Pelabuhan Hati Sang Duda

Pelabuhan Hati Sang Duda
Kelakuan Kenzo.


__ADS_3

Malam harinya, hujan turun dengan deras di kota Jakarta. Suara geledek bersahutan membuat siapa saja takut mendengarnya.


Namun tidak untuk Kenzo, pria itu mengabaikan suara tersebut. Bahkan derasnya air hujan yang membasahi tubuhnya tak membuat Kenzo beranjak sedikitpun.


Sudah hampir satu jam ia berdiri di depan pagar rumah Dara, tubuhnya mulai menggigil, bibirnya mulai menampakan warna kebiruan. Berharap Dara akan datang sambil membawa payung untuknya. Namun sepertinya harapan itu sia-sia karena sampai sekarang Dara tak juga menampakkan diri.


Bukan tanpa alasan Kenzo melakukan ini, ucapan sang Mama lah yang membuat Kenzo ingin berjuang untuk mendapatkan cinta Dara lagi.


"*Kalau kamu masih cinta sama Dara, perjuangin dong ! jangan jadi pengecut yang maunya di perjuangin"


"Ingat Ken, Dara sudah banyak berjuang untuk kamu, jadi Mama rasa tidak ada salahnya jika saat ini kamu yang berjuang untuk nya*"


Ucapan sang Mama terus terngiang di pikirannya, membuat Kenzo mampu bertahan menerpa derasnya hujan malam itu.


Sementara di dalam rumah, Mang Wahid berlari sembari memanggil nama Dara, membuat Mario dan Syerli kebingungan.


"Ada apa sih Mang ? kenapa teriak-teriak begitu ?" tanya Mama Syerli membuat langkah Mang Wahid berhenti.


"Itu Nya, di depan ada cowok. Dia basah kuyup udah saya suruh pergi tapi dia gak mau" jelas Mang Wahid.


"Ya sudah biarkan saja !" sahut Papa Mario.


"Tapi sepertinya dia temannya Non Dara, soalnya tadi saya gak sengaja dengar dia manggil nama Non Dara"


Kerutan di kening Mama Syerli semakin dalam, ia pun berjalan dan mengintip melalui kaca jendela. Benar saja walau agar samar, Mama Syerli bisa melihat seorang pria tengah berdiri di depan pagar rumah mereka.


"Benar Pa, kasian sekali, dia pasti kedinginan" ucap Mama Syerli.


"Biarkan saja Ma, paling itu fans nya Dara" kembali Papa Mario menjawab dengan nada tenang. Tidak tertarik sedikitpun untuk melihat siapa pria yang di maksud Mang Wahid.


Dara yang saat itu sedang menuruni anak tangga pun mengernyit, melihat sang Mama mengintip melalui kaca jendela, sementara Papa Mario duduk dengan tenang di atas sofa.


Karena penasaran Dara mendekat, ia ingin tahu siapa yang sedang di intip oleh Mama Syerli.


"Ada apa sih Pa ? Mama ngintip apaan ?" tanya Dara membuat Papa Mario dan Mang Wahid menoleh.


"Kebetulan Non Dara turun, itu Non, di depan ada cowok yang nungguin non Dara" jelas Mang Wahid.


"Siapa Mang ?" Dara bertanya dengan ekspresi bingung.


"Saya tidak tau non, Belum pernah kesini juga soalnya"

__ADS_1


"Ya sudah biar aku kesana"


Dara berjalan menuju luar rumah, namun sebelum menembus hujan deras ,tak lupa Dara mengambil payung.


"Siapa sih ?, kek anak kecil aja tau gak ?.. Kalau memang mau ketemu sama aku, kenapa gak masuk aja coba ?" gerutu Dara sambil berjalan dengan cepat menuju luar gerbang.


Saat gerbang terbuka, Dara cukup terkejut mengetahui kalau pria yang di ceritakan Mang Wahid tadi adalah Kenzo. Kesal namun haru bercampur menjadi satu di perasaan Dara.


"Akhirnya kamu keluar juga" ucap Kenzo dengan suara bergetar.


"Kamu ngapain sih mas berdiri di sini ?, gak lihat kalau hujannya segedek ini ?" omel Dara


Namun bukannya merasa bersalah, Kenzo justru tersenyum. Ia semakin yakin kalau Dara masih mencintai dirinya.


"Malah senyum lagi, kalau sakit gimana ?"


"Kan ada kamu yang ngurusin aku"


"Isstt, siapa juga yang mau ngurusin kamu, gak ada kerjaan banget, lagian kamu kan bukan siapa-siapa aku"


"Sebentar lagi kamu akan menjadi bagian hidupku Ra".. gumam Kenzo namun masih bisa di dengar oleh Dara.


"Enggak ada kok, kamu salah dengar kali" balas Kenzo masih berusaha menampilkan senyum menjengkelkan bagi Dara.


"Boleh masuk gak ? dingin banget soalnya"


Dara melihat tubuh Kenzo yang terus menggigil, ada rasa kasihan, namun Dara tidak ingin luluh begitu saja, ia ingin tahu seberapa berjuangnya Kenzo.


"Udah malam, mending kamu pulang aja" usir Dara, walau dalam hatinya yang paling dalam sangat menginginkan Kenzo masuk.


"Dingin Ra, tanganku gak kuat bawa mobil"


Menghela napas panjang, Dara kembali berkata "Ya sudah masuk ! nanti aku pinjamin baju Bang Tama, tapi setelah itu kamu langsung pulang"


"Iya-iya"


Dara berjalan duluan, sementara Kenzo mengikuti dari belakang. Ada rasa takut di diri Kenzo karena akan bertemu dengan Papa Mario sebentar lagi.


"Aku tunggu disini aja Ra" ucap Kenzo, menghentikan langkahnya di teras rumah Dara.


"Kenapa ? katanya mau masuk ?"

__ADS_1


"Baju ku basah semua, nanti kalau hujannya berhenti aku langsung pulang"


"Udah ayo masuk, nanti ganti pakaian mas pakai baju Abang ku"


Sebelum Dara dan Kenzo masuk kerumah, Papa Mario dan Mama Syerli lebih dulu keluar. Kedua orang tua Dara itu mengernyit saat menatap Kenzo.


"Loh, bukannya kamu Kenzo ?" ucap Papa Mario


"Iya Tuan, senang bisa bertemu dengan anda lagi Tuan" jawab Kenzo dengan sopan.


"Papa kenal sama mas Kenzo ?" tanya Dara.


"Kenal, kan perusahaan dia bekerja sama dengan perusahaan kita Ra" jelas Papa Mario lagi.


"Oh" hanya itu jawaban Dara.


"Ya sudah ayo masuk !, kasian kamu kedinginan begini" sahut Mama Syerli kemudian


"Ambilkan baju dan celana Abang mu yang belum ke pakek Ra !" pinta Mama Syerli pada Putrinya.


"Iya Ma"


*


*


Setelah berganti pakaian, kini Kenzo ikut bergabung dengan Papa Mario dan juga Mama Syerli. Mereka mengobrol dengan hangat. Papa Mario mencegah Kenzo pulang karena hujan di luar semakin deras.


"Kenal Dara dimana ?" tiba-tiba Papa Mario bertanya, membuat Kenzo menelan salivanya berkali-kali.


"Emmm, waktu itu Dara pernah jadi pengasuh anak saya Tuan, maaf saya tidak tahu kalau Dara anak tuan Mario" jawab Kenzo gugup.


"Panggil Om saja nak !" sahut Mama Syerli.


"Oh jadi kamu yang udah buat putriku nangis-nangis waktu itu ?"


Gleekk.


"Mati aku, apa yang sudah Dara ceritakan sama Papa nya ?". batin Kenzo.


"Ma-af kan saya Om !"

__ADS_1


__ADS_2