
“Tidak.”
Sudah tahu masih tanya,’ batin Inari kesal.
Mendengar jawaban Inari membuat Arzan merasa tenang.
Inari melanjutkan pekerjaannya membantu melepaskan kemeja Arzan. Setelah itu Inari terdiam memandangi celana Arzan. “Tuan bisa melakukannya sendiri kan?”
“Tidak. Aku butuh bantuanmu,” jawab Arzan dengan wajah yang serius memandang Inari.
Tak banyak yang bisa di lakukan Inari selain menuruti keinginan Arzan. Ia melepaskan ikat pinggang Arzan, lalu membuka pengait celana Arzan.
Inari terdiam sejenak saat harus membuka rel sleting Arzan. “Tuan memakai pakaian dalamkan?” tanya Inari memastikan. Ia tidak ingin terkejut melihat kepolosan Arzan.
“Pakai. Lakukan cepat aku ingin berendam.”
Mendengar rasa tidak sabar Arzan membuat Inari menggerutu di dalam benaknya. ‘Buka sendiri kalau mau cepat-cepat!’
Tangan Inari membuka resleting celana Arzan. Lalu menurunkannya dengan posisi tubuh setengah berdiri. Setelah melepas celana Arzan masih dengan posisi berjongkok Inari di hadapan kan dengan masa depannya. Bagaimana tidak bentukan di balik pakaian dalam Arzan membuat Inari sedikit kacau. Ia tidak heran jika melihatnya di majalah namun ini nyata, dan di depan mata. ‘Astaga tuhan, ini derita atau sebuah kegembiraan?’ batin Inari.
“Kenapa melihatnya seperti itu?”
Kepalanya Inari menengadah ke atas menatap wajah Arzan. “Aku hanya sedikit takjub dengan masa depan,” ucap Inari dengan pipi yang bersemu merah.
“Masa depan?”
Inari mengangguk ia mengarahkan pandangannya pada bagian inti kehidupan di depannya.
“Me’sum!”
Inari segera bangkit dan memberikan tatapan permusuhan pada Arzan. “Seenaknya saja, orang tuan yang membuat pikiran saya ke mana-mana. Sudah besar juga buat apa minta di bukakan pakaian?”
__ADS_1
“Sudah cepat bantu aku pijatkan kepalaku,” ucap Arzan. Ia masuk ke dalam jacuzzi dan menyandarkan tubuhnya. Rasanya sangat relaks.
Sepertinya Inari harus terbiasa dengan sikap random Arzan. Ia berjalan mendekat ke arah Arzan. Membasahi rambut Arzan dengan air, lalu memberikan sampo dan memijatnya.
“Inari,” panggil Arzan.
“Hmmm,” Inari menjawab panggilan Arzan hanya dengan deheman. Sementara tangannya masih serius memijat kepala Arzan.
“Kalau jawabnya seperti itu kayaknya kamu masih marah,” tuduh Arzan.
“Sudah tahu marah, masih saja bertanya,” ketus Bianca.
Arzan mengangkat tubuhnya yang menyandar. Kini ia berbalik dan memperhatikan Inari yang masih terdiam dengan tangan yang penuh busa. “Marah kenapa?”
‘Kamu nanya ... kamu bertanya-tanya aku marah kenapa?’ batin Inari dengan ekspresi kesalnya.
“Harusnya Tuan sadar diri!”
Sebelah alis Arzan terangkat. “Sadar diri apa?”
Tubuhnya membeku saat merasakan pelukan dari arah belakang. “Tuan masih kotor, kenapa memelukku?” tanya Inari dengan nada datarnya.
“Karena kamu marah, jadi sengaja aku buat tambah kesal,” jawab Arzan dengan entengnya.
Inari mencubit tangan Arzan yang melingkar di perutnya untuk melupakan rasa kesalnya. Ia sudah mengeluarkan seluruh tenaganya mencubit Arzan namun pria itu tidak menunjukkan rasa sakit sedikit pun sehingga Inari mencoba mengeluarkan sisa tenangnya.
Setelah merasa puas Inari melepaskan tangannya yang mencubit Arzan. Ia terkejut saat melihat permukaan tangan Arzan berubah warna. “Apa ini sakit?” tanya Inari khawatir.
Bukannya menjawab Arzan malah menyambar bibir Inari.
Inari mendorong Arzan agar menjauh. “Aku tanya serius, ini sakit tidak?” tanya Inari dengan nada marahnya.
__ADS_1
“Memangnya kenapa?”
Inari terdiam memikirkan pertanyaan Arzan. Dia memang sengaja mencubit Arzan, tapi tidak bisa mengabaikan tangan Arzan yang tampak memar.
Inari menundukkan wajahnya. “Maaf,” ucap Inari pelan dengan perasaan bersalahnya.
Arzan menarik dagu Inari. “Tidak perlu minta maaf, aku tidak apa-apa.”
Inari tidak melihat ekspresi marah atau kesal Arzan. Ia merasa semakin bersalah, dan ingin menangis. Hanya karena kekesalannya, Arzan jadi korban. Inari menghambur ke dalam pelukan Arzan, ia menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Arzan.
Dengan senang hati Arzan membalas pelukan Inari, ia mengusap dengan lembut rambut Inari yang setengah basah.
“Pakai bajumu, aku akan menyelesaikan mandiku,” ucap Arzan seraya melepaskan tubuh Inari.
Inari menundukkan wajahnya, tidak berani menatap Arzan. Ia keluar dari kamar mandi dan melihat paper bag yang ada di atas tempat tidur. Saat mengeluarkan barang yang ada di dalamnya ternyata berisi baju tidur berlengan panjang. Inari sudah tidak memedulikan badannya yang terkena tubuh kotor Arzan, ia segera memakai baju tidur tersebut.
Setelah selesai Arzan keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi. Ia mengambil pakaian tidurnya. Arzan melirik ponselnya yang bergetar. Ia menghampiri meja tempat ponselnya di simpan dan melihat panggilan masuk dari Bara.
Arzan menerima panggilan dari Bara. [Bagaimana Inari sudah ketemu?]
Arzan melirik ke arah Inari yang tampak duduk di pinggiran tempat tidur tanpa menoleh ke arahnya. “Belum,” jawab Arzan berbohong. Ia masih ingin menghabiskan malam bersama Inari.
[Kalau begitu aku akan meminta pulang, dan kita cari bersama.]
“Tidak perlu, pulihkan saja tubuhmu. Aku pastikan besok membawa Inari pulang ke rumah,” ucap Arzan memberikan janji agar Bara tidak khawatir dan mencari Inari.
[Baik kak, pastikan kakak menemukannya.]
“Iya.” Arzan menutup panggilan tersebut.
Arzan duduk tepat di samping Inari. “Kamu sudah tidak marah lagi kan?”
__ADS_1
Inari menggelengkan kepalanya tanpa menatap ke arah Arzan.
Arzan meraba pipi mulus Inari dengan tangannya, lalu mencubit pelan pipi Inari. “Kenapa jadi pendiam seperti ini? aku lebih suka kamu bersikap seperti biasa.”