Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Tiga Puluh Enam


__ADS_3

Rasanya waktu begitu cepat berlalu, sudah satu minggu Inari menunggu Arzan. Namun Arzan masih tetap cuek, bahkan Inari sengaja berdekatan dengan Bara.


Inari tengah menemani bara Berenang, ia memilih duduk di pinggiran kolam mencelupkan betisnya ke dalam air. Sementara pandangannya kosong, Inari tidak tahu langkah apa yang harus ia ambil. Dirinya tidak ingin memberikan harapan palsu terus menerus pada Bara.


Melihat Inari yang termenung Bara menghampiri Inari. Bahkan saat dirinya sudah di hadapan Inari, ia masih saja melamun. Bara mencipratkan air ke wajah Inari.


Bara menangkup kedua pipi Inari dengan tangannya yang basah. “Melamun saja, padahal pria tampan dan memesona ini ada di hadapanmu,” ujar Bara kesal.


Inari tersenyum tipis menanggapi ucapan Bara. Ia menarik handuk yang tersampai di lehernya, lalu mengeringkan rambut Bara.

__ADS_1


Arzan memperhatikan Inari dan Bara, kini hatinya sudah dapat mengatur rasa cemburu. Meskipun rasa tidak rela itu masih ada. Arzan masih mencintai Inari, meskipun ia sudah tak berinteraksi dengan Inari tapi perasaan itu tidak hilang begitu saja. Arzan membawa cangkir berisi kopi ke dalam kamarnya. Ia duduk, dan menatap layar laptop di depannya. Namun pikirannya melayang saat ia pertama kali berci’uman dengan Inari, momen yang sangat menyenangkan saat bersama Inari begitu Arzan rindukan. Bahkan kini ia harus meminum lagi obat asam lambungnya. Semenjak menjauhi Inari, mantan calon tunangannya itu tidak pernah lagi mengingatkan jadwal makan siang. Dan Arzan yang terlalu fokus pada pekerjaannya sering mengabaikan jam makan siang, hingga terlambat lebih dari tiga jam.


Sementara di kolam berenang Inari memilih bangkit dari duduknya setelah mengeringkan rambut Bara.


Bara menarik tangan Inari yang hendak pergi. “Mau makan malam romantis bersamaku?” tanya Bara dengan tatapan penuh harap Inari akan menerimanya.


“Maaf Tuan, tapi malam ini saya ingin istirahat di kamar saja,” tolak Inari halus.


Inari pamit undur diri karena tugasnya menemani Bara sudah selesai. Ia mengambil waktu jam istirahatnya dengan berdiam diri di kamar, tak ada aktivitas yang ingin Inari lakukan. Perasaan tidak nyaman akhir-akhir ini selalu hinggap di hatinya rasa ingin pulang dan menjadi dirinya yang sesungguhnya. Namun jika ia pulang Inari harus mengikuti keinginan sang Papa untuk menjadi penerusnya.

__ADS_1


Inari memegang ponselnya sebagai fasilitas yang di berikan Arzan. Ia menaruh ponsel tersebut di atas meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya. Inari mengambil pakaian yang pertama kali ia pakai saat pergi dari rumah, lalu memakainya. Inari mencuci segaram pelayannya, setelah rapi dan bersih Inari menyimpannya kembali ke lemari.


Siang hari aktivitas di rumah Arzan memang sepi, meskipun di hari libur. Inari berjalan keluar dari rumah.


“Mau ke mana?” tanya Supri saat melihat Inari yang tidak memakai baju pelayan.


“Mau ke luar, mumpung masih ada waktu istirahat,” ucap Inari.


Supri tidak menaruh curiga sedikitpun, ia membantu membukakan pintu gerbang untuk Inari.

__ADS_1


“Makasih,” ucap Inari tulus. Ia berjalan melangkah dengan perasaan bimbang menjauh dari rumah keluarga Ravindra.


Kini Inari berjalan dengan tujuan, ia ingin bertemu sang papa. Inari berjalan kaki, menuju jalan utama untuk naik angkutan umum. Sepanjang perjalanan pikiran Inari di penuhi rasa ragu akan pilihannya. Tetapi ia memilih tetap untuk melanjutkan perjalanannya.


__ADS_2