
Kenzo pulang saat tengah malam tiba, saat suasana rumah begitu sepi. Beruntung Bibi Rus belum tidur jadi bisa membukakan pintu untuk Kenzo.
Tanpa mengatakan apapun, Kenzo langsung berlalu masuk.
"Ada apa ya dengan Tuan Kenzo ? Tak biasanya dia bersikap dingin seperti ini" gumam Bibi Rus bingung melihat sikap Kenzo, padahal selama ini laki-laki itu begitu ramah terhadapnya.
Tak ingin berprasangka buruk, Bibi Rus lekas menutup pintu. Ia kembali masuk kedalam untuk melanjutkan pekerjaanya yang belum selesai.
******
Di dalam kamar, Kenzo duduk di pinggir ranjang. Sesekali ia menarik napas berat untuk meredahkan rasa sesak yang kian terasa.
Entah jalan apa yang harus ia tempuh supaya tak kehilangan dua wanita yang sudah menjadi bagian hidupnya. Neysa dan Dara. Kedua wanita itu sangat berarti untuk hidup Kenzo.
"Haaaaaa" ia menghembuskan napas berat, menurutnya ini sangat tidak adil. Menikah dengan Vio adalah mimpi terburuk untuknya.
Tok-tok-tok.
Kenzo menoleh saat telinganya mendengar pintu kamar di ketok, ia pun berdiri dan berjalan membuka pintu. Kenzo berharap orang itu bukanlah Vio.
"Mama" ucap Kenzo saat melihat sang Mama sudah berdiri di hadapannya.
"Boleh Mama masuk ?" tanya Ningrum.
"Hemmm" Kenzo menggeser tubuhnya, memberikan ruang supaya Ningrum bisa masuk kedalam kamarnya.
Wanita paruh baya yang Kenzo panggil dengan sebutan Mama duduk di pinggir ranjang. Kenzo mendekat lalu duduk di dekat Mama nya.
"Ada apa ? Tak biasanya kamu pulang larut malam seperti ini ?" tanya Ningrum.
Kenzo kembali menarik napas, kepalanya menunduk menatap lantai kamar.
"Ceritakan sama Mama ! Apa kamu begini karena kedatangan Wilda ?" kembali Ningrum mengajukan pertanyaan.
"Mama Wilda tetap menyuruhku menikah dengan Vio, kalau aku enggak mau mereka akan membwa Neysa pergi"
Mulut Ningrum menganga mendengar cerita anaknya.
"Terus keputusan mu apa ?, mama gak mau kehilangan Ney"
"Aku juga gak mau Ma, Ney adalah penyemangat ku menjalani hidup. Tapi kalau aku menikah dengan Vio bagaimana dengan Dara ? Aku juga sangat mencintai Dara"
Kini giliran Ningrum yang menghela napas, ia merasa kasihan dengan putranya itu. Terlalu banyak beban yang putrnya itu terima.
Ningrum mengelus punggung Kenzo dengan lembut. "Bicarakan baik-baik sama Dara nak ! Minta solusi sama dia !" ucap Ningrum memberi ide.
"Sudah Ma, tapi Dara tidak mau berjuang. Dia bahkan membiarkan aku menikah dengan Vio"
__ADS_1
"Dara mungkin tidak ingin terlalu jauh sakit hati" balas Ningrum
Kenzo terdiam, mungkin ucapan sang Mama ada benarnya juga. Dara mungkin tidak ingin terlalu jauh merasakan sakit. Apalagi Kenzo masih di landa kebingungan.
"Kamu istirahat ! ini sudah larut malam, tidak baik untuk kesehatan mu jika begadang" ujar Ningrum sambil berdiri dari duduknya.
"Percaya sama Mama, setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Saat ini mungkin belum kamu temukan, tapi esok atau lusa Mama yakin kamu bisa menemukan solusi"
Setelah mengatakan itu Ningrum meninggalkan Kenzo sendiri. Pria itu masih menudukan kepalanya.
-----------
Keesokan paginya, seperti biasa pagi-pagi sekali Dara sudah bangun. Melaksanakan sholat subuh kemudian membantu bibi Rus memasak.
Di dapur tampak bibi Rus sudah sibuk dengan pekerjaanya, memotong sayuran untuk di masak pagi ini. Dara pun mendekat.
"Masak apa Bi ?" tanya Dara
Bibi Rus menoleh, lalu tersenyum ke arah Dara.
"Mbak Vio minta di masakin Sayur Asam. Sama lele goreng mbak" jawab Bibi Rus. Kedua tanganya sibuk memotong sayuran di hadapannya.
"Aku bantu ya Bi"
"Boleh mbak"
"Semalam tuan Kenzo pulangnya larut sekali mbak, untung bibi belum tidur" ucap Bibi Rus.
Dara menghentikan kegiatannya sejenak, semalam ia tidak tau jam berapa Kenzo pulang. Bahkan Dara pun tidak tau kemana Kenzo pergi.
"Mungkin banyak kerjaan Bi" sahut Dara mencoba menebak.
"Mungkin mbak, namanya juga pemimpin perusabaan" Bibi Rus terkekeh pelan membuat Dara juga menyunggingkan senyumnya.
Beberapa saat kemudian, sayur asam dan lele goreng sudah siap, tak lupa sambal terasi racikan Dara sudah tersedia.
Satu persatu pernghuni Rumah keluar kamar, berjalan menuju meja makan untuk sarapan bersama. Sementara Dara menjemput Neysa di kamarnya. Sudah menjadi pekerjaan Dara untuk mengurus Neysa dengan baik.
"Assalamualaikum, selamat pagi cantiknya Kakak" sapa Dara sambil menampilkan senyum kebahagiaan.
Neysa mengucek kedua matanya, terlihat sekali kalau anak itu baru saja terbangun dari tidurnya.
"Kakak peluk" pinta Neysa dengan nada manja.
"Boleh" Dara mendekat, lalu memeluk dengan erat tubuh kecil Neysa.
"Kakak wangi"
__ADS_1
"Kan udah mandi Ney"
"Ya udah Ney juga mau mandi, biar wangi seperti Kakak"
Dara terkekeh pelan, Selama ini Neysa kerap sekali menirukan aktivitasnya. Bahkan tak jarang anak itu meminta pakaian yang sama seperti yang Dara kenakan.
Dan dengan senang hati Dara menuruti keinginan Neysa, apapun akan ia lakukan asal Neysa bahagia.
"Tidak lama lagi kita akan berpisah Ney, kakak harap kamu akan selalu bahagia nantinya" batin Dara sedih saat mengingat waktunya tidak lama lagi.
Neysa melepaskan pelukannya, ia menatap wajah Dara dengan seksama.
"Kok Kakak nangis? " tanya Neysa yang tak sengaja melihat cairan bening membasahi pipi Dara.
Dengan gerakan cepat Dara menghapus air mata nya, ia pun membelai rambut Neysa dengan lembut.
"Kakak kelilipan sayang, bukan nangis" jawab Dara berbohong.
********
Sementara di meja makan, sejak duduk disana Vio sudah menahan gejolak di perutnya yang rasanya ingin keluar. Melihat kuah sayur asam membuat Vio merasa jijik. Padahal ia sendiri yang rekues untuk di buatkan masakan itu.
"Loh kok Vio gak makan? " tanya Ningrum sambil menatap ke arah Vio.
Mendengar pertanyaan Ningrum, membuat Kenzo dan Wilda serentak menoleh ke arah Vio.
"Iya sayang kok kamu gak makan? kan kamu yang minta di bikinin masakan ini" ucap Wilda
"Aku masih kenyang Ma" balas Vio berbohong, ia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya mual melihat masakan itu.
"Makan walau dikit Vi ! Ini enak loh, seger. Apalagi sambalnya bikin nagih" seloroh Ningrum kemudian.
"Sambalnya bikinan mbak Dara, dia pintar masak apapun" sahut Bibi Rus sambil membawa potongan buah semangka untuk cuci mulut.
"Serius ini bikinan Dara Bi ?"tanya Ningrum.
"Iya Bu, bahkan yang goreng ikan lele nya saja mbak Dara"
Vio mendelik tak suka saat mendengar kalau masakan itu buatan Dara.
"Pantas aku mual, ternyata masakan ini bikinan gadis kampung itu" batin Vio.
"Bi tolong masak lagi ya ! Tapi aku mau bibi yang bikin sendiri jangan orang lain" pinta Vio membuat Kenzo langsung menatap Vio lagi.
"Loh kenapa non ? Apa ini tidak enak ?" tanya Bibi Rus heran.
"Mual aku makan ini" balas Vio ngasal.
__ADS_1