
Setelah pembicaraan nya dengan Tama, -Dara baru mengingat kalau dirinya belum mengabari Kenzo, pasti laki-laki itu akan khawatir dan mungkin marah karena dirinya.
Dara kembali keluar ruangan, mencari tempat yang lumayan sepi untuk menghubungi Kenzo. Sebelum menyambung kan telepon Dara melirik kekiri dan ke kanan untuk memastikan tidka ada yang mengikutinya terutama sang kakak.
"Assalamu'alaikum mas" Ucap Dara setelah panggilan terhubung.
"Waalaikumsalam Dara, astaga kenapa kamu baru menghubungiku? Apa kamu sudah melupakan aku? " Jawab Kenzo di seberang sana.
Dara tersenyum mendengar ucapan Kenzo, mana mungkin dia bisa melupakan pria itu.
"Hari ini aku sangat sibuk mas, ibu di bawa kerumah sakit makanya aku belum sempat menghubungi mas Ken"
"Lalu bagaimana keadaan ibu kamu? "
"Ibu terkena stroke sebagian mas, dan sampai sekarang belum sadarkan diri"
"Ya sudah kirim alamat lengkap kamu, besok aku akan menyusul kesana"
Mendengar hal itu Dara langsung terdiam, ia tidak bisa membiarkan Kenzo menyusulnya kesini, lagian ia juga masih satu kota dengan Kenzo.
Tapi alasan apa yang tepat untuk menjawab ucapan Kenzo, Dara terlalu takut pria itu akan marah padanya.
"Hemm, udah dulu ya mas. Aku di panggil sama bapak"
Tuuuut.
Karena tidak punya alasan Dara akhirnya memilih memutuskan sambungan telepon, ia bahkan tidak tanggung-tanggung menonaktifkan ponselnya agar Kenzo tidak bisa menghubungi lagi.
Persetan dengan kemarahan Kenzo nanti. Akan Dara cari solusi, sungguh untuk saat ini Dara belum siap identitasnya terbongkar.
"Ra" seseorang memanggil membuat Dara menoleh, ia terkejut melihat kehadiran Tama di sana.
"Abang dari kapan di sini? " tanya Dara.
"Baru saja, kenapa memangnya? "
"Tidak apa-apa bang, ada apa ya? "
"Mama udah sadar, dia nyariin kamu"
Dara langsung tersenyum bahagia mendengar kalau sang Mama sudah sadarkan diri. Sudah sejak tadi ia mengharapkan semua itu.
__ADS_1
"Lagian kamu nelpon orang pakai sembunyi segala, emang teleponan sama siapa sih? " tanya Tama penuh keingin tahuan.
"Bukan urusan Abang" jawab Dara dan langsung bergegas menuju ruangan sang Mama.
******
Sementara itu, di sebuah kamar Kenzo sedang uring-uringan. Berulang kali ia membanting ponselnya ke atas kasur karena kesal dengan Dara yang langsung memutuskan sambungan secara sepihak.
Dan bukan hanya itu, Dara juga tidak mengiriminya alamat lengkap. Lalu bagaimana caranya supaya Kenzo bisa menemui Dara kalau begini caranya.
"Aaaaahhhh" ia menggerang, mengacak rambutnya hingga kusut berantakan.
Malam semakin larut, jam dinding terus berputar meninggalkan angka yang lain menuju
angka selanjutnya. Sementara mata Kenzo belum juga terpejam, laki-laki itu menatap langit-langit kamar yang hanya berwarna putih.
"Kenapa kamu tidak mengirimi aku alamat lengkap Ra?, apa aku tidak boleh berkunjung kerumah mu" gumam Kenzo.
Tadi ia sangat tahu kalau Dara berbohong, karena Kenzo tidak mendengar siapa-siapa yang memanggil nama Dara. Namun untuk alasannya Kenzo sendiri tidak tau kenapa.
"Aku merindukanmu Ra" kembali ia bergumam.
Malam itu Kenzo benar-benar gelisah, kadang miring kiri dan berpindah lagi ke kanan. Ia berharap waktu akan cepat berlalu dan malam akan segera hilang.
*******
Ke esokan harinya...
Dengan telaten Dara menyuapi Syerli bubur yang baru saja di antar oleh petugas rumah sakit. Syerli tersenyum menatap Dara, putrinya yang sangat ia rindukan selama ini.
Sudah empat bulan memang ia tidak bertemu dengan Dara, saling kabar jarang, bahkan hampir tidak pernah. Bagaimana mungkin Syerli tidak merasakan rindu.
Sementara itu Tama sudah bersiap untuk pulang, pekerjaannya di Amerika begitu banyak.
"Sekali-kali ajaklah istri dan anak-anak mu kesini, mama kangen pengin main sama cucu" ucap Syerli saat Tama berpamitan hendak pulang.
"Insya Allah ma, Tama usahakan akhir bulan ini kami sekeluarga berkunjung"
"Mama tunggu nak"
Tama mengangguk, ia sebenarnya masih sangat merindukan kedua orang tuanya. Tapi Tama sudah memiliki tanggung jawab lain yaitu istri dan anak-anak nya. Tama bersyukur walau dokter mengatakan kalau Syerli mengalami lumpuh sebagian tapi wanita paruh baya itu masih lancar berbicara.
__ADS_1
Tama mendekat, memeluk tubuh Syerli dengan erat, rasanya ia enggan untuk melepaskan.
Syerli yang merasakan pelukan erat putranya hanya bisa meneteskan air mata. Sekarang ia jarang sekali mengobrol berdua, saling bertatapan seperti dulu lagi.
"Hah, rasanya Mama pengin nambah anak lagi" seloroh Syeri seraya menghapus air matanya.
"Apaan sih Ma, aku gak mau punya adik lagi. Cukup aku yang jadi adiknya Bang Tama" balas Dara cepat, dari dulu memang Dara yang tidak setuju jika Syerli memiliki anak lagi, ia tidak mau di duakan. Dara ingin seluruh kasih sayang kedua orang tuanya dan Kakaknya hanya untuk dirinya seorang.
"Lagian kalian berdua pada ninggalin Mama, kan mama kesepian di rumah" ucapi Syerli lagi.
Tama menoleh ke arah Dara "Dek ingat kata Abang semalam, berhenti bekerja sebagai baby sitter. Kalau sampai Abang dengar kamu masih kerja seperti ini, jangan salah kan Abang kalau Abang pungut adik di panti asuhan buat nemenin Mama dan Papa"
"Kasih Dara waktu Bang, dua bulan lagi, Dara janji akan berhenti bekerja"
"Tid----"
"Biarkan saja Tam, adikmu berhak memilih untuk kebahagiaan hidupnya. Kalau memang dia minta waktu dua bulan berikan" sahut Mario yang memotong ucapan Tama.
Tama menarik napas panjang sebelum kembali berkata "Baiklah, hanya dua bulan " kata nya sambil menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
"Siap bos" layaknya seorang prajurit Dara memberi kan hormat membuat semua orang terkekeh.
"Ya sudah aku pamit ya Pa. Ma"
"Hati-hati di jalan, salam buat anak dan istrimu" kata Syerli...
"Baik Ma"
Selepas kepergian Tama membuat Dara sedikit merasa bebas.
"Kamu gak kembali ke tempat kamu kerja? " tanya Mario yang saat ini duduk di sebelah Dara.
"Memangnya udah boleh aku pergi? " Dara pun balik bertanya.
"Boleh, tapi kamu harus hati-hati! jaga kesehatan dan kabari mama dan papa kalau ada apa-apa"
"Tapi Mama? "
"Kan ada Papa yang jagain. Dokter juga sudah mengatakan kalau Mama kamu sudah membaik jadi jangan khawatir"
Dara menatap kearah Syeri yang kini juga sedang menatapnya, wanita paruh baya itu memberikan senyum tulus pada Dara, tapi di balik bola matanya Dara tau kalau Syeri tidak mengizinkan dirinya pergi.
__ADS_1
Tapi tidak mungkin Dara tidak kembali kerumah Kenzo, bagaimana dengan hubungan mereka yang baru seumur jagung.
"Hanya dua bulan ya Ma, setelah itu Dara tidak akan pergi lagi" katanya berusaha membuat sang Mama bahagia.