Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Enam Belas


__ADS_3

“Tanganku sakit ka, lagi pula ini tugas Riri sebagai pelayan.”


Inari kembali menyuapi Bara tanpa memperhatikan wajah Arzan.


Arzan tidak tinggal diam, ia menghampiri Inari. Mengambil mangkuk dari tangan Inari. “Minggir,” ucap Arzan.


Inari bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Arzan.


Arzan mulai menyuapi adiknya. Sementara Bara terkejut melihat sikap kakaknya, sebetulnya ia merasa awkward.


“Cepat buka mulutmu, katanya minta di suapi!”


Bara menelan salivanya dengan susah payah, tidak biasanya Arzan bersikap seperti ini padanya. Untuk menghindari masalah besar akhirnya Bara menerima suapan Arzan.


“Cepat kunyah, lama sekali,” ketus Arzan.


Belum sempat menelan seluruh makanan yang ada di mulutnya terpaksa Bara membuka lagi mulutnya untuk menerima suapan Arzan.


Arzan menyuapi bara tanpa jeda sedikit pun, untuk meluapkan amarahnya karena Inari menyuapi Bara. Seharusnya Arzan yang boleh di suapi Inari, orang lain tidak boleh begitu maksud hati Arzan.


“Apa kamu tidak punya gigi, lama sekali mengunyahnya,” protes Arzan.

__ADS_1


Tidak terima di tindas seperti ini Bara memberanikan diri untuk angkat suara. “Bukan aku yang lama mengunyah makanannya, tapi kakak yang terlalu cepat menyuapiku.”


Arzan seolah tak mendengar protes Bara, ia kembali menyuapi Bara. Padahal Bara masih mengunyah makanan yang ada di mulutnya.


Untuk pertama kalinya di suapi Arzan, Bara bersumpah tidak akan pernah mau di suapi Arzan lagi.


Mangkuk di tangan Arzan habis tak bersisa. Ia menaruhnya ke atas nampan.


Inari yang menyaksikan kegiatan kakak beradik di hadapannya sedikit ngeri melihat kebuasan Arzan.


Akibat dari menyuapi makanan yang terlalu cepat menimbulkan makanan yang menempel di pinggiran bibir Bara, Inari dengan sigap mengeluarkan sapu tangan yang ada di saku baju kerjanya membersihkan bagian bibir yang kotor.


Solah tak paham dengan rasa cemburu yang di rasakan Arzan, membuat Arzan kembali berulah. Ia merebut sapu tangan dari Inari dan menghapus seluruh wajah Bara dengan amarahnya.


“Sudah bersih, sekarang waktunya istirahat,” ucap Arzan ia memasukkan sapu tangan milik Inari ke dalam sakunya. Lalu menarik selimut Bara dan menutupi tubuh sang adik sampai ke wajah.


Inari sangat terkejut saat tangannya di tarik oleh Arzan keluar dari ruangan Bara.


Bara menyingkap wajahnya yang di tutupi selimut oleh sang kakak. “Kenapa sih Arzan, enggak biasanya kayak gini,” gerutu Bara dengan wajah kesalnya.


Inari masih mengikuti langkah Arzan yang membawanya melewati lorong sepi. “Kita mau ke mana Tuan?” tanya Inari.

__ADS_1


Arzan membawa Inari sampai ke sudut ruangan yang sepi.


Inari membaca papan nama ruangan yang bertuliskan kamar jenazah. “Kita mau apa di sini tuan?” tanya Inari dengan nada ketakutan. Ia celingak-celinguk mencari tanda-tanda kehidupan dari manusia lain tapi tidak ada.


“Kita perlu bicara,” jawab Arzan dengan wajah seriusnya menatap Inari.


“Di kamar Bara saja, saya-“


“Jadi kamu lebih mementingkan Bara dari pada aku?”


Mata Inari mengerjap saat mendengar ucapan Arzan. Ia terdiam sejenak mencerna ucapan Arzan. “Ini kita sedang membahas apa Tuan?”


Kelebatan ingatan saat Inari menyuapi bara membuat Arzan kembali merasa kesal. “Kamu tidak mengerti bagaimana perasaanku saat melihatmu menyuapi Bara dan begitu perhatian padanya.”


“Sebentar jadi maksudnya Tuan cemburu?” tanya Inari memastikan, ia tidak ingin terlalu percaya diri.


“Kamu kan sudah bilang mau memikirkan jawaban untuk menjadi tunanganku. Kamu lupa?”


Bibir Inari membentuk sebuah senyuman. “Tuan ini bicara apa? saya kan hanya melakukan tugas sebagai pelayan Tuan Bara. Kenapa harus cemburu?”


Senyuman di wajah Inari terlihat sebuah ledekan yang menyebalkan bagi Arzan. Ia berjalan meninggalkan Inari.

__ADS_1


Tidak ingin di tinggal begitu saja Inari berlari menyusul Arzan. “Sayang jangan marah,” ucap Inari menarik tangan Arzan.


__ADS_2