Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Empat Belas


__ADS_3

Inari sangat ingin berteriak saat melihat wajah Arzan berada tepat di depannya. Belum lagi bibirnya merasakan sesuatu yang basah, Inari melepaskan isapannya. Matanya berkedip, ia sangat canggung dan tidak tahu harus berbuat apa.


Arzan menarik diri dan duduk di samping Inari dengan wajah tenangnya. “Sepertinya mimpimu indah sekali, sampai berani menarik leherku dan menc’iumku dengan rakus,” ujar Arzan.


Ucapan Arzan tentang mimpinya yang indah memang betul, namun rasa malunya sampai ke ubun-ubun. Rasanya hilang harga diri Inari yang berciuman hanya karena mimpi.


Inari bangkit dari duduknya, ia menundukkan wajahnya. “Maaf Tuan, tapi ciu’man barusan lebih baik dari ciu’man tadi pagi,” ucap Inari jujur, sekalian tambah malu pikirnya.


Arzan cukup terkejut dengan ucapan inari, namun ia tetap menampilkan wajah datarnya. Ia memilih untuk tidak menjawab ucapan Inari dan berjalan kembali menuju meja kerjanya.


Inari dapat bernafas dengan lega meskipun rasa malunya masih terasa, namun ia berusaha untuk tidak peduli. Untuk menghilangkan rasa bosannya Inari mengambil majalah yang ada di meja dan membolak-balikkannya tanpa rasa minat. Sudut mata Inari melihat pergerakan Arzan yang terlihat santai mengerjakan pekerjaannya.


Inari mencari jam di ruangan Arzan. Ia melihat jam yang menunjukkan pukul dua belas siang. Inari memiliki ide brilian untuk mengingatkan Arzan.


Inari menutup majalah yang ada di pangkuannya lalu menyimpannya kembali pada tempatnya. Tubuh Inari berjalan menghampiri meja Arzan, berdiri tepat di belakang kursi Arzan. Tangan Inari menutup mata Arzan dari belakang. “Waktunya makan siang Tuan,” ucap Inari.

__ADS_1


Bibir Arzan tersenyum mendapat perlakukan yang berbeda dari Inari. Arzan menutup berkas yang sedang ia baca, lalu tangannya membuka telapak tangan Inari yang menutupi matanya.


Bibir Inari tersenyum manis saat Arzan menengok ke arahnya.


“Kamu tidak cuci muka, lihat di matamu ada kotoran.”


Bibir Inari yang tersenyum berubah seketika dengan wajah terkejutnya. Ia segera memalingkan wajahnya ke samping agar Arzan tidak melihat wajahnya yang menjijikkan. “Toiletnya di mana?” tanya Inari tanpa menengok ke arah Arzan.


“Di sana,” jawab Arzan dengan tangan yang menunjuk ke sudut ruangan.


Inari menaruh kedua tangannya di pinggang sambil berjalan menghampiri Arzan yang tengah duduk di sofa.


Inari hendak membuka suaranya untuk protes namun ucapan Arzan mengurungkan niat Inari.


“Ayo makan,” ajak Arzan.

__ADS_1


Mata Inari menatap berbagai macam menu di meja, air liurnya membasahi rongga mulutnya. Makanan yang di pesan Arzan sungguh menggoda selera Inari. Ia segera duduk di samping Arzan saking antusiasnya.


Arzan memperhatikan Inari yang segera membalik piring dan mengisinya dengan lauk. Rasanya terasa aneh, seharusnya Arzan sebagai majikan yang lebih dulu mengambil. Namun ia membiarkan Inari mengambil makanannya sesuka hati. Inari mencicipi makanannya, rasanya sangat enak. Tangan inari menyendok makanan dan menyodorkannya tepat di depan bibir Arzan. “Coba, ini sangat lezat,” ucap Inari dengan wajah yang berbinar.


Sebelumnya Arzan tidak pernah makan di suapi, namun kali ini ia menerima suapan dari Inari.


“Bagaimana rasanya, lezat?”


Arzan mengangguk setuju ia mengambil garpu dan menusuk daging favoritnya. Arzan mencoba menyuapi Inari.


Dengan senang hati Inari menerima suapan Arzan. ‘Kapan lagi coba pelayan di suapi majikan?’ Inari tidak akan melewatkan kesempatan ini.


Rasa dagingnya begitu luar biasa, dan empuk. Dengan mudah inari mengunyah lalu menelannya. “Ini juga lezat,” ujar Inari.


Telepon Arzan bergetar di saku, ia mengambil dan melihat siapa yang menelepon. Arzan segera menerima panggilan tersebut saat melihat nama Bara yang tertera di layar ponselnya. “Ada apa?”

__ADS_1


[Ke rumah sakit sekarang ka, aku kecelakaan.]


__ADS_2