Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Tiga Belas


__ADS_3

Inari menutup mulutnya sendiri, ia baru tersadar telah berbicara sembarangan. “Tidak, tuan salah dengar,” elak Inari.


Arzan menatap wajah Inari yang tampak salah tingkah. “Telinga saya baik-baik saja dan masih bisa mendengar ucapanmu dengan jelas.”


Inari menundukkan kepalanya. “Maaf Tuan, saya salah bicara,” ucap Inari lesu. Ia tidak mungkin menyalahkan telinga Arzan, jelas-jelas yang salah dirinya berbicara tanpa di saring terlebih dahulu. Rasanya Inari sangat malu, sok jual mahal menolak Arzan namun mengakui calon tunangannya Arzan di depan orangnya langsung. ‘Bodoh, bikin malu saja,' batin Inari.


Pintu lift terbuka Arzan berjalan begitu saja keluar dari lift, lalu masuk ke dalam ruangannya. Sekretaris Arzan ikut masuk ke dalam ruangan, ia menyerahkan setumpuk berkas serta melaporkan jadwal Reagan yang memiliki rapat dengan para petinggi perusahaan. Selesai menjalankan tugasnya, sekretaris Arzan keluar dari ruangan kini hanya ada Arzan dan Inari saja yang ada di dalam.


Inari mengambil toples yang ada di meja tamu, dan berjalan menuju meja kerja Arzan. Inari duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Arzan.


Tangan Inari membuka toples berisi camilan dan memperhatikan wajah serius Arzan yang mulai membaca berkasnya. Jika hal yang di lakukan Arzan sangat membosankan bagi Inari, namun memandangi wajah tampan Arzan menjadi hal yang mengasyikkan.


Wajah serius Arzan terlihat menggemaskan bagi Inari, ia menyodorkan tangannya yang memegangi camilan untuk menyuapi Arzan.


Arzan mengalihkan perhatiannya dan menatap Inari. “Saya sedang bekerja, makan sendiri saja,” jawab Arzan. Perhatianya kembali fokus pada berkas promosi yang sedang ia pelajari.

__ADS_1


Inari menarik kembali tangannya, ia memakan kembali camilannya. Satu toples sudah Inari habiskan, kini perutnya terasa penuh.


Arzan memperhatikan Inari yang tidak minum padahal sudah menghabiskan camilan satu toples. Ia berjalan menuju lemari pendingin yang ada di ruangannya.


Inari memperhatikan Arzan yang membawakan minuman untuknya.


Arzan membukakan tutup botol dan memberikannya pada Inari. Ia melihat senyuman Inari yang terlihat sangat manis bagi Arzan.


“Terima kasih,” ucap Inari. Ia menerima botol tersebut dan meminumnya dengan perlahan.


Inari yang sudah kenyang merasa kantuk menyerangnya. Ia berjalan menuju sofa, merebahkan tubuhnya. Ia termenung menatap langit-langit. Tidak tahu harus berbuat apa tanpa sadar Inari pergi ke alam mimpinya.


Arzan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah pukul sebelas siang. Ia menutup berkas dan berjalan menuju sofa. Ia tidak melihat pergerakan Inari sama sekali. ‘Ternyata dia tertidur,' batin Arzan.


Ia mengambil mantel yang sengaja di simpan di lemari yang ada di ruangannya. Arzan kembali menghampiri Inari. Ia menutupi tubuh Inari.

__ADS_1


Arzan membungkuk memperhatikan wajah Inari yang tampak damai dalam tidurnya. Ia merapikan helaian rambut Inari yang menutupi bibirnya.


Arzan tersenyum saat mengingat ciu’man di pagi hari. Tangan Arzan bergerak meraba bibir Inari.


Arzan tidak menyangka akan jatuh cinta pada wanita yang hampir ia tabrak. Ia sangat suka penampilan Inari yang natural seperti ini, saat berdandan tebal memang terlihat dewasa. Tapi Arzan lebih suka Inari yang tampak seperti anak kecil dan salah tingkah.


Arzan terkejut saat tiba-tiba saja tangan Inari melingkar pada lehernya. Tubuh Arzan tertarik begitu saja oleh tangan Inari hingga wajah mereka sangat dekat.


Arzan memperhatikan bibir Inari yang tampak maju seperti ingin men’cium. Tanpa ragu Arzan menempelkan bibirnya pada bibir Inari.


Inari merasa mimpinya sangat nyata, bahkan ia tanpa ragu mencium bibir Arzan di dalam mimpinya. Ia mengisap bibir Arzan tanpa ragu. ‘Tidak ada salahnya menggunakan kesempatan di dalam mimpi, setidaknya setelah ini aku akan mahir berciuman,' batin Inari di dalam mimpinya.


Arzan sangat menikmati ciuman mereka.


Inari merasa mimpinya terasa amat jelas, bahkan indra penciumannya dapat menangkap parfum Arzan. Rasa penasaran Inari semakin menjadi, lama kelamaan ia merasa ciuman ini bukan mimpi. Perlahan tapi pasti ia membuka kelopak matanya.

__ADS_1


Inari sangat ingin berteriak saat melihat wajah Arzan berada tepat di depannya. Belum lagi bibirnya merasakan sesuatu yang basah, Inari melepaskan isapannya. Matanya berkedip, ia sangat canggung dan tidak tahu harus berbuat apa.


__ADS_2