
Setelah kepergian Arzan ke kantor Bara menghadapkan Tubuhnya pada Inari. “Kamu kan beli perawat wajah banyak tuh, mukaku kering banget ada masker enggak?”
Alis Inari terangkat sebelah mendengar ucapan Bara. “Dih enggak modal, beli dong,” ketus Inari.
Bara memberikan ponselnya pada Inari. “Kamu yang carikan produknya yah,” pinta Bara.
Dengan senang hati Inari menerima ponsel Bara ia memesan beberapa rangkaian perawat untuk wajah. “Tinggal tunggu kurir antar aja, aku selesaikan meja makan dulu ya,” ucap Inari. Ia membantu asisten rumah tangga merapikan meja makan.
Bara ke depan menunggu pesanannya, ia duduk bermain game sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Entah sudah menunggu berapa lama tapi penjaga gerbang memberikan pesanan milik Bara.
“Terima kasih pak,” ujar Bara. Ia masuk ke dalam menghampiri Inari yang tengah duduk di pantry.
“Udah ada nih,” ucap Bara.
Inari menerima kotak tersebut dan membukanya. Setelah memastikan pesannya lengkap Inari menengok ke arah Bara. “Cuci muka dulu,” titah Inari.
Bara pergi untuk mencuci mukanya, lalu kembali menghampiri Inari.
Inari pergi mengambil handuk serta peralatan untuk masker wajah. “Di ruang tengah aja yuk, sambil nonton,” ajak Inari.
Bara yang setuju segera mengikuti langkah Inari. Inari duduk bersila lalu menaruh bantal di atas pahanya. “Tidur sini,” pinta Inari seraya menepuk bantal sofa di atas pahanya.
Bara mengikuti arahan Inari. Dengan posisi ini Bara bisa memperhatikan wajah Inari dengan lebih leluasa.
__ADS_1
Inari mengambil handuk yang sudah ia siapkan lalu menyeka wajah Bara yang masih basah.
“Pacar kamu sama aku lebih tampan siapa?” tanya Bara.
“Lebih tampan pacarku,” jawab Inari jujur sambil membayangkan wajah serius Arzan.
Tangan Inari dengan lihai menuangkan masker siap pakai ke dalam wadah. Ia mengambil kuas dan bersiap memulai kegiatannya.
Bara merasakan sensasi dingin saat Inari mengaplikasikan masker dengan kuas pada wajah Bara.
“Masa sih lebih tampan pacarmu?” ucap Bara melanjutkan percakapannya.
“Iya betul lebih tampan pacarku, jadi kamu menyerah saja,” jawab Inari dengan tangan yang tengah meratakan masker ke wajah Bara.
“Tidak akan, sebentar lagi juga kamu akan benar-benar jatuh cinta padaku,” ujar Bara dengan penuh rasa percaya diri.
“Kita lihat saja nanti,” ucap Bara.
“Iya, aku tunggu.”
Selesai mengoleskan masker ke seluruh wajah Bara Inari menyimpan mangkuk masker ke samping tubuhnya. “Bangun,” pinta Inari pada Bara.
“Kamu aku pakaikan masker ya,” usul Bara.
Inari menggelengkan kepalanya karena ia yakin Bara tidak pandai memakaikan masker. “Tidak perlu, aku bisa sendiri,” tolak Inari.
__ADS_1
Bara mengambil salah satu produk dengan warna merah muda. “Ini masker milikmu kan? Siapa yang memperbolehkan kamu memesan masker untukmu?”
Bibir Inari mengatup rapat-rapat, ia lupa memisahkan masker wajah yang ia pesan sekalian dengan produk Bara.
Bara melipat kakinya Seperti yang Inari lakukan, ia menarik kepala Inari ke atas bantal yang ada di pahanya.
“Jangan aku belum mencuci wajah,” tolak Inari berusaha beralasan.
Bara mengambil air minum dari botol yang tersedia di atas meja. Lalu mengambil kapas khusus untuk wajah yang di bawa Inari. Dengan ide kreatifnya Bara membersihkan wajah Inari menggunakan kapas tersebut dan air.
Inari akhirnya memilih pasrah merasakan kapas yang dingin menyapu wajahnya.
Selesai membersihkan wajah, bara mengambil handuk kecil yang baru lalu mengeringkan wajah Inari.
“Pejamkan mata,” titah Bara.
“Untuk apa?” tanya Inari. Ia memperhatikan Bara yang tengah serius mengoleskan masker dengan kuas.
“Nanti kena mata, aku kan amatir,” jujur Bara.
Takur kena sial Inari mengikuti ucapan Bara untuk menutup mata.
Bara tersenyum jahil saat Inari menutup matanya. Dengan lancang Bara menundukkan wajahnya sampai tepat di depan wajah Inari. Dengan bibirnya Bara mendaratkan kecupan pada bibir Inari.
“Baraaaaaaa!” teriak Inari saat merasakan bibirnya di kecup. Ia juga membuka kelopak matanya yang tertutup. Dan memandang wajah Bara dengan tatapan permusuhan.
__ADS_1
Gencar banget ini si Bara nyolong start Arzan 😂😂