Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Empat Puluh Tiga


__ADS_3

“Aku ingin membatalkan pernikahan kita.”


[Jam makan siang nanti aku akan ke rumahmu untuk membicarakan hal ini.]


“Jangan, jangan ke rumah. Kita bertemu di tempat makan saja,” usul Inari. Ia tidak ingin sampai papanya tahu akan hal ini.


[Baiklah kirimkan saja lokasinya, aku akan ke sana tepat jam makan siang.]


“Iya.” Inari cepat-cepat menutup teleponnya. Ia memegang erat ponselnya. Ada perasaan bimbang yang cukup mendominasi. Rasa takut, gelisah membuatnya tidak karuan. Namun karena jam makan siang akan di mulai tiga puluh menit lagi Inari mengirimkan lokasi tempat mereka akan bertemu lalu bersiap untuk pergi.


Inari sampai lebih dulu di tempat makan tersebut, ia mesan minuman dan duduk dengan rasa gelisahnya.


Minuman Inari sampai, ia meminumnya untuk melegakan tenggorokan. Tidak berapa lama Arzan sampai dan ikut duduk di hadapan Inari.

__ADS_1


Arzan memesan makanan untuk makan siangnya. Setelah kepergian pelayan Arzan menatap Inari. “Ada apa?”


Tangan Inari yang berada di bawah meja saling meremas. “Apa kamu mendapatkan keuntungan dari pernikahan ini?” tanya Inari tanpa basa-basi.


“Iya,” jawab Arzan singkat dan menunggu kelanjutan ucapan Inari.


“Jadi kamu menikah denganku hanya untuk mendapatkan keuntungan itu?” tanya Inari memastikan ucapan Bara.


Bibir Arzan tersenyum ke arah Inari. “Tidak,” jawab Arzan jujur.


“Apa yang perlu di jelaskan?”


Inari kesal bukan main. “Pertama kamu mengakhiri hubungan kita secara sepihak dan membuangku begitu saja, sementara sekarang kamu mau menikah denganku secara tiba-tiba. Sudah jelas jika kamu hanya menginginkan keuntungan yang akan kamu dapatkan dari pernikahan ini.” Inari menarik minumannya karena tenggorokan terasa kering setelah berbicara panjang kali lebar.

__ADS_1


“Aku menjauhimu karena aku tidak bisa memilih kamu atau Bara. Aku sudah pasrah akan takdir dan memilih melepasmu, karena bagiku Bara segalanya untuk hidupku. Namun ... Beberapa hari yang lalu, setelah kepergianmu orang tuaku pulang dan memintaku untuk menerima perjodohan ini.” Arzan menjeda ucapannya. Ia menarik nafas terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya.


“Aku sedikit terkejut saat tahu jika kamu anak tunggal dari pemilik BA Group. Aku bertemu dengan orang tuamu terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk bertemu denganmu. Kita berbincang cukup banyak, bahkan beliau mengatakan jika kamu sempat pergi dari rumah. Aku menerima perjodohan ini memang mendapatkan keuntungan yang cukup banyak, terlepas dari itu ... aku masih mencintaimu. Dan aku tidak akan bisa melihat wanita yang aku cintai bersama pria lain, termasuk adikku sendiri.”


“Tidak perlu membual, jelas-jelas kamu mengacuhkan aku. Bahkan kita tidak seperti pasangan yang beberapa hari lagi akan menikah ... Kita seperti orang asing yang akan bersatu karena ikatan,” protes Inari mengungkapkan apa yang ia rasakan.


“Maaf aku mengabaikanmu karena terlalu sibuk. Aku harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum pernikahan kita berlangsung, agar aku dapat mengambil cuti panjang untuk bulan madu.”


‘Bulan madu.’ Menyadari akan hal itu, pipi Inari bersemu merah, Semerah tomat. Ia tidak menyangka Arzan seromantis ini.


Arzan tersenyum saat melihat Inari tersipu malu. “Masih mau membatalkan pernikahan kita?”


Dengan malu-malu Inari menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Dari kejauhan Bara memperhatikan interaksi antara Arzan dan Inari. Tak ada perdebatan hebat seperti rencananya, bahkan Inari dan Arzan terlihat akur.


Bara kesal bukan main, tangannya mengepal erat. Rencana gagal, ia meninggalkan tempat makan tersebut. Ia melirik untuk terakhir kalinya. Inari dan Arzan terlihat sangat santai berbicara sambil menikmati makan siang mereka.


__ADS_2