
Sore harinya Kenzo baru pulang, pria itu bersiul saat menuruni mobil. Ia bahagia karena akan bertemu dengan pujaan hati yaitu Dara.
Namun langkahnya langsung terhenti begitu saja, di susul dengan keterkejutan yang luar biasa. Di ambang pintu ada Vio yang berdiri sambil menatapnya dengan senyuman manis.
"Hai Mas" sapa Vio, gadis itu sedikit berlari mendekati Kenzo.
"Kapan datang Vi ?" tanya Kenzo
"Tadi pagi".
"Oh" Kenzo hanya ber oh saja kemudian kembali bertanya "Mama sama Papa sehat kan ?" tanyanya kemudian, memang sudah lama Kenzo tidak mendatangi mertuanya itu.
"Sehat mas"
Kenzo berjalan masuk di ikuti oleh Vio yang berjalan disampingnya. Saat di ruang tamu Kenzo menatap sekitar mencari sosok Dara yang biasanya ada di ruang tamu bersama Neysa.
Namun kali ini Dara tidak ada, apa mungkin Dara sedang berada di kamar bersama Neysa ?. Begitu yang ada di pikiran Kenzo.
"Nyari Neysa ya mas ?" tanya Vio saat ekor matanya menangkap Kenzo sedang mencari seseorang.
"Iya, biasanya jam segini dia lagi main sama Dara di ruang tamu, kok sekarang gak ada"
"Ney lagi di kamar sama susternya, memang aku yang nyuruh soalnya ada yang pengin aku omongin sama mas dan Tante Ningrum"
Alis sebelah kanan Kenzo terangkat mendengar ucapan Vio, ia menatap gadis itu dengan seksama.
"Ya sudah aku mandi dulu"
"Ok"
Kenzo berjalan meninggalkan Vio, menuju kamar Neysa terlebih dahulu. Rasa rindunya tidak bisa sembuh kalau belum bertemu dengan Dara.
Saat pintu selesai ia buka, mata Kenzo langsung menangkap sosok wanita yang ia cintai sedang bermain bersama Neysa. Dara mendongak lalu menyunggingkan senyum saat melihat kehadiran Kenzo.
"Papa" teriak Neysa, bocah perempuan itu bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju Kenzo, ia merentangkan kedua tangan meminta agar Kenzo menggendong.
Mengetahui maksud dari putrinya, Kenzo langsung mengangkat tubuh Neysa, menghujani pipi bulat Neysa dengan ciuman bertubi-tubi.
"Ney mau main di luar, tapi cama Tante Vi dak boleh" ucap Neysa
__ADS_1
"Nanti Papa bicara sama Tante nya ya, sekarang Ney sama kakak dulu"
Kenzo kembali menurunkan Neysa, kemudian tanpa mengatakan apapun pada Dara, pria itu langsung berbalik dan menutup pintu kamar.
Dara menarik napas panjang, padahal ia sangat berharap Kenzo mendekat walau hanya sekedar menyapa. Namun nyatanya pria itu diam tanpa mengatakan apapun.
"Tenang Ra, mungkin mas Kenzo melakukan itu karena ada Vio disini" batin Dara berusaha menepis pikiran negatifnya.
Usai bermain Dara membantu Neysa mandi, membuat putri kecil Kenzo itu wangi dan cantik seperti biasanya.
*********
Malam harinya setelah makan malam bersama, kini di ruang tamu Ningrum, Vio dan juga Kenzo sedang duduk. Sementara Dara membantu Bibi Rus bikin kue sesuai permintaan Vio.
"Ada apa Vi ? tadi katanya ada hal penting yang ingin kamu sampaikan ?"
Samar-samar Dara mendengar pertanyaan Ningrum, membuat degup jantungnya berpacu kuat, perasaannya tidak enak sejak tadi. Mata bagian bawahnya terus berkedut dan menurut mitos seseorang yang mengalami hal itu akan menangis.
"Mbak istirahat aja, kan tugas mbak udah selesai" ujar Bibi Rus
"Saya belum mengantuk bi, biarkan saya membantu"
"Ya sudah kalau itu maunya mbak Dara"
"Kemaren Mama bilang kalau sebelum Kak Allis pergi, ia meminta aku untuk menggantikan posisinya menjadi istri mas Kenzo" kata itu cukup jelas dan lantang di ucapkan oleh Vio. Membuat Ningrum dan juga Kenzo membulatkan matanya.
"Jangan mengada-ada Vi, tidak mungkin Allisya meminta hal itu, aku sangat mengenal siapa dia" balas Kenzo yang tidak percaya dengan ucapan Vio.
"Ya kalau mas Ken tidak percaya, telepon saja Mama ! aku gak mungkin bohong dan mengada-ada"
Kenzo mengusap wajahnya dengan kasar, kabar macam apa ini?, dan mana mungkin ia akan menikah dengan adik iparnya sendiri.
"Kenapa baru sekarang Mama kamu bilang hal ini ? kan Allisya sudah pergi tiga tahun yang lalu" tanya Ningrum.
"Kata Mama waktu itu dia belum menerima kepergian Kak Allis makanya Mama merahasiakan semua ini, tapi setiap malam Mama di datangi kak Allis agar segera menyampaikan amanat nya"
Penjelasan Vio cukup meyakinkan, menandakan kalau wanita itu memang sangat jujur. Tapi kenapa baru sekarang di saat Kenzo sudah menemukan wanita yang ia cintai yaitu Dara.
"Maaf Vi aku gak bisa" tolak Kenzo cepat, baginya ia tak perlu pikir panjang untuk mempertimbangkan semuanya.
__ADS_1
"Mas Ken tidak bisa menolak, ini amanat kak Allis"
"Kalau memang Allisya berkata seperti itu, kenapa tidak langsung kepadaku ? kenapa harus lewat Mama ?"
"Mungkin kak Allis tau kalau mas Kenzo tidak akan mengabulkan permintaan terakhir nya"
"Dan sekarang pun sama, aku tidak akan mengabulkan permintaan aneh itu"
Kenzo berdiri, lalu pergi meninggalkan ruang tamu dengan raut wajah penuh kekesalan. Saat akan menaiki anak tangga ia berpapasan dengan Dara. Wanita itu menunduk enggan menatap Kenzo seolah sedang menyembunyikan sesuatu.
"Ra" panggil Kenzo
"Permisi mas, aku mau ke kamar" ucap Dara dan berlalu dari hadapan Kenzo.
Kenzo menatap kepergian Dara, ia memang tidak bisa melihat wajah cantiknya, tapi Kenzo bisa melihat wanita itu menghapus air matanya.
Dara menangis ?
Tapi karena apa ?
Apa wanita itu mendengar pembicaraan nya dengan Vio tadi ?
Entahlah, Kenzo tidak bisa menebak, ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar.
"Aaarrrgggg" Kenzo berteriak, mengeluarkan seluruh suaranya. Ucapan Vio membuat dirinya banyak pikiran.
"Ada apa ini Allis ? apa benar kamu menginginkan aku menikah dengan Vio"
Kenzo berjalan, mengambil bingkai foto sang istri yang terpajang di meja nakas, ia menatap foto itu dengan seksama. Jari telunjuknya mengelus bagian pipi foto Allisya.
Rasanya tidak mungkin jika istrinya meminta hal itu, Kenzo sangat mengenal Allisya. Selama menikah dengan nya Allisya jarang berinteraksi dengan keluarganya.
Bisa dikatakan kalau Allisya anak yang terbuang, jadi sulit bagi Kenzo untuk percaya dengan ucapan Vio.
Namun jika itu benar?, Kenzo harus bagaimana. Selama ini ia tidak bisa menolak permintaan sang istri.
"Jika ini permintaan kamu, maaf sayang aku tidak bisa. Perasaan mas tidak bisa di paksakan" gumam Kenzo.
"Menikah itu harus ada rasa cinta"
__ADS_1
Setetes air mata keluar dari pipi Kenzo, ia kembali mengingat kebersamaan dengan Allisya dulu, dari awal pertemuan sampai mereka menikah semua nya berputar di kepala Kenzo layaknya sebuah Film.
"Mas sudah menemukan wanita yang baik Allis, dan Neysa juga sayang banget sama dia, apa kamu akan marah jika mas memilih menikah dengan wanita pilihan mas ?"