Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Sepuluh


__ADS_3

“Kenapa melamun? Cepat lakukan tugasmu!”


Inari segera beranjak dari tempat tidur, ia berlari menuju kamarnya yang ada di belakang. Sesampainya di kamar ia menghapus makeupnya dan pergi mandi. Setelah selesai berpakaian dengan baju pelayan Inari segera berlari menuju kamar Arzan. Ia masuk ke walk in closet dan menyiapkan baju yang akan Arzan pakai.


Inari berjalan ke kamar Bara, lalu mengetuk pintunya. “Tuan Bara?” panggil Inari. Ia menunggu beberapa menit seraya mengetuk pintu kamar Bara, namun sang pemilik kamar tak kunjung membuka pintu. Tidak ingin Bara terlambat masuk kampus Inari menekan knop pintu kamar Bara yang ternyata tidak di kunci. Ia masuk ke dalam kamar Bara dan melihat tubuh Bara yang masih terlentang di atas tempat tidur.


Inari menepuk pelan pipi Bara. “Tuan Bangun, nanti terlambat,” ucap Inari.


“Diam!” sentak Bara. Ia mengambil bantal dan menutupi kepalanya.


Inari menggoyang-goyangkan tubuh Bara agar bangun. “Tapi nanti tuan terlambat masuk kampus,” ucap Inari.


Bara seolah tak terganggu dengan ucapan Inari, ia tetap tertidur di balik bantal tebal yang menutupi wajahnya.


Inari keluar dari kamar Bara dan mengetuk pintu kamar Arzan. “Tuan,” panggil Inari.


Arzan keluar dari kamarnya saat mendengar panggilan dari Inari.


Inari mencium aroma parfum yang sangat wangi saat Arzan keluar dari kamarnya, penampilan Arzan yang rapi membuat Inari sedikit terpana melihatnya sehingga melupakan niatnya.

__ADS_1


Arzan menjentikkan jarinya di depan wajah Inari. “Ada apa?” tanya Arzan.


“Tuan Bara tidak mau bangun,” Adu inari.


“Bilang saja aku akan memotong uang jajannya tiga puluh persen jika ia tidak bangun juga,” jawab Arzan santai.


Inari melupakan hal penting tersebut, kenapa ia tidak ingat sama sekali jika Bara masih bergantung pada Arzan. “Baik Tuan,” jawab Inari. Ia berjalan kembali ke kamar Bara. Namun ia tidak melihat tubuh Bara di atas tempat tidur.


Inari juga tidak mendengar suara gemercik air dari kamar mandi. Inari terkejut saat tubuhnya di tiba-tiba di peluk oleh seseorang dari belakang.


“Aaaaaa,” teriak Inari terkejut.


“Loh kok kaka sewot, ini namanya kejutan untuk kekasih di pagi hari,” ungkap Bara.


Inari melepaskan dirinya dari pelukan Bara. Ia menatap Arzan yang tampak serius menatap adiknya.


Arzan yang sudah tahu sifat Bara yang senang mengklaim wanita sebagai pacarnya tidak heran lagi. “Jangan terlalu banyak menganggunya,” ucap Arzan sebelum meninggalkan kamar Bara.


“Mau morning kiss?” ucap Bara jahil seraya menaik-naikkan sebelah alisnya menggoda Inari.

__ADS_1


Refleks Inari menutupi mulutnya dengan tangan. Ia tidak ingin kecolongan lagi, cukup Arzan saja yang mengambil ciu’mannya. Pipi Inari memerah kala mengingat ciu’mannya dengan Arzan.


“Heh me sum,” tuduh Bara.


Inari menggelengkan kepalanya. “Lebih baik Tuan pakai baju,” ujar Inari mengalihkan pembicaraan.


“Kamu belum menyiapkan baju untukku,” jawab Bara. Ia duduk di tepi tempat tidur memamerkan otot perutnya.


Inari segera pergi menyiapkan baju untuk Bara. Setelah selesai ia kembali menghampiri Bara.


“Sudah siap Tuan.”


Bara memperhatikan bibir Inari yang tampak bengkak dan berwarna sedikit gelap di sebagian sisi seperti telah melakukan sesuatu. “Kamu berciu’man dengan siapa? Kamu selingkuh dariku?”


Tangan Inari terangkat ke atas dan bergerak refleks mengisyaratkan tidak. “Ini bukan bengkak karena ciuman,” elak Inari.


Bara menghampiri Inari dan mengimpitnya pada dinding kamar. “Jangan bohong, jelas-jelas itu bengkak karena ciu’man.”


Inari menggigit kecil bibir bawahnya, ia tidak mungkin mengatakan jika Arzan yang menciumnya.

__ADS_1


“Cepat katakan kamu berciuman dengan siapa?” desak Bara.


__ADS_2