Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Delapan Belas


__ADS_3

“Lekas sembuh kesayanganku, Anthony.”


Bara berdecap mendengar ucapan Inari.


“Siapa Anthony, pacar tuan juga?”


“Buang saja parcel itu, dia pria kelainan yang mengejar-ngejarku,” jawab Bara.


Inari memperhatikan parcel buah dari Cecilia. Ia merasa tidak asing dengan nama itu. ‘Ah aku ingat, wanita yang malam itu mengantarkan pulang ke rumah,’ batin Inari. “Tuan saya buka parcelnya ya,” ucap Inari meminta izin.


“Iya.”


Inari membawa beberapa macam buah, ia duduk di kursi yang tersedia di samping Bara. Mengambil pisau serta piring. Inari tidak pandai mengupas buah, karena selama ini ia yang selalu meminta pelayannya mengupaskan buah untuknya.


Bara menatap Inari yang tampak kesulitan mengupas buah, bahkan hasil kupasannya pun sangat tidak rapi. “Apa selama ini kamu tidak pernah mengupas buah?” tanya Bara.


Inari menampilkan deretan giginya. “Selama ini majikanku tidak pernah makan buah, jadi sudah lama sekali aku tidak mengupas buah dan sedikit kesulitan,” jawab Inari. Ia berusaha untuk terlihat normal meskipun rasanya sulit, padahal hanya mengupas apel Inari membutuhkan waktu lima belas menit, wajah Bara sudah tidak berselera melihatnya belum lagi potongannya sangat berantakan.


“Sepertinya pisaunya kurang tajam,” ucap Inari beralasan. Ia mengelap keringat di dahinya dengan punggung tangan.


Bara menarik tisu dan menyodorkannya pada Inari. “Tanganmu kotor setelah mengupas buah, pakai ini.”


Tangan Inari menerima tisu dari Bara dan melanjutkan melap keningnya. Inari bangkit dari duduknya membuang tisu serta cuci tangan. Ia duduk di pinggiran tempat tidur Bara dengan piring buah di tangannya.


Inari menyuapi Bara menggunakan tangannya.


Bara terdiam sejenak, ia merasakan flashback saat kecil ia sering di suapi oleh mamanya. Meskipun potongan buahnya sangat rapi tidak seperti milik Inari.

__ADS_1


Bara menerima suapan Inari dengan perasaan yang tidak karuan. Ia senang karena Inari mengingatkan akan mama, namun sekaligus membuat Bara sedih karena sampai detik ini Bara tidak pernah mendapatkan lagi kasih sayang dari kedua orang tuanya.


“Berapa banyak pacar tuan?” tanya Inari mencoba memecah keheningan.


“Aku tidak ingat,” jawab Bara santai. Ia mengambil potongan buah dan menyuapi Inari.


Inari terdiam, ia memikirkan perasaan Arzan.


“Buka mulutmu.”


Inari mengikuti perintah Bara dan menerima suapan.


“Tuan sepertinya aku sudah tidak bisa menjadi pacarmu lagi,” ucap Inari.


“Tidak bisa, hanya aku yang boleh memutuskanmu,” jawab Bara.


Inari menghembuskan nafasnya saat melihat wajah Bara yang menunjukkan ekspresi tidak ingin di bantah.


“Main apa?” tanya Inari mengambil ponsel pemberian Bara. Sementara tangan lainnya menaruh piring.


“Minecraft,” jawab Bara.


“Itu permainan anak kecil,” jawab Inari asal.


“Kata siapa, kita bisa bangun rumah impian untuk rumah tangga kita nanti,” jawab Bara sambil menaik-naikkan sebelah alisnya.


Inari tersenyum melihat ekspresi gemas Bara. “Untuk apa, toh beberapa detik yang lalu aku sudah meminta mengakhiri hubungan ini.”

__ADS_1


“FF,” usul Bara.


“Enggak ah banyak pemain bocilnya,” tolak Inari.


“Hago deh, kita adu domba,” usul Bara lagi.


“Nah bolehlah, itu mudah,” jawab Inari.


Inari dan Bara larut dalam permainan, mereka mencoba seluruh game yang tersedia. Kekalahan, saling ejek menjadi makanan mereka saat bermain game. Tak ada rasa canggung antara majikan dan pelayan. Semuanya berbaur menjadi satu.


“Hore menang,” ucap Inari bersorak gembira setelah berkali-kali kalah dari Bara.


Inari mengok ke arah Bara karena tidak bersuara. “Yah pantas menang, orang Bara tidur,” gerutu Inari.


Ia mengambil ponsel Bara yang masih menyala lalu mematikannya. Inari menyimpan kedua ponsel Bara ke tempat semula.


Tangan Inari bergerak menutupi tubuh Bara dengan selimut sampai sebatas leher. Inari sangat terkejut saat tangannya di tarik oleh Bara menuju rambut tebal Bara dengan gerakan mengusap.


Inari mengikuti arahan Bara, ia melihat wajah Bara yang tampak nyaman dalam tidurnya.


Inari membelai rambut Bara dengan perlahan memberikan kenyamanan. Ia memperhatikan wajah Bara. ‘Tampan, terlihat seperti anak kecil. Berbeda dengan wajah Arzan yang terlihat berwibawa dan sangat dewasa,’ batin Inari.


Setelah rapat selesai Arzan segera kembali ke rumah sakit. Bukan karena khawatir, tapi ia tidak ingin Bara mengambil kesempatan di tengah kesempitan. Apalagi jika Arzan mengingat kelakuan Bara yang player wanita. Sampai saat ini pun ia sudah tak heran dengan wanita yang mengatakan jika mereka pacarnya Bara.


Sampai di rumah sakit Arzan segera menuju ruangan Bara. Begitu membuka pintu Arzan melihat Inari yang tengah mengelus kepala Bara.


Inari mengacuhkan suara pintu yang terbuka saking fokusnya memandangi wajah Bara, karena ia pikir suster yang masuk.

__ADS_1


“Dia tertidur?” tanya Arzan.


Sontak Inari menengok ke arah suara saat mendengar suara Arzan. “Iya,” jawab Inari canggung. Ia merasa seperti wanita ketahuan berselingkuh.


__ADS_2