Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Sembilan


__ADS_3

Inari terbangun dari tidurnya dengan kepala yang sedikit pusing akibat terlalu banyak minum. Ia menarik selimutnya sampai sebatas leher berniat kembali pergi ke alam mimpi, namun ia merasa aroma yang berbeda.


Inari membuka kelopak matanya, indra penciumannya tidak salah. “Ini seperti wangi milik kamar Arzan,” gumam Inari.


Inari merentangkan otot-otot tubuhnya dengan menggeliat. Mata Inari semakin terbuka lebar saat melihat wajah Arzan yang ada di depannya dengan ekspresi datar.


Inari mengucek kedua matanya untuk memastikan bahwa matanya tidak salah melihat. Kali Inari membuka kelopak matanya dengan perlahan, namun tetap saja Arzan tidak menghilang. Ia menyimpulkan bahwa ini bukan sebuah ilusi. “Tuan,” panggil Inari pelan.


Arzan hanya mengangkat sebelah alisnya.


Inari mengedarkan pandangannya, ia sangat terkejut saat menyadari berada di kamar Arzan. Inari mengintip tubuhnya di balik selimut, ia bisa bernafas dengan lega saat melihat pakaiannya masih lengkap.


Arzan mendekatkan wajahnya pada wajah Inari.


Inari menahan nafasnya saat wajah Arzan berada sepuluh centimeter di depannya. Tangan Inari berusaha mendorong tubuh Arzan agar menjauh darinya.


Arzan menahan tubuhnya agar tidak terdorong. “Kamu telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Aku akan memecatmu hari ini juga,” ucap Arzan.


“Jangan pecat saya tuan, saya akan melakukan apa pun asal jangan memecat saya. Saya membutuhkan pekerjaan ini,” jawab Inari cepat. Dia tidak tahu harus pergi ke mana jika di pecat. Menurutnya menjadi pelayan Arzan dan Bara tidak begitu sulit.


“Aku tidak akan memecatmu, namun kamu harus menciumku,” pinta Arzan masih dengan wajah tenaganya.

__ADS_1


Mulut Inari terbuka lebar saking terkejutnya mendengar permintaan Arzan. “Cium?” Tanya Inari.


“Iya,” jawab Arzan cepat.


Inari terdiam sejenak, ia menormalkan jantungnya yang berdetak kencang. Meskipun ia nakal dan suka minum, tapi Inari belum pernah menjalin hubungan dengan pria apalagi berci’uman.


“Cepat!”


Dari film yang biasa ia lihat wanita akan mengalungkan tangannya pada leher pasangannya. Inari mencoba mempraktikkan, namun jantungnya berdetak semakin tak karuan. Keringat dingin mulai bercucuran, Inari menelan salivanya dengan susah payah.


Melihat wajah Arzan yang terlihat tenang membuat Inari sedikit kesal. ‘Ayo Inari ini adalah ciu’man yang akan menyelamatkan hidupmu,' batin Inari berusaha menyemangati dirinya sendiri.


Inari memajukan wajahnya perlahan hingga bibirnya menempel pada sebuah benda kenyal. “Aaaaaa,” jerit Inari histeris.


Arzan segera menjauhkan tubuhnya dari Inari, telinganya sakit mendengar teriakan Inari. “Berisik!” Bentak Arzan.


Inari bangkit dari tidurnya ia menatap ke arah Arzan dengan wajah sedihnya. “Ciu’man pertamaku hilang.”


Arzan terkekeh mendengar ucapan Inari. “Apa ciu’man pertama? Aku tidak salah dengar?”


Inari melemparkan bantal ke arah Arzan. “Kenapa Tuan tidak percaya padaku? Seharusnya tuan bangga karena mendapatkan ciu’man pertamaku yang paling berharga,” ketus Inari.

__ADS_1


“Ciu’man apa, yang kamu lakukan barusan hanya menempelkan bibir saja,” protes Arzan.


Arzan mendekati tubuh Inari, tangannya menahan tubuh Inari agar tidak menjauh. “Sini biar aku tunjukkan ci’uman yang sebenarnya.”


Inari semakin kalang kabut saat tidak bisa melarikan diri. Tubuhnya membeku saat wajah Arzan berada tepat di depannya. “Tidak perlu Tuan, aku sedang tidak membutuhkannya,” ucap Inari asal.


Arzan seolah tak peduli dengan ucapan Inari, tekadnya sudah bulat. Ia tertarik pada Inari, apalagi Inari terlihat sangat dewasa dengan make-up yang sudah tidak seindah kemarin.


Arzan mengecup bibir Inari, ia memberikan ciu’man yang lembut pada Inari.


Inari berusaha mendorong tubuh Arzan agar menjauh. Bibirnya merasakan benda kenyal, ia tidak terbiasa dengan hal ini. Belum lagi jantungnya serasa mau melompat dari tempatnya mendapat perlakukan lembut dari Arzan.


Arzan menarik dirinya, karena tangan Inari terus mendorong tubuhnya. Ia menatap wajah Inari yang tampak mengatur nafasnya.


“Apa tuan ingin membunuhku?”


“Sedikit,” jawab Arzan asal.


Inari sangat ingin mencekik leher Arzan, bisa-bisanya pria dewasa di depannya ini berkata semudah itu. ‘Apa Anda tidak tahu, nyawa ini sangat berharga. Aku adalah pewaris resmi BA Group, dan tak ingin mati konyol karena ciu’man pertama!’ batin Inari menggerutu.


Arzan melirik jam yang melingkar di tangannya. “Kenapa melamun? Cepat lakukan tugasmu!”

__ADS_1


__ADS_2