
Di halaman belakang rumah, ada sebuah kolam ikan kesukaan Kenzo. Disana ada Dara dan juga Neysa sedang melihat para ikan yang berenang kesana-kemari.
Bukan tanpa alasan Dara membawa Neysa kesini, karena sebentar lagi Mama mertuanya Kenzo akan datang. Dara yakin kalau wanita itu akan memaksa Kenzo untuk menikahi Vio.
"Jika memang dia bukan jodohku, tolong beri aku keikhlasan untuk melepaskannya Ya Allah" batin Dara lirih.
"Kakak kenapa ?" tanya Neysa saat melihat Dara terus terdiam
Dara menatap wajah Neysa, ia mencoba tersenyum walau sulit "Tidak apa-apa sayang" jawabnya berbohong.
Seandainya dulu Dara tidak jatuh cinta pada Kenzo, mungkin semua ini tidak ia rasakan.
Seandainya ia tidak menjalin hubungan dengan Kenzo, mungkin rasa sakit ini tidak akan ada.
Sekarang semuanya tinggal seandainya, karena semua itu terjadi begitu cepat. Rasa itu hadir begitu saja.
"Neysa"
Tiba-tiba terdengar suara Vio yang begitu nyaring memanggil Neysa, sontak Dara menoleh.
"Ney masuk yuk ! Ada nenek didalam" ajak Vio tanpa sedikitpun memperdulikan kehadiran Dara.
"Nenek sudah datang ?" tanya Neysa, ada raut kebahagiaan yang di pancarkan di wajah gadis kecil itu.
"Iya, makanya masuk bareng sama tante"
Neysa mengangguk kemudian beralih menatap Dara "Kakak cantik ikut juga"
"Tidak Ney, dia bukan bagian kelaurga kita" sahut Vio dengan cepat
Dara tersenyum menanggapi ucapan Vio, memang benar kata wanita itu kalau dirinya bukan siapa-siapa. Ia hanga baby Sitter Neysa.
"Ney masuk saja, kakak mau beresin mainan Ney" ucap Dara memberi pengertian.
"Nanti menyusul ya kak"
"Ok"
Tatapan mata Dara tak berpaling dari Vio dan Neysa yang berjalan menjauh. Kalau di lihat-lihat sepertinya memang Vio cocok jadi ibu sambung Neysa di banding dirinya. Vio pasti akan menyayangi Neysa seperti anak sendiri.
"Apa sebaiknya aku mundur dari sekarang ya ?" batin Dara.
Ting.
Ponsel Dara berbunyi, dengan gerakan cepat Dara melihat. Ada SMS masuk disana.
"TINGGAL SATU BULAN LAGI SAYANG, DAN KAMU HARUS PULANG SESUAI DENGAN JANJIMU"
__ADS_1
Begitu isi pesan yang masuk ke Ponsel Dara, pesan singkat dari Syerli yang mengingatkan Dara kalau waktunya sudah hampir habis.
Waktu memang cepat berlalu, membuat Dara harus benar-benar menyiapkan hati kalau dirinya dan Kenzo memang harus terpisah.
"Apapun jalannya nanti, ku harap kita memilki kebahagiaan masing-masing" kemnbali Dara membatin.
*********
Di ruang tamu.
Sejak tadi Wilda terus menciumi wajah cantik Neysa, ia sangat merindukan cucu nya itu karena memang sudah lama Wilda tak bertemu.
"Tambah cantik aja cucu nenek ini, udah jarang main tempat nenek" ucap Wilda seolah sedang menyindir Kenzo.
"Maaf ma, memang akhir-akhir ini aku sangat sibuk di perusahaan, makanya belum sempat main tempat Mama"
Merasa tersindir Kenzo langsung menyahut, ia bukan melupakan keluarga dari almarhum istrinya itu, hanya saja memang Kenzo sangat sibuk mengurus perusahaan.
"Mama kamu kemana ?" tanya Wilda saat tak melihat Ningrum disana.
"Sedang di luar kota, anaknya Bukde ada yang menikah" jawab Kenzo.
"Oh"
Suasana hening, saat Bibi Rus menghidangkan cemilan dan teh hangat.
"Di belakang tuan, sedang membereskan mainanan Non Neysa" jawab Bibi Rus.
Kenzo mengangguk, ingin rasanya ia membawa Dara duduk di dekatnya. Tapi Kenzo yakin kalau kekasihnya itu tidak mau.
Saat ini pikiran Kenzo sedang tidak enak, ia ingat dengan ucapan Dara tadi kalau wanita itu ingin mengakhiri hubungan mereka. Tapi Kenzo dengan keras.
"Kedatangan mama kesini untuk membahas soal amanat Allisya" tiba-tiba Wilda kembali membuka suara, membahas sesuatu yang sangat Kenzo benci.
"Aku sudah tau Ma" balas Kenzo, ia tidak ingin mendengarkan lagi semua itu, karena sampai saat ini Kenzo belum bisa percaya kalau istrinya memberikan amanat itu.
"Terus keputusan kamu apa ?"
"Maaf ma, Kenzo tidak bisa menikahi Vio. Dia sudah ku anggap adik sendiri, jadi bagaimana bisa kami akan menjadi suami istri"
"Kamu tidak bisa menolak Ken, ini amanat Allisya, kamu tau kan kalau amanat dari orang yang sudah tiada itu harus di laksanakan"
Kenzo langsung terdiam, memang menurut adat keluarganya seperti itu. Jika ada seseorang yang meninggal dan memberikan amanat maka harus di laksanakan.
"Vio ini cantik, dia pasti akan menjadi ibu sambung untuk Neysa dengan baik" sambung Wilda lagi.
"Tapi Kenzo tidak mencintai Vio"
__ADS_1
"Cinta akan tumbuh jika kalian sering bersama"
Kenzo menggeleng, ia benar-benar tidak bisa menikahi Vio.
"Maaf ma, Kenzo benar-benar tidak bisa"
"Ya sudah kalau kamu menolak, mama akan bawa Neysa dan kamu jangan pernah menemuinya lagi" ancam Wilda.
Tentu saja Kenzo kaget mendengar hal itu, bagaimana bisa Wilda akan melakukannya. Yang mengurus Neysa dari bayi sampai besar adalah Kenzo, dia juga Ayah kandung Neysa.
"Tidak bisa, aku yang membesarkan Neysa"
"Kenapa tidak bisa, hak asuh Neysa jatuh kepada kami. Kau harus ingat itu"
Kenzo ingat hal itu, dulu saat dirinya masih terpuruk karena kehilangan Allisya membuatnya tak bisa mengurus Neysa dengan baik. Ningrum pun sibuk menguru Kenzo sehingga Neysa terabaikan. Hingga akhirnya pengadilan memutuskan hak asuh Neysa jatuh kepada Wilda sebagai kedua orang tua Allisya.
"Iya aku ingat, tapi waktu itu mama sendiri yang menyerahkan Neysa"
"Mama melakukan itu karena mama kasihan sama keadaan kamu, makanya mama berikan Neysa lagi supaya kamu ada semangat hidup"
Vio tersenyum sinis, ia yakin kali ini Kenzo tidak akan menolak lagi. Cepat atau lambat Kenzo pasti akan menikahinya.
"Sekarang pilihan ada di tangan kamu, jika kamu masih mau bersama Neysa, maka menikahlah dengan Vio. Tapi kalau kamu menolak biarkan Neysa Mama bawa"
Sungguh ini pilihan yang sangat sulit, menikah dengan Vio adalah mimpi buruk dalam hidupnya. Tapi kalau dirinya menolak bagaimana dengan Neysa.
Kenzo tidak akan sanggup menjalani hari tanpa adanya Neysa.
"Kamu gak harus jawab sekarang, karena mama akan kasih waktu kamu sampai besok" kata Wilda lagi.
Kenzo tak mampu menjawab, atau bisa di bilang ia kehabisan kata-kata. Tak ada satupun kata yang ada di pikirannya.
"Ney mau ikut nenek ? Sekolahnya tempat nenek saja ?" tanya Wilda pada Neysa.
"Mau" jawab Neysa semangat.
Mata Kenzo memanas, menahan air mata supaya tak meluncur begitu saja.
"Saya permisi dulu" Kenzo berdiri dan berlalu dari ruang tamu.
Ia mencari Dara dan ingin memeluk wanita itu dengan erat.
"Ra" panggil Kenzo saat melihat Dara sedang membersihkan kolam renang.
Dara menoleh, meletakkan alat pembersih itu saat Kenzo berjalan mendekatinya.
"Ada ap---" belum selesai Dara melanjutkan pertanyaan nya, Kenzo sudah menarik tubuhnya kedalam pelukan.
__ADS_1
"Aku bingung Ra"