
Bara menunggu di depan rumah dengan perasaan waswas. Ia tak henti-hentinya menempelkan ponsel pada telinganya menghubungi Arzan yang tidak kunjung mengangkat teleponnya.
Arzan yang tengah menyetir melirik ponselnya yang terus menyala, namun tidak ia pedulikan. Inari ikut melirik dan melihat nama Bara di sana.
Penjaga gerbang membukakan pintu untuk Arzan. Ia melajukan mobilnya memasuki pekarangan rumah.
Saat mobil terparkir sempurna Inari keluar lebih dulu dari mobil. Ia melihat Bara yang berlari.
Bara berlari menghampiri Inari, ia bersyukur Inari terlihat baik-baik saja.
Inari sangat terkejut saat Bara memeluknya. Tubuh Inari membeku ada perasaan senang mendapat sambutan hangat dari Bara meskipun kemarin Bara telah membuatnya kesal.
“Kamu ke mana saja? Tidak tahukah kamu aku tidak bisa tidur karena memikirkanmu,” ucap Bara tanpa melepaskan pelukannya.
Perhatian Bara membuat hati Inari menghangat. Ia juga bisa melihat lingkaran hitam di bawah mata Bara.
Tidak ingin membuat hatinya merasakan api cemburu Arzan masuk lebih dulu, dan berjalan ke ruang makan.
“Tuan mengkhawatirkanku?” tanya Inari saat pelukannya terlepas.
“Jangan memanggilku Tuan, bicara santai saja.”
__ADS_1
“Baik.” Bibir Inari tersenyum ke arah Bara.
Bara mencubit pipi Inari pelan. “Ke mana saja semalam?”
“Melarikan diri. Habisnya kamu dan Tuan Arzan menyebalkan. Seenaknya saja mengancam mau memecatku, padahal aku sudah bekerja keras. Tapi tidak kalian hargai,” ungkap Inari mengeluarkan unek-unek di hatinya.
Melihat bibir Inari yang cemberut membuat Bara gemas. Ia mengecup bibir Inari.
Mata Inari membelalak sempurna. Ia sangat terkejut dan tidak menyangka Bara akan menciumnya. Inari merasa seperti sedang ketumpahan rezeki berciuman dengan kakaknya dan di cium adiknya. ‘Astaga Inari sadar, kamu harus setia pada Arzan,’ batin Inari.
Inari menampakkan wajah kesalnya. “Aku tidak mau ya di cium lagi seperti barusan!”
“Benarkah?” tanya Bara.
Bukannya mengikuti ucapan Inari, dengan sengaja Bara menangkup pipi Inari dengan kedua tangannya dan Bara memberikan kecupan di kening, kedua sisi pipi Inari, hidung dan terakhir bibirnya.
Inari tidak bisa menghindar karena wajahnya di tangkup Bara.
Bara melepaskan tangannya yang menangkup pipi Inari. Dapat ia pastikan Inari akan marah, namun Bara sengaja memeluk Inari dengan erat. “Aku mencintaimu Inari, jangan pergi lagi.”
Inari mendengar nada tulus dari ucapan Bara yang sebelumnya tidak pernah Inari dengar. Perasaan Inari sangat tidak karuan. Ia tidak menyangka Bara serius seperti ini.
__ADS_1
“Aku tahu ini terlalu cepat, tapi aku ingin kamu menjadi kekasihku,” ungkap Bara. Perlahan ia melepaskan pelukannya dan memperhatikan wajah Inari yang terkejut dan bibir yang terkatup rapat-rapat.
“Tidak bisa, aku sudah punya kekasih,” jawab Inari serius. Berharap Bara akan mengerti.
“Aku tidak peduli, toh kalian masih pacaran dan bisa saja kamu dan dia putus,” jawab Bara enteng.
Inari pikir Bara akan menyerah begitu saja, tapi ternyata anak itu terlalu ambisius.
Bara menarik tangan Inari, “Ayo kita sarapan Kakak pasti sudah menunggu.”
Arzan yang duduk di meja makan menatap kesal ke arah Inari dan Bara yang sangat lama, padahal ia menunggu kedatangan mereka untuk sarapan bersama.
Bara menuntun Inari untuk duduk di kursi yang ada di sampingnya. Inari yang sedikit tidak sadar dirinya seorang pelayan menuruti permintaan Bara tanpa penolakan sedikit pun.
Bara mengambil piring Inari dengan empat roti panggang dan tiga telur mata sapi ke piring milik Inari. “Ini untukmu, pasti semalam kamu sangat kelaparan,” ujar Bara seraya menyerahkan piring tersebut ke hadapan Inari.
“Tapi ini terlalu banyak,” tolak Inari.
“Cepat habiskan,” jawab Bara.
Inari melirik ke arah Arzan yang tampak tenang menikmati sarapannya. Dengan terpaksa Inari memakan sarapan yang sudah di siapkan Bara.
__ADS_1
Meskipun Arzan tampak tenang menikmati makannya, namun pikirannya terisi dengan penuh pertanyaan pada sikap Bara yang berbeda dari biasanya. Ia hafal betul sikap adiknya yang tidak pernah repot-repot memanjakan wanita karena seluruh kekasihnya begitu memuja Bara dan mau melakukan apa saja. Namun kali ini tampak sangat janggal dan hal tersebut cukup menyita perhatian Arzan. ‘Sepertinya tidak mungkin Bara menyukai Inari,’ Sangkal Arzan.