
Bara sampai di rumah di antar oleh beberapa mantan pacarnya. “Hati-hati honey,” ucap seorang wanita dari dalam mobil sambil melambaikan tangannya.
Bara membalas lambaian tangan wanita tersebut yang bahkan sampai detik ini ia lupa namanya siapa.
Bara masuk ke dalam rumah dan mengetuk pintu kamar Inari.
Inari yang sedang menikmati waktu leha-lehanya merasa terganggu. Ia bangkit dari rebahannya dan membuka pintu kamar.
Bara menyerahkan paper bag yang ia bawa khusus untuk Inari.
“Apa itu?” tanya Inari sebelum menerima barang pemberian dari Bara.
“Gaun untuk nanti makan malam,” jawab Bara.
Inari merasakan firasat yang tidak enak, makan malam pakai gaun.
“Kok bengong gitu, ini terima,” ucap Bara sambil memaksa Inari mengambil alih paper bag tersebut.
“Sampai jumpa nanti malam,” ujar Bara meninggalkan Inari yang masih sibuk dengan pikirannya.
“Gawat,” ucap Inari pelan, ia mengigit kecil bibir bawahnya. Ia takut Bara akan mengungkapkan perasaannya, belum lagi mengingat sifat Bara Inari tidak akan bisa berkutik.
__ADS_1
Sepanjang hari Inari terdiam diri di kamar memikirkan berbagai cara untuk menolak pernyataan cinta Bara sehalus mungkin agar ia tidak di pecat begitu saja.
Sampai hari mulai gelap Inari belum menemukan kata-kata yang pas. Ia mulai frustasi, apalagi jam makan malam sebentar lagi. Tidak lama juga Bara pasti datang kemari.
Benar saja dugaan Inari pintu kamarnya Terdengar di ketuk dari luar. Inari mulai panik, ia membuka laci di kamarnya kebetulan ada sebuah koyo, ide cemerlang Inari berjalan dengan lancar. Ia menempelkan koyo tersebut di kedua sisi keningnya lalu ia menarik selimut untuk menggulung tubuhnya. Dengan perlahan inari membuka pintu dengan ekspresi yang berubah tampak pusing dan kesakitan.
Bara sangat terkejut mendapati Inari yang tidak tampil cantik menggunakan gaun yang ia beli khusus untuk Inari.
“Maaf Bara, aku tidak bisa pergi. Badanku meriang,” ucap Inari. Tubuhnya ikut bergetar agar aktingnya sempurna.
Wajah Bara tampak kecewa padahal ia sudah berusaha menghafal susunan kalimat untuk mengungkapkan perasaannya pada Inari. “Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja,” ucap Bara dengan berat hati. Ia berjalan meninggalkan kamar Inari dengan langkah lesunya.
Inari menutup pintu kamarnya dan kini ia bisa bernafas dengan lega.
“Rencanaku menyatakan perasaan gagal total,” jawab Bara dengan nada suara yang tidak bersemangat.
“Kamu bisa menyatakan perasaanmu lain kali,” usul Arzan.
“Iya ka.”
“Inari ke mana? Sepertinya dia lupa membersihkan kamarku,” ucap Arzan.
__ADS_1
“Sakit ka,” jawab Bara.
Arzan sedikit terkejut mendengar kabar Inari sakit.
Bara yang sedang tidak fokus melewatkan hal penting, untuk pertama kalinya Arzan menampilkan wajah khawatir namun Bara tidak menyadari hal itu.
“Aku ke kamar ya ka,” pamit Bara.
Arzan mengangguk dan berjalan menuju kamar Inari. Ia mengetuk pintu kamar Inari. “Inari,” panggil Arzan.
Inari sedikit terlonjak saat mendengar panggilan dari Arzan. Inari membuka pintu kamarnya dengan ekspresi wajah yang persis ia tunjukan pada Bara.
“Mau periksa ke doker?” tanya Arzan dengan wajah yang khawatir melihat kondisi Inari.
“Tidak perlu, aku sudah minum obat,” tolak Inari halus. Jika di periksa yang ada dirinya ketahuan sedang berbohong.
“Sudah makan?”
Inari merapatkan selimut ke tubuhnya. “Belum,” jawab Inari.
“Tunggu saja di kamar, aku akan membawakanmu makanan.”
__ADS_1
“Terima kasih,” ucap Inari tulus. Ia bisa melihat dengan jelas wajah khawatir Arzan. ‘Maafkan aku sayang, telah membohongimu,’ batin Inari dengan perasaan bersalahnya.