
"Oh, jadi suami dan calon adik iparku ini pernah mencintai orang yang sama"
Serempak, Kenzo dan Tama menoleh ke sumber suara. Keduanya sama-sama terkejut saat melihat kehadiran Selfi dan juga Dara disana.
"Kapan kalian ada di sini ?" Tanya Tama.
"Sejak kalian membahas masalah percintaan kalian" jawaban Selfi membuat Tama dan Kenzo saling pandang.
"Itu hanya masalalu sayang, tolong jangan di pikirkan !" Tama mendekat, berusaha merayu sang istri agar tidak salah paham dengan nya.
"Kau tau ini hanya masalalu, terus kenapa kau masih dendam pada Kenzo ?"
"Tidak sayang, aku tidak dendam padanya"
"Terus tadi apa ? Aku dengar sendiri pembicaraan kalian berdua"
Tama menggaruk kepalanya yang tidak gatal, harusnya tadi ia tidak perlu membahas masalah ini pada Kenzo, lagian semuanya sudah berlalu dan sosok Allisya juga sudah tenang di alam sana.
Tidak ingin terlalu panjang berdebat, Tama langsung membawa istrinya pergi. Sepertinya kamar adalah jalan terakhir untuk menyudahi kemarahan istrinya.
Dan sekarang disana tinggallah Kenzo dan Dara, suasana mendadak hening, tidak ada yang berani membuka suara terlebih dahulu.
"Ehmmmm" Kenzo berdehem, untuk menghilangkan rasa canggung yang ada.
"Maaf Ra !" Ucap pria itu kemudian.
Dara mendongakkan kepalanya, ia menatap wajah sang suami "Aku tau sampai kapanpun mbak Allisya akan menjadi wanita pertama dalam hidup mas, tapi haruskah semua itu di bahas di hari pertunangan kita ?"
Suara Dara yang serak membuat kepingan rasa bersalah itu semakin besar, Kenzo mengaku salah, harusnya tadi ia dan Tama jangan membahas masalah ini.
Hari ini adalah hari kebahagiaan nya bersama Dara.
"Maafkan aku Ra !"
__ADS_1
Dara menarik napas panjang, ia tidak bisa memungkiri kalau hatinya sakit saat suami dan Abangnya pernah mencintai wanita yang sama. Apalagi keduanya membahas masalah ini di hari pertunangannya.
"Aku tau kamu marah karena membahas ini di hari bahagia kita, tadi aku tidak tahu kalau Tama membawaku ke sini untuk membahas masalah ini" kembali Kenzo menjelaskan, karena sampai sekarang Dara belum membuka suara.
"Allisya memang wanita pertama yang hadir dalam hidupku, tapi itu telah menjadi masalalu, dan kamu adalah masa depan ku"
Sekarang Kenzo menggenggam tangan Dara, ia mencium punggung tangan seputih susu itu, membuat perasaan sakit yang tadi Dara rasakan melebur menjadi rasa sayang yang besar.
Dara sadar sampai kapanpun Kenzo tidak akan pernah bisa melupakan Allisya, apalagi ada anak di antara mereka.. Dan entah kenapa ada rasa cemburu di diri Dara padahal Allisya sudah tidak ada.
"Apa boleh aku cemburu mas ?, Ini kedengaran lucu sebenarnya, aku cemburu pada orang yang sudah tiada" ucap Dara.
Kenzo terkekeh mendengar perkataan calon istrinya itu "cemburu itu manusiawi sayang, tidak ada yang salah dengan rasa cemburu mu itu, tapi mas harap kamu bisa cemburu dengan dewasa, apalagi yang kamu cemburui itu sudah tiada"
"Maaf mas, aku akan berusaha untuk menghilangkan rasa cemburu ini"
"Terima kasih sayang, percayalah cinta mas sekarang hanya untuk kamu"
"Papa...."
Secepat kilat Kenzo harus menjauhkan wajahnya, saat daun telinganya dengan jelas mendengar suara Neysa yang memanggil.
"Papa ngapain kakak cantik ? Kenapa wajah Papa dekat-dekat ?"
Pipi Dara bersemu merah, sungguh ia malu karena ketahuan oleh Neysa, beruntung tadi Kenzo belum menciumnya.
"Tadi ada semut di pipi kakak nya sayang, makanya Papa bantuian buat ambilin semutnya" jawab Kenzo kikuk.
"Oh" Neysa tampak menganggukkan kepalanya, membuat Kenzo bernapas lega karena Neysa tidak bertanya lagi.
"Yuk kembali ke depan ! Gak enak sama tamu" ajak Dara.
"Ayo" balas Kenzo.
__ADS_1
*
*
*
Sementara di kamar, adegan 21+ baru saja terjadi. Napas Selfi memburu setelah sang suami berhasil menyemburkan lahar panas ke rahimnya.
Kesal namun senang, itulah yang Selfi rasakan. Suaminya selalu punya cara untuk membungkam pertanyaan yang akan lolos di mulutnya.
"Minggir mas ! Aku mau mandi" ucap Selfi.
Tama menyingkirkan tubuhnya dari atas tubuh sang istri, sedangkan Selfi langsung bangkit dan menuju kamar mandi. Ia harus segera kembali ke bawah karena acara belum selesai.
1 jam berlalu, Tama dan Selfi kembali ke bawah, hanya tinggal keluarga terdekat yang masih ada disana, karena yang lain sudah pulang. Kenzo melirik rambut Tama yang basa dan ia langsung mencibir dalam hati.
"Cih, bisa-bisanya dia enak-enak sedangkan ini hari pertunangan adiknya" gerutu Kenzo dalam hati.
"Kalian dari mana ?" Tanya Mama Syerli membuat semua orang menatap ke arah Tama dan Selfi.
"Dari kamar Ma" jawab Tama santai.
"Dasar kakak tak ada akhlak, tamu masih banyak malah ngurung diri di kamar, pas keluar rambut pada basah semua" sahut Papa Mario, membuat Tama dan Selfi malu.
Satu cubitan Selfi berikan pada Tama, pria itu ingin menjerit karena sakit namun ia tahan supaya tidak di tertawakan, apalagi tatapan tajam sang istri membuat Tama tak bisa berkutik.
Tama memilih duduk di samping Kenzo, sedangkan Selfi ikut bergabung bersama para wanita.
"Apa nanti aku harus memanggilmu Abang ?" Bisik Kenzo di telinga Tama.
"Jangan pernah kau lakukan itu ? Atau kau tidak akan menikah dengan Dara" jawab Tama "mimpi apa aku sampai kau menjadi adik iparku" sambung nya lagi.
"Dunia memang sempit, dulu kita temenan dan sekarang kita iparan" balas Kenzo membuat Tama semakin kesal.
__ADS_1