
“Bara tidak setuju!” sentak Bara.
“Kamu ini anak kecil tidak perlu ikut campur, urus saja kuliahmu. Jadilah anak yang bisa di banggakan seperti kakakmu, bukan mengurus wanita saja!”
Bara memandang ke arah ayahnya dengan tatapan kesal, rasa senang karena kedatangan Ayahnya memudar seketika. Kini ia tahu jika sampai kapan pun ia tidak akan pernah mendapatkan kasih sayang. Di mata ayahnya hanya Arzan yang mampu di banggakan, tidak seperti dirinya yang hanya mendapatkan kemarahan dari ayahnya sendiri.
Bara memilih pergi tanpa sepatah kata pun.
Melihat hal itu Arzan hendak menyusul namun langkahnya di hentikan oleh suara Ayahnya. “Jangan memanjakannya terus, dia juga harus belajar jadi dewasa.”
Arzan mengangguk dan ia memilih pergi ke kamarnya. Bibirnya tersenyum saat kepalanya memutar bayangan wajah Inari dengan riasan badutnya yang menggelikan.
***
Inari pulang ke rumah dengan wajah kesalnya.
“Kenapa kamu?” Tanya Kuswanto setibanya Inari.
“Menyebalkan,” keluh Inari.
“Pria itu membuatmu kesal?” tanya Kuswanto memastikan.
Inari mengangguk lalu duduk di samping papanya. “Papa dapat dari mana si cowok kayak begitu, dia sangat menyebalkan,” keluh Inari mengeluarkan unek-uneknya.
“Dia pria yang baik kok, sopan. Tampan, dan usianya pun tidak terpaut jauh denganmu, papa rasa kalian akan mudah cocok. Jadi bagian mana yang menyebabkannya?”
__ADS_1
“Dia buru-buru pulang dan lupa membayar tagihan makanannya.” Inari menyandarkan punggungnya.
Sementara Kuswanto menatap serius ke arah putrinya. “Lalu yang membuatmu kesal karena harus membayar makanan?”
“Ya iya pa, masa perempuan yang bayar makanannya. Cowok macam apa coba yang begitu,” jawab Inari kesal.
“Ya sudah temui lagi saja, minta dia untuk mengganti uangmu,” usul Kuswanto. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan nomor Arzan kepada ponsel Inari.
Inari melihat pesan masuk ke dalam ponselnya, berisi nomor Arzan. “Dia itu sibuk, mana mau bertemu denganku.”
“Tahu dari mana kamu jika dia sibuk, lagi pula besok hari libur. Sepertinya ia bisa bertemu. Oh iya, pernikahan kalian akan di gelar dua Minggu lagi, jadi papa harap kamu bisa lebih dekat dengannya.”
“Apa dua Minggu?” tanya Inari Dangan nada terkejutnya.
Dua Minggu waktu yang sangat sebentar, Inari ingin menolak perjodohan ini. Tapi ia masih mencintai Arzan. Perjodohan ini seperti kesempatan yang memaksa untuk di terima.
“Inari kan baru masuk kuliah, semester satu saja belum tuntas sudah di nikahkan. Ini terlalu cepat, tunggu Inari lulus kuliah saja ya,” tawar Inari.
“Tidak bisa Inari, kamu mau tidak. Kalau tidak papa tidak masalah dan akan membatalkan semuanya.”
Inari mengerucutkan bibirnya. “Iya Inari mau, tapi ini terlalu cepat pa. Menikahnya saat Inari semester empat saja deh ya,” mohon Inari.
Kuswanto menggelengkan kepalanya. “Pilihannya hanya dua, mau atau tidak?”
“Papaaaa,” rengek Inari.
__ADS_1
“Kenapa tidak mau?”
“Mau,” jawab Inari dengan bibir yang mengerucut.
Kuswanto tersenyum melihat jawaban dan ekspresi putrinya. “Ya sudah hubungi dia, dan kalian coba baju pengantin bersama-sama.”
Inari memandangi kepergian sang Papa, ia memandangi ponselnya yang menampilkan nomor telepon Arzan.
Inari terdiam cukup lama, ia tidak tahu harus menelepon Arzan atau tidak. Ia merasa sangat canggung, apalagi kejadian riasan wajah tadi membuat kepercayaan diri Inari menjadi nol persen.
“Telepon ... tidak ... telepon.” Tangan Inari menekan tombol untuk menghubungi Arzan. Namun dengan cepat ia kembali memutusnya sebelum tersambung.
“Tidak bisa, ini sangat memalukan. Masa aku yang menelepon lebih dulu. Seharusnya papa saja yang memberitahu Arzan jika harus mencoba baju pengantin,” ucap Inari pada dirinya sendiri.
Inari terkejut bukan main bahkan ponselnya sampai terlempar ke lantai saat mendapat panggilan masuk dari Arzan.
“Asta Arzaaan kamu membuatku rugi berkali-kali lipat, huhuhu ponselku,” ucap Inari sedih saat melihat ponselnya yang tergeletak di lantai dengan keadaan layar yang retak.
Inari memungut ponselnya, dan menerima panggilan dari Arzan. “Ha-halo,” jawab Inari. Tangannya menepuk bibirnya yang tiba-tiba saja gagap, sangat memalukan.
[Besok aku akan menjemputmu pagi-pagi di rumah untuk mencoba baju pengantin.]
“I-“ ucapan Inari belum selesai namun Arzan memutuskan sambungannya secara sepihak.
‘Aaa kenapa Arzan jadi sangat menyebalkan sekali?’
__ADS_1