidak berarti apa-apa untukku, aku perlu keputusan mas"
Menarik napas dalam-dalam, Kenzo menatap Vio lagi.
"Ok, minggu depan kita akan menikah" ucap Kenzo dengan lantang, setelah mengatakan itu Kenzo berlalu dari hadapan Vio.
Senyum Vio terus mengembang, matanya masih menatap punggung kekar Kenzo yang perlahan menjauh. Kemudian telapak tangannnya mengelus bagian perut yang masih rata.
"Sebentar lagi kamu akan punya papa" gumamnya, lalu beranjak meninggalkan tempat itu.
*
*
Entah ini keputusan yang tepat atau keputusan yang salah besar untuk Kenzo. Yang jelas saat ini pria itu sedang frustasi sendiri.
Minggu depan ia akan menikahi Vio, adik iparnya sendiri. Tak ada jalan lain lagi untuk Kenzo apalagi wanita yang berhasil membuatnya jatuh cinta lagi justru menimbulkan luka terdalam.
Malam semakin larut, tapi mata Kenzo enggan tertutup. Ia tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamar yang berwarna putih.
"Mungkin ini jalan terbaik, lagian pasti kedua orang tua Dara akan kembali menjodohkan Dara dengan Rendi" gumam Kenzo.
Ia mengambil ponselnya di atas meja nakas, lalu melihat sosial media yang ia punya. Tak ada yang menarik disana, Kenzo pun beralih membuka WatshApp, jarinya menekan nomor Dara.
Disana status Dara sedang online, entah apa yang di lakukan wanita itu hingga belum tidur selaurut ini. Mungkin kah Dara menunggu pesan dari Kenzo. Begitu yang ada di pikiran pria itu.
"Kenapa belum tidur" jari-jari Kenzo mengetik di atas papan keyboard. Tapi secepat kilat ia kembali menghapusnya.
Kenzo ingat, ia dan Dara tidak punya hubungan apa-apa lagi. Wanita itu tidak pantas untuknya. Apalagi minggu depan ia dan Vio akan melangsungkan pernikahan. Jadi Kenzo harus menjaga perasaan Vio.
Blokir....
Kenzo akhirnya memilih jalan pintas, memblokir nomor Dara. Menurutnya ini jalan terbaik.
"Semoga kamu bahagia Ra"
"Maaf jika aku pernah menyakitimu"
Ia kembali meletakkan ponselnya di atas meja nakas, mencoba memejamkan mata walau sangat sulit. Ini hal yang Kenzo tak suka, ia akan sulit tidur jika sedang banyak pikiran.
__ADS_1