
“Kenapa jadi pendiam seperti ini? aku lebih suka kamu bersikap seperti biasa.”
Inari mencoba menampilkan senyumnya, meskipun ia masih merasa tidak enak pada Arzan.
“Pesankan makan malam untukku,” ucap Arzan. Ia membawa baju miliknya dan kembali masuk ke kamar mandi untuk berpakaian.
Inari memesankan makanan untuk Arzan. Ia kembali duduk di sofa dan menyalakan televisi.
Arzan keluar dengan piama yang warnanya senada dengan Inari. Ia duduk di samping Inari memperhatikan layar televisi.
Inari memilih menonton film thriller yang belum ia tonton. Ia melirik Arzan yang tampak sedang mengeluarkan laptopnya. “Ini kan sudah malam,” ucap Inari.
“Iya. Tapi ada pekerjaan yang harus di selesai besok pagi,” jawab Arzan. Matanya fokus pada layar laptopnya.
Suara bel terdengar di telinga Inari. Ia segera menghampiri pintu untuk menerima pesanannya.
Sorang pelayan tersenyum ramah ke arah Inari. “Makan malamnya sudah siap nona.”
“Bawa ke dalam saja,” pinta Inari.
Pelayan tersebut mendorong troli ke dalam. “Selamat menikmati makan malam anda,” ucap pelayan tersebut ramah dan undur diri.
Inari duduk di samping Arzan memperhatikan menu yang ia pesan. Tangan Inari mengambil mangkuk sup. “Sup hangat cocok di makan seletah mandi,” ucap Inari.
__ADS_1
Inari memberikan mangkuk sup tersebut ke arah Arzan. “Ini,” ucap Inari.
Arzan menengok ke arah Inari. “Suapi,” pinta Arzan.
“Ih manja,” ujar Inari.
“Bara saja tadi kamu suapi, kenapa aku tidak,” protes Arzan.
“Baiklah tuan, pelayanmu ini akan melayani dengan senang hati.” Inari mulai menyuapi Arzan.
Arzan menerima setiap suapan Inari sambil fokus bekerja.
Sampai sup di mangkuk habis, Inari mengambil cuci mulut untuk Arzan. Dan kembali menyuapi Arzan.
Setelah selesai makan, Inari menghubungi room servis untuk mengambil troli makannya. Semuanya sudah selesai dan Inari mulai merasa kantuk, namun film yang sedang ia tonton belum selesai.
“Aaaaa,” ucap Inari pelan. Tangannya menutup wajahnya saat melihat adegan pria yang tengah membu’nuh menggunakan pisau daging.
Arzan melirik Inari. “Kenapa di tutup, bukannya sedang menonton?”
“Ngeri,” jawab Inari dengan senyuman yang menampilkan deretan giginya.
Arzan mengambil remot dan mematikan telivisi. “Tidur sana,” titah Arzan.
__ADS_1
Inari yang sedikit mengantuk memilih mengikuti saran Arzan naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut sampai sebatas lehernya. Ia mencoba memejamkan mata.
Satu menit.
Lima menit.
Kepala Inari masih terus bekerja memutar memori hari ini, belum lagi kelebatan kejadian ngeri di dalam film ikut masuk ke dalam pikirannya. Sampai dirinya merasa lelah sendiri. Ingin tidur tapi tidak bisa.
Dua puluh menit berlalu Inari masih belum bisa tidur. Akhirnya ia membuka kembali matanya dan menengok ke arah Arzan yang masih sibuk. “Tidak tidur?” tanya Inari.
“Kenapa belum tidur?” jawab Arzan kembali balik bertanya.
“Tidak bisa tidur,” jawab Inari lesu.
Pekerjaan Arzan sudah selesai ia ikut naik ke atas tempat tidur.
“Kita tidur berdua?” tanya Inari.
“Memangnya kenapa?” Arzan ikut merebahkan tubuhnya di samping Inari.
“Aku-“
“Tidak akan terjadi apa-apa. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak,” ucap Arzan serius.
__ADS_1
Inari percaya pada Arzan, lagi pula saat Inari ma’buk Arzan tidak melakukan apa-apa. Selain ciu’man sialan di pagi hari.
“Awas kalau sampai macam-macam,” ancam Inari dengan menunjukkan kepalan tangannya pada Arzan