Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Empat Puluh Satu


__ADS_3

“Ganti rugi kepadaku lima miliar karena telah membohongiku, dan tampil buruk rupa di pertemuan pertama kita sehingga mataku sakit dan aku harus pergi ke dokter.”


Inari semakin kesal mendengar ucapan Arzan. “Apaan lima miliar, tidak ada. Enak saja jelas-jelas aku yang di rugikan di sini,” bantah Inari.


“Di rugikan apa, kamu sudah membuang waktuku dengan menunggumu yang terlalu lama di toilet. Belum lagi aku sudah memesankan makanan untukmu, seharusnya kamu berterima kasih padaku. Bukan malah meminta ganti rugi.” Arzan menampilkan dirinya yang tidak suka mengalah, dan merasa benar atas tindakan yang di pilihnya. Hal itu membuat Inari tampak semakin kesal dan hendak pergi, namun dengan cepat Arzan menarik tangan Inari.


“Kamu mau ke mana?”


Inari berusaha melepaskan cekalan tangan Arzan di tangannya. “Bukan urusanmu!” sentak Inari kesal.


“Aku akan mengantarmu pulang.”


“Lepaskan, lagi pula Aku tidak mau pulang,” kukuh Inari berusaha melepaskan tangannya.


Arzan tidak membiarkan Inari terlepas darinya, ia membawa Inari masuk ke dalam mobilnya secara paksa.


“Lepaskan Arzan kamu sangat keterlaluan!” bentak Inari dengan nada yang berteriak kesal.


Untuk pertama kalinya Arzan melihat kemarahan Inari, ia membawa tubuh Inari ke dalam pelukannya dan menguncinya.


“Lepaskan Arzan!” Inari memberontak ia sangat kesal pada Arzan. Pria itu benar-benar menyebalkan, Inari ingin melarikan diri dari pria egois ini. Inari ingin membatalkan pernikahan ini saja, cinta saja tak cukup. Jika ternyata Arzan tak mencintainya dan terus menerus bersikap egois.


“Maafkan aku,” ucap Arzan tulus.


Inari terdiam mendengar permintaan maaf Arzan. Air matanya mengalir begitu saja.

__ADS_1


“Maaf karena aku terus menerus membuatmu kesal,” ujar Arzan lagi. Ia menempelkan hidungnya pada hidung Inari, dahinya bertemu dengan dahi Inari yang tertutup helaian rambut. Terakhir Ia menempelkan bibirnya pada bibir Inari. “Maaf.”


Permintaan maaf Arzan seolah sihir yang melenyapkan rasa marah Inari dalam sekejap. Jantungnya berdetak tidak karuan, setelah lama tidak berdekatan seperti ini. Seolah ini mimpi yang nyata saat Inari dapat merasakan ciuman lagi.


Inari membalas ciuman Arzan mereka hanyut beberapa detik dan menarik diri.


Arzam menangkup kedua pipi Inari. Sementara matanya menatap manik jernih Inari yang juga menatapnya. “Kamu pasti membenciku,” ujar Arzan.


Inari yang tidak bisa bebas mengerjakan kepalanya, memilih mengangguk kecil.


“Masih mau menikah denganku?”


Inari menggelengkan kepalanya pelan sebanyak dua kali, lalu mengangguk satu kali.


Inari menggelengkan kepalanya.


“Lalu kamu mau membatalkan pernikahan kita?” tanya Arzan sekali lagi untuk memastikan.


Lagi-lagi Inari menggelengkan kepalanya. “Oke kalau begitu pernikahannya akan aku percepat, satu Minggu lagi,” putus Arzan pada akhirnya.


Bibir Inari mengerucut ia menyingkirkan tangan Arzan yang menangkup di pipinya. “Untuk apa meminta maaf kalau masih bersikap egois,” ketus Inari kesal.


Arzan menatap wajah Inari lekat-lekat. “Inari Alohilani Bramatayuda, maukah kamu menjadi istriku satu-satunya yang aku cinta?”


Inari menahan senyuman di wajahnya, gombalan Arzan berhasil membuat hatinya meletup-letup. Pipinya bersemu merah. “Mau.”

__ADS_1


***


Malam itu ialah malam yang di buat khusus oleh keluarga Kuswanto dan keluarga Ravindra untuk makan malam bersama.


Mereka tampak menikmati makan malam mereka, kecuali Bara yang lebih banyak terdiam dan menundukkan kepalanya.


Inari merasa nyaman berbincang dengan orang tua Arzan meskipun ada rasa canggung dalam dirinya. Ia tidak begitu memedulikan Bara yang tampak murung.


“Inari ke toilet sebentar ya,” pamit Inari. Ia berjalan dengan langkah ringannya menuju toilet, ia pikir orang tua Arzan sangat kaku. Karena selama Inari tidak pernah bertemu, belum lagi sikap orang tua Arzan yang tampak tidak peduli pada anaknya kali ini terlihat seperti keluarga harmonis.


Sampai di toilet Inari mencuci tangan, dan merapikan riasan wajah serta tatanan rambutnya. Selesai ia mencuci tangan dan keluar dari toilet wanita.


Inari sangat terkejut saat di hadapannya ada Bara yang tepat berada di depan pintu toilet. “Bara ada apa?” tanya Inari basa-basi.


“Kenapa kamu menerima perjodohan ini?”


Inari melihat sisi lain dari bara, pria yang jahil dan penuh dengan senyuman ini tampak sangat serius dan menatap tajam. “Memangnya kenapa, aku tidak keberatan dengan perjodohan ini.”


“Kamu membohongiku Inari!” bentak Bara. Ia mendorong tubuh Inari hingga punggungnya membentur dinding.


“Aaaa,” keluh Inari kesakitan.


“Iya, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membohongimu.” Ucapan Inari tepotong karena bahunya sakit di remas oleh Bara cukup kencang.


“Kamu ini bodoh apa bagaimana, jelas-jelas perjodohan ini tidak di dasarkan cinta. Perjodohan ini demi kelancaran bisnis yang sekarang di pegang Arzan, dia mau menikah denganmu hanya untuk memajukan perusahaannya. Bukan karena mencintaimu!”

__ADS_1


__ADS_2