
Malam itu ketika jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, namun mata Dara masih terbuka lebar, ia belum mengantuk, entah apa yang ia rasa hanya saja rasa kantuk itu belum juga menyerang.
Sementara Neysa sudah tidur setelah Isya tadi, jadi saat ini Dara sudah berada didalam kamarnya.
"Sepertinya duduk di luar enak, menikmati angin malam mungkin akan membuat rasa kantuk itu datang" gumam Dara
Dengan memeluk sebuah boneka hello Kitty yang di berikan Kenzo tadi, Dara melangkahkan kakinya keluar kamar, berjalan cukup pelan karena tidak ingin mengganggu istirahat yang lain.
Tujuan Dara saat ini adalah kolam renang, disana ada sebuah bangku panjang berwarna putih tepat di pinggir kolam, suasana malam juga tampak sangat indah, cahaya rembulan juga bintang yang berkedip membuat suasana tampak indah.
Dara mendudukkan diri disana, masih dengan memeluk boneka hello Kitty berwarna pink tersebut, sesekali ia cium dan sebuah senyuman kembali terbit di bibir manisnya.
"Kenapa disini ?" Sebuah pertanyaan berhasil membuat Dara mendongak, ia cukup kaget melihat kehadiran Kenzo.
"Mas Kenzo belum tidur ?" Tanya Dara balik.
"Saya tanya, kenapa kamu disini ?" Hardik Kenzo dengan nada tidak suka, karena Dara belum menjawab pertanyaan nya.
"Saya belum mengantuk mas, makanya saya duduk disini" jawab Dara jujur "tapi kalau mas mau disini saya akan kembali ke kamar" sambung Dara lagi
"Tidak perlu, kamu disini saja ! Temani saya mengobrol, karena saya juga belum mengantuk"
Dara langsung merasakan gugup, saat ini ia hanya berdua dengan Kenzo, membuat detak jantungnya berpacu kuat. Apalagi saat Kenzo sudah duduk tepat di sampingnya.
Sedikit menggeser tubuhnya, putri dari Mario itu tidak ingin Kenzo tahu kalau dirinya mendadak menjadi gugup. Apalagi jika sampai Kenzo mendengar detak jantungnya, akan sangat memalukan bukan ?.
"Bagaimana kabar keluarga kamu ?" Tanya Kenzo lagi, matanya menatap ke depan tanpa menoleh sedikitpun.
"Alhamdulillah baik mas"
"Saya tidak pernah mendengar kamu menghubungi keluarga kamu"
Kening Dara mengkerut mendengar pertanyaan Kenzo, apa dirinya harus bicara dulu jika menghubungi kedua orang tuanya.
"Karena memang saya menghubungi kedua orang tua saya pada malam hari mas, kalau siang saya ingin fokus ke Neysa"
Kenzo menganggukkan kepalanya berulang, ia membenarkan ucapan Dara, itu berarti wanita itu benar-benar ingin bekerja dan takut terjadi apa-apa dengan putrinya.
Mendadak Kenzo merasa takjub dengan sikap Dara, selama ini Kenzo bisa menilai bagaimana cara Dara bekerja, juga cerita sang Mama yang setiap hari terus membahas Dara dan juga Neysa.
Mata Kenzo melirik Boneka yang sedari tadi berada di pelukan Dara, sebuah senyuman singkat terukir di bibirnya, tapi Dara tidak melihat hal itu.
__ADS_1
"Dara" panggil Kenzo
"Iya mas"
"Sepertinya cara bicara kita selama ini terlalu formal"
"Maksud Mas Kenzo ?"
"Iya kita selalu bicara dengan di awali kata 'saya' kenapa tidak 'aku-kamu' saja ?"
Mendadak Dara menjadi bingung dengan sikap Kenzo, entah kenapa malam ini sikap pria itu begitu berbeda, atau jangan-jangan yang ada disampingnya bukan Kenzo ? , Begitu yang ada di pikiran Dara saat ini.
"Sial kenapa bisa aku mengucapkan hal itu" batin Kenzo merasa kesal dengan dirinya sendiri.
"Jadi mas Kenzo penginnya dipanggil kamu gitu ?" Tanya Dara memastikan.
"Iya dan jangan pakai saya lagi ! Tapi pakai aku"
"Baik mas, jika itu yang menjadi perintah Mas"
Mungkin akan terasa asing di lidah masing-masing saat cara bicara mereka akan berbeda, tapi mungkin dengan seiring berjalannya waktu semuanya akan terlihat biasa saja.
"Sudah malam, lebih baik kamu masuk kekamar ! Udaranya juga sangat dingin nanti kamu masuk angin" pinta Kenzo.
"Iya mas, kebetulan aku sudah mengantuk"
Dara berdiri begitupun dengan Kenzo.
"Aku duluan mas"
"Hemmm"
******
Di dalam kamar Dara tersenyum seraya menuju tempat tidur, ada rasa bahagia yang teramat dalam yang saat ini ia rasakan.
Apa mungkin saat ini Dara sudah menaruh hati pada Kenzo ?. Sesaat Dara tersadar kalau perasaannya salah besar, Kenzo tidak mungkin menyukainya, mungkin laki-laki itu bersikap baik karena Dara bekerja sebagai baby sitter Neysa.
"Bodoh-bodoh, jangan terlalu tinggi menghayal Ra ! Mas Kenzo tidak mungkin mencintaimu, dia baik karena kamu bekerja sebagai baby sitter Neysa" gumam Dara sambil menggigit bibir bawahnya.
Lagian Dara tahu kalau Kenzo tidak bisa melupakan istrinya, waktu itu Bibi Rus pernah cerita pada Dara soal Kenzo, kebetulan Bibi Rus sudah lama bekerja di rumah ini.
__ADS_1
"Lebih baik kamu buang jauh-jauh perasaan ini Ra ! Dari pada nanti tersakiti karena cinta tak terbalas" kembali Dara membatin.
******
Sementara itu di kamar Kenzo, laki-laki itu belum juga tertidur, malam ini tampak berbeda Kenzo tidak lagi memeluk foto sang istri saat hendak tidur.
Ia duduk di ranjang dengan menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Tatapannya lurus kedepan sementara pikirannya menerawang kejadian hari ini.
Semua yang ia lalui hari ini terus terlintas di pikiran nya. Entahlah kenapa ? Atau karena ada Dara ?.
"Haiss, kenapa aku terus memikirkan Dara ?" Ucapnya pada diri sendiri.
Jam dinding terus berputar, jarumnya sudah mengarah ke angka Sebelas (11), dan rasa kantuk itu belum juga datang. Padahal besok Kenzo harus datang lebih awal karena ada meeting penting di perusahaan nya.
Karena kesal Kenzo menghubungi asisten nya Gio, tak peduli kalau laki-laki yang akan ia hubungi itu sudah tertidur pulas.
"Ha-lo tuan" dengan suara serak khas seseorang yang baru saja terbangun, Gio menjawab telepon dari Kenzo.
"Carikan aku obat tidur" pinta Kenzo cepat
"Hah, apa tuan ?"
"Kau tidak tuli kan Gio ?"
"Maaf tuan saya baru saja bangun itupun mendadak, jadi saya tidak terlalu fokus sama ucapan Tuan, hemmm, bisa di ulangi ?"..
"Carikan aku obat tidur yang ampuh"
"Untuk apa tuan ?"
"Jangan banyak tanya ! Carikan saja"
Tuuuttt.
Sambungan telepon langsung terputus secara sepihak, siapa lagi dalangnya kalau buka Kenzo, karena tidak mungkin jika Gio berani memutuskan sambungan telepon. Bisa-bisa besok ia di tendang diperusahaan.
Sembari menunggu obat tidur datang, Kenzo memainkan ponselnya. Membuka media sosial yang baginya sangat membosankan karena isinya hanya anak-anak alay saja.
Tiga puluh menit kemudian Kenzo mulai merasa ngantuk, sementara obat tidur yang ia pinta sudah tak ada lagi di pikiran nya. Bagai seseorang yang tidak bersalah Kenzo menarik selimut kemudian tidur dengan lelap.
Ia tidak memikirkan bagaimana nasib Gio yang sedang mencari obat tidur untuknya.
__ADS_1