Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Dua Puluh Empat


__ADS_3

“Iya sudah tidur cepat,” titah Arzan. Ia memejamkan matanya untuk segera istirahat. Inari juga ikut memejamkan matanya berusaha untuk tidur.


Inari membuka matanya dan melihat jam, sudah setengah jam sejak Arzan naik ke atas tempat tidur Inari masih belum bisa tidur. Tubuhnya bergerak ke sana kemari mencari posisi nyaman, namun tidak kunjung menemukan.


Arzan merasa terganggu dengan gerakan Inari, ia menarik tubuh Inari ke dalam dekapannya dengan mata terpejam tubuhnya lelah. Ia harus tidur cukup untuk besok kembali beraktivitas.


Inari tidak protes saat tubuhnya di dekap Arzan. Ia mendengar suara nafas teratur dari Arzan. Inari mendekatkan kepalanya pada dada Arzan, suara nafas teratur Arzan dan detakan jantung Arzan membuat Inari merasakan kantuk bahkan dengan mudahnya pergi ke alam mimpi.


Pagi harinya Inari terbangun karena merasakan geli di lehernya. “Apa?” tanya Inari dengan suara khas bangun tidurnya, dengan mata yang masih terpejam enggan terbuka.


“Sudah pagi, kita harus bersiap pulang,” jawab Arzan. Tangannya kembali menggelitiki leher jenjang Inari.


Inari membuka kelopak matanya, ia bangkit dari tidurnya dan duduk. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Arzan duduk bersila di posisi Inari, ia memandang serius pada Inari.


Merasa di perhatikan Inari menengok ke arah Arzan. “Apa?”


“Ciu’man pagi,” jawab Arzan.


Sontak Inari menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya. Inari menggelengkan kepalanya, mulutnya terasa tidak karuan di haruskan berciuman. Dia sangat tidak percaya diri jika harus berciuman setelah bangun tidur. Inari sangat yakin mulutnya bau spiteng.

__ADS_1


“Kamu kan sudah setuju kemarin,” protes Arzan.


“Aku gosok gigi dulu,” jawab Inari masih dengan menutup mulutnya.


“Lama,” jawab Arzan.


“Tapi mulutku bau,” ucap Inari.


“Tidak apa-apa. Kemarin juga kita berci’uman tanpa kamu gosok gigi.”


“Ta-tapi,” gugup Inari.


Merasa tidak aman karena debaran jantungnya Inari memilih mandi dan menghentikan imajinasinya.


Selesai membersihkan tubuhnya, tangan Inari dengan ragu memegang hendel pintu. Inari menghirup udara sebanyak-banyaknya, dan menghembuskannya perlahan mencoba menenangkan diri.


Perasaan Inari mulai tenang, dengan penuh keyakinan jika Arzan akan melupakan permintaan ciu’man mereka.


Pintu kamar mandi terbuka dengan perlahan. Arzan yang sudah bersiaga segera menarik tubuh Inari keluar dan mengimpitnya ke dinding.


Inari terkejut bukan main. “Tu-tuan,” panggil Inari gugup.

__ADS_1


Seolah tak cukup melihat wajah Inari yang terkejut, Arzan menempelkan bibirnya tepat di atas bibir Inari.


Mata Inari membelalak, ia dapat melihat manik indah milik Arzan sedekat ini. Malu di perhatikan oleh Arzan, Inari memilih menutup matanya.


Merasa puas dengan ciu’man pagi hari ini, Arzan menarik diri.


Kelopak mata Inari perlahan terbuka, ia memalingkan wajahnya begitu bertatapan dengan Arzan.


“Kenapa malu-malu seperti itu, padahal ini bukan yang pertama kalinya,” tutur Arzan. Ia berjalan melewati tubuh Inari.


Arzan menghentikan langkahnya. “Cepat pakai baju, saya tunggu di loby. Kita pulang, Bara sudah menunggu,” ucap Arzan.


“Baik Tuan,” jawab Inari. Saat pintu tertutup Inari naik ke atas tempat tidur tubuhnya melompat-lompat di atas tempat tidur untuk melupakan debaran jantungnya yang tidak aman.


“Tuhan jodohkan aku dengan tuan Arzan, ciu’mannya lebih nikmat dari pada wine,” teriak Inari. Karena ia yakin kamarnya kedap suara dan tidak akan ada yang mendengarnya.


***


Yuk bisa yuk bantuin Inari doa suapaya doanya benar-benar terkabul 😊


Kepoin instagramku yuk, kenal aku lebih dekat di @riskaalmahyra. Aku jarang posting promosi karya, jadi kalian gak akan bosan 😅

__ADS_1


__ADS_2