Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Tiga Puluh Tujuh


__ADS_3

Cuaca siang yang cukup panas membuat keringat Inari bercucuran. Sampai di gedung milik Papanya Inari menatap mobilnya yang masih ada di sana. Inari menghembuskan nafasnya, mencoba meyakinkan diri jika ini jalan yang tepat. Setidaknya meskipun hatinya kacau Inari masih menginginkan masa depan. Jadi pelayan pun gajinya tidak begitu besar, rasanya lelah, meskipun ada beberapa momen membahagiakan akan tetapi sudah tak lagi bisa ia rasakan. Ia juga tak ingin terpuruk terlalu lama dengan perasaan tanpa kejelasan.


Inari masuk ke gedung BA grup. Lalu masuk ke lift khusus untuk sampai di ruangan sang Papa.


Seperti biasa Inari masuk tanpa mengetuk pintu. Berjalan dengan langkah angkuhnya dan duduk di hadapan sang papa yang masih serius dengan berkas yang di bacanya. “Papa,” rengek Inari dengan nada manjanya. Ia cukup kesal karena di abaikan.


Kuswanto tidak mengindahkan ucapan Inari, meskipun ia senang dapat melihat anaknya secara langsung dalam keadaan baik-baik saja.


Inari menggebrak meja papanya dengan cukup kencang, namun Kuswanto tampak acuh dan fokus pada pekerjaannya.


“Iya deh Inari mau mengikuti keinginan papa, tapi kembalikan seluruh fasilitas Inari, sama satu lagi. Cici butuh perawatan karena Papa biarkan dia berjemur di bawah terik matahari,” ucap Inari pada akhirnya memilih mengalah karena di diamkan begitu saja oleh Kuswanto.


“Benar kamu akan mengikuti semua keinginan papa?” tanya Kuswanto memastikan.


Inari menganggukkan kepalanya, meskipun ada rasa tidak rela. Masa depannya akan di temani tumpukan kertas yang membosankan.


“Besok pagi kamu sudah bisa masuk kuliah, dan malamnya kamu harus bertemu dengan pria yang akan menjadi suamimu.”


Ucapan Kuswanto bagaikan sambaran petir yang langsung mengenai Inari. Wajah Inari terkejut bukan main. “Kenapa Papa jadi menjodohkan aku? Seenaknya saja!”


“Tadi katanya mau mengikuti semua keinginan papa, kenapa sekarang protes. Kalau tidak terima silahkan pergi lagi!”

__ADS_1


Ucapan Kuswanto sangat menyebalkan bagi Inari, ia sangat ingin pergi saja. Namun pergi pun ia tak punya tujuan, ia tidak mungkin kembali menjadi pelayan. Di tambah ia akan menderita dan susah melupakan Arzan.


Embusan nafas Inari terdengar sampai ke telinga Kuswanto. Ia tidak benar-benar serius menjodohkan Inari, namun jika cocok itu akan sangat bagus. Setidaknya impian Inari bisa tercapai tanpa perlu menderita menghadapi berkas-berkas yang katanya membosankan.


Inari memilih pasrah akan takdir hidupnya yang kini ada di tangan Kuswanto. “Baiklah, tapi awas kalau cowoknya tua dan jelek. Inari tidak mau,” ancam Inari.


Kuswanto mengeluarkan seluruh kartu ATM milik Inari, ponsel dan kunci mobil. Tidak lupa ia menambahkan cek untuk biaya perawatan Cici, mobilnya Inari.


Inari menerima kembali fasilitas miliknya yang di sita oleh Kuswanto, ia keluar dari ruangan Kuswanto dengan perasaan campur aduk tentang perjodohan yang akan ia jalani. Mungkin Inari harus memikirkan cara untuk menggagalkan perjodohan itu.


***


Malam perjodohan pun tiba Inari berpamitan dengan sang Papa, untuk memperlihatkan penampilan rapi dan wajah cantiknya. Ia membawa mobilnya sendiri membelah jalan malam yang cukup padat.


Ajeng menyambut kedatangan Inari dengan cukup meriah. “Sahabat gue kok jadi buluk begini sih?” tanya Ajeng.


“Ih body shaming,” ketus Inari dengan bibir mengerucut.


“Ups kelepasan, maaf ya.”


Inari mengangguk, sebenarnya ia tidak betul-betul tersinggung. Hanya saja ia takut dengan ucapannya Ajeng menyakiti orang lain.

__ADS_1


Ajeng memperhatikan penampilan Inari yang sudah full make up. “Katanya mau make up, tapi kok itu sudah full dempul?”


“Make up pin kayak badut ya, ini Cuma formalitas saja di depan papa. Lagian aku enggak mau juga nikah cepat-cepat apalagi tanpa cinta,” jawab Inari. Ia menarik Ajeng untuk masuk ke dalam.


Mereka mengobrol ke sana kemari tanpa terasa riasan badut ala Ajeng sudah siap. Inari memandangi wajahnya di cermin. Alisnya hitam tebal seperti aspal jalanan dengan bentuk pisau runcing. Blush on yang pink merona membuatnya seperti ondel-ondel berjalan, tidak lupa bibir Jontor yang merah merona membuat penampilannya cukup paripurna untuk mendapat penolakan dari calon suaminya.


“Lo yakin Inari?”


Inari mengangguk, tidak lupa ia mengganti bajunya dengan pakaian terbuka. Tidak lupa ia menambahkan bantalan dada, agar bukit kembarnya menyembul sempurna.


“Terlihat seperti tante-tante girang yang di jalanan itu loh,” tambah Ajeng.


“Ya bagus dong, kan memang itu tujuanku.”


Ajeng melihat tampilan Inari sedikit bergidik ngeri.


“Sudah ah, nanti terlambat lagi. Bye!”


“Bye.”


Inari segera pergi menuju tempatnya untuk bertemu dengan calon suaminya. Ia memastikan penampilannya dulu di cermin sebelum keluar dari mobil.

__ADS_1


Inari di antar pelayan menuju ruang VIP, ia melihat seorang pria yang duduk membelakanginya tampak gagah dengan tuksedo yang di pakainya.


Inari menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nafasnya perlahan. Ia melangkahkan kakinya untuk mendekati meja. Saat pria itu berbalik badan tubuh Inari rasanya kaku seketika, tas yang di tentengnya pun sampai jatuh ke lantai.


__ADS_2