Pelabuhan Hati Sang Duda

Pelabuhan Hati Sang Duda
Dara mengetahui


__ADS_3

Setiba di rumah sakit Dara langsung menuju ruangan Neysa. Sebelumnya ia sudah bertanya dulu pada resepsionis dimana ruangan Neysa.


Sebelum memasuki ruangan tersebut, tarikan napas panjang Dara lakukan, ia harus menguatkan hati karena pasti ia akan bertemu dengan Kenzo. Mengingat sekarang mereka berdua sudah tidak ada hubungan apa-apa.


Ceklek.


Pintu ruangan Dara buka dengan pelan, di ruangan itu hanya ada Ningrum dan juga Neysa yang masih terlelap. Senyum penuh kebahagiaan terpancar di wajah tua Ningrum. Wanita itu langsung berdiri dan memeluk Dara.


"Tante kangen banget sama kamu nak" ucap Ningrum


"Sama, aku juga kangen sama tante" balas Dara, ia tidak menyangka Ningrum masih bersikap hangat padanya.


Ningrum melepas pelukannya, lalu menoleh ke arah Neysa. Tatapan wanita itu terpancar kesedihan dan Dara mengerti hal itu.


"Bagaimana keadaan Ney ?, dokter bilang dia sakit apa ?" tanya Dara, ia berjalan untuk mendekati Neysa. Anak itu belum menyadari kehadiran Dara disana.


"Kata dokter Neysa hanya demam. Semenjak kamu pergi dari rumah Neysa sering nangis, makan tidak mau makanya sakit seperti ini"


Satu tetes air mata langsung jatuh membasahi pipi Dara, ia mengelus kepala Neysa dengan lembut. Bukan hanya Neysa yang rindu, Dara pun merasakan hal yang sama.


"Ney juga selalu sebut nama kamu, makanya tante hubungin kamu tadi. Berharap setelah bertemu dengan mu, Neysa akan sembuh" sambung Ningrum lagi.


Perlahan kelopak mata Neysa terbuka, anak itu langsung menatap ke arah Dara. Mengerjap beberapa kali untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi.


"Kakak cantik" panggil Neysa, suaranya begitu lemah membuat Dara sedih.


"Iya sayang, Kakak ada disini"


"Jangan tinggalin Ney lagi, Ney mau ikut kakak"


Dara tak menjawab, ingin rasanya ia terus bersama Neysa. Tapi kemarahan Kenzo membuat Dara tidak bisa berbuat apa-apa.


*


Satu jam berlalu, semenjak kedatangan Dara membuat Neysa langsung ceria. Anak itu langsung mau makan dan membuat Ningrum semakin yakin kalau sakitnya Neysa karena merindukan Dara.

__ADS_1


Di sini Ningrum berharap kalau Kenzo jangan kembali dulu, ia tidak ingin membuat cucu kesayangannya kembali sedih karena kepergian Dara.


"Malam ini kakak tidur sama Ney lagi kan ?"


Ningrum tersenyum saat Neysa bertanya seperti itu, sementara Dara langsung terdiam karena tidak tau harus menjawab apa.


"Sekarang Kakak cantik lagi ada pekerjaan lain nak, nanti kalau kerjaan kakaknya udah selesai kita ajak dia tidur di rumah" sahut Ningrum membuat Dara menoleh.


"Yaaaaa" Neysa menunduk, merasa kesal dengan jawaban sang nenek.


"Jangan sedih sayang, nanti kakak janji bakal ajak Ney jalan-jalan" Dara mengelus kepala Neysa dengan lembut.


Neysa kembali menatap Dara, jari kelingkingnya yang mungil ia berikan "Kakak janji ?"


"Iya sayang" balas Dara yang juga menautkan jari kelingkingnya.


Beberapa saat kemudian pintu ruangan kembali terbuka, di susul kemunculan Kenzo yang membuat Dara langsung membeku seketika. Apalagi tatapan mata Kenzo membuat Dara menelan ludahnya berkali-kali.


"Siapa yang memberimu izin masuk ke ruangan ini ?" tanya Kenzo dingin. Pria itu berjalan lalu meletakkan kantong plastik berwarna putih ke atas meja.


"Buat apa ma ?, dia gak di butuhkan disini"


"Neysa yang butuh Dara. Kamu jangan egois karena memikirkan dirimu sendiri. Lagian Dara tidak sepenuhnya salah, dia berbohong selama ini karena ada alasan"


"Tetap saja aku tidak suka dia disini"


Ningrum menarik napas panjang "Mama tanya sama kamu , apa kebohongan yang Dara lakukan merugikan kamu ?"


Kenzo langsung terdiam, memang tak ada yang di rugikan dengan kebohongan Dara selama ini. Hanya saja Kenzo tidak terima dengan status Dara sebenarnya.


"Tadi Dara sudah cerita semuanya, dia kabur karena menghindari perjodohan" lanjut Ningrum lagi.


Melihat pertengkaran itu membuat Dara menjadi tidak enak. Mungkin sebaiknya dia pergi.


"Tante sudah, sebaiknya aku pergi saja. Lagian Neysa butuh istirahat. Sudah lama dia bermain" ucap Dara.

__ADS_1


Ningrum dan Kenzo serentak menoleh. "Maaf ya nak kalau ucapan Kenzo menyinggung"


"Tidak apa-apa tante, wajar kalau mas Kenzo masih marah mungkin kesalahan ku begitu besar" balas Dara sembari tersenyum.


"Sayang, kakak pergi dulu ya !, Neysa cepat sehat" kata Dara pada Neysa.


"Nanti kakak kesini lagi kan ?"


"Insya Allah, kalau ada kesempatan kakak kesini lagi".


Dara memakai tas nya, lalu berjalan dengan pelan menuju pintu yang masih terbuka. Baru beberapa langka, suara Kenzo membuat nya berhenti.


"Minggu depan datangnya kerumah, aku akan menikah dengan Vio"


Dara membeku sesaat, menentramkan perasaannya yang campur aduk, sakit sudah pasti yang ia rasakan. Pria yang ia cintai akan menikah dengan wanita lain.


Mencoba menguatkan dan berusaha tersenyum, Dara menoleh ke arah Kenzo. "Insya Allah mas, kalau aku ada waktu" balasnya.


"Aku pergi dulu, semoga mas bahagia"


Kenzo menatap kepergian Dara, di hatinya ingin sekali menghentikan wanita itu kemudian memeluknya dengan erat. Tapi kemarahan yang ia rasakan saat ini mengalahkan semuanya.


*


Sepanjang langkahnya Dara menghapus air mata, melewati banyak orang yang ada di rumah sakit itu. Inilah akhir kisahnya dengan Kenzo. Menurutnya pria itu terlalu kejam, selama ini Kenzo membawanya terbang ke angkasa dengan kebahagiaan tapi tanpa aba-aba pria itu langsung menjatuhkannya.


"Sakit mas" gumamnya lirih.


Saat di lobi rumah sakit, langka kaki Dara berhenti saat telinganya mendengar dua orang bicara. Dara mencari sumber suara karena ia mengenali suara itu.


"Lain kali kamu hati-hati !, untung kandungan kamu gak kenapa-napa" ucap Wilda seraya mengelus perut Vio yang masih terlihat rata.


"Iya Ma"


Dara menganga, kedua tangannya mengepal.

__ADS_1


"Benar denganku selama ini kalau Vio hamil, aku harus cari cara untuk memberi tahu mas Kenzo" batin Dara


__ADS_2