Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Tiga Puluh Empat


__ADS_3

Seperti biasa Inari melaksanakan tugasnya untuk menyiapkan pakaian untuk Arzan, namun beberapa pakian yang sudah ia siapkan masih menggantung di tempatnya, Inari tidak peduli dan kembali menyiapkan baju dengan warna yang berbeda. Ia berdiri di pintu kamar mandi, mendengarkan gemercik air dari dalam. Sudah tiga hari Arzan pulang ke rumah, namun Inari belum sempat berbicara empat mata dengan Arzan karena pria itu selalu menghindar, bahkan tugas ciu’man di pagi hari pun sudah satu minggu tidak Inari dapatkan.


Inari menghembuskan nafasnya, ia harus bersikap profesional dan berjalan menuju kamar Bara. Inari mengetuk pintu kamar Bara. “Tuan,” panggil Inari.


“Masuk saja.”


Mendengar suara Bara yang memberikan ijin Inari membuka knop pintu yang tidak pernah di kunci oleh Bara. Ia melihat tubuh Bara yang masih terbalut selimut di atas tempat tidur. Kaki Inari melangkah menuju walk in closet dan menyiapkan pakaian untuk Bara.


Bara duduk di tempat tidur memandang Inari yang hendak keluar. “Kamu masih murung,” ucap Bara.


Inari mengangkat wajahnya dan menatap Bara dengan senyuman palsu di bibirnya, “Saya baik-baik saja Tuan.”


“Mau pergi ke luar denganku? Untuk menghilangkan kesedihanmu,” ucap Bara menawarkan solusi.


“Tidak Tuan, terima kasih. Saya permisi,” ucap Inari lalu berjalan meninggalkan kamar Bara.


Inari pergi ke ruang makan untuk menyiapkan sarapan namun di sana Ia melihat Arzan yang tengah sarapan seorang diri. Dengan langkah gemetar Inari mendekat ke arah Arzan. “Kita perlu bicara,” ucap Inari.

__ADS_1


Arzan menyimpan garpu dan sendok yang sedang ia pegang. Lalu bangkit dari duduknya. “Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi,” jawab Arzan dengan nada yang terdengar sangat tegas di telinga Inari.


“Ta-“ belum sempat menyelesaikan ucapannya Inari melihat tubuh Arzan yang berjalan menjauh.


***


Malam harinya Inari menunggu di depan pintu kamarnya, berharap Arzan akan datang karena ia sengaja tidak membersihkan kamar Arzan.


Satu jam berlalu Inari mulai merasa pegal, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran Arzan. Ia merasa misinya untuk berbicara berdua dengan Arzan gagal. Namun Inari tak pantang menyerah ia menghampiri kamar Arzan dengan vakum yang sudah ia bawa. Tangannya mengetuk pintu kamar Arzan. Ketukan pertama tidak kunjung di buka.


“Selamat malam Tuan Arzan saya mau membersihkan kamar Tuan,” ucap Inari dengan lantang.


Inari yang merasa kesal memukul pintu kamar Arzan dengan telapak tangannya. ‘Keluar manusia kulkas akan aku panaskan kamu di atas kompor!’ batin Inari berteriak kesal.


Bukannya Arzan yang keluar namun Bara yang keluar dari kamarnya karena merasa terganggu dengan ketukan dari luar. “Sedang apa?” tanya Bara.


Inari melupakan sesuatu, jika di samping kamar Arzan terdapat kamar Bara. Kini ia harus tersenyum dan meladeni pertanyaan Bara. “Tadi tuan Arzan memintaku membersihkan kamarnya, tapi saat aku ketuk dia tidak kunjung keluar.”

__ADS_1


“Kaka sepertinya sudah tidur besok saja lagi. Mending sekarang kamu bersihkan kamarku saja,” pinta Bara.


“Baik tuan,” jawab Inari patuh. Ia sedikit menyesal telah membuat dirinya berada di posisi canggung satu ruangan dengan Bara Setelah kerusuhan yang sudah ia buat.


Bara memperhatikan Inari yang telaten membersihkan debu di kamarnya. “Kamu belum ambil jatah libur, tidak pulang?” tanya Bara.


‘Mau pulang ke mana? Ke rumah papa? Yang ada aku tidak bisa ke sini lagi,’ batin Inari.


“Tidak tuan, mungkin bulan depan saja sekalian,” jawab Inari agar Bara tidak terlalu curiga.


“Bukannya kamu sedang bertengkar dengan kekasihmu kenapa tidak pulang untuk berbaikan saja?”


Inari memikirkan jawaban untuk kata-kata Bara. Sudah jelas Arzan ada di sini, Inari merasa harus mencari jawaban yang masuk di akal. “Kekasihku juga kerja di luar kota, tidak semudah itu bertemu dengannya,” jawab Inari.


“Memangnya apa pekerjaan kekasihmu, tukang kebun?”


Rasanya Inari ingin memukul kepala Bara, pria itu sangat penasaran dan menyebalkan. ‘Kekasihku itu kakakmu!’ batin Inari. Rasanya ia ingin berkata seperti itu kepada Bara. Namun ia urangkan, apalagi hubungannya dengan Arzan sedang renggang.

__ADS_1


“Bukan,” jawab Inari.


__ADS_2