
Pagi itu tiba kini Inari tengah duduk di samping Arzan yang fokus menyetir, sementara kepala Inari melihat ke arah samping. Enggan untuk menatap Arzan, pagi-pagi saja Inari sudah di buat kesal. Inari menunggu dua jam, setelah siap untuk pergi hanya karena Arzan ada urusan mendadak. Entah mengapa ia merasa sikap Arzan sangat berbeda saat mereka berpacaran, sekarang ini menyebalkan. Bukan menyebalkan lagi, SANGAT MENYEBALKAN.
Dan lihat seolah tak membuat kesalahan sikap Arzan sangat santai, sementara hati Inari dongkol bukan main.
Arzan sesekali melirik Inari yang masih membuang muka karena marah, tapi bagi Arzan itu bukan masalah besar. Hitung-hitung pembelajaran sebelum mereka benar-benar menikah. Karena jika mereka menikah Arzan akan sangat sibuk, dan bisa saja membatalkan janjinya pada Inari.
Arzan memarkirkan mobilnya setelah sampai di tempat desainer yang membuat gaun khusus untuk pernikahan mereka.
Saat mobil terparkir sempurna semangat Inari hilang begitu saja, ia masih kesal pada Arzan.
“Ayo cepat!”
Bentakan serta tatapan mata Arzan membuat Inari semakin bertambah kesal. Dengan amarah yang ada di dadanya Inari keluar dari mobil dan membanting pintu mobil cukup kencang sebagai bentuk rasa marahnya. Ia berharap berhasil membuat Arzan kesal, namun lihat pria itu tampak santai meskipun mobilnya menjadi pelampiasan Inari. ‘Ya tuhan dia makhluk macam apa, kenapa senang sekali membuatku kesal?’
Seorang pelayan menyambut kedatangan Inari dan Arzan. Mereka membantu menunjukkan ruangan untuk mencoba pakaian yang sudah di siapkan.
Inari mencoba gaun pengantin di ruang yang berbeda. Ia di bantu oleh seorang pekerja wanita. “Syukurlah sangat pas gaunnya, mati kita keluar dan tunjukkan keindahan ini pada calon suami nona.”
__ADS_1
“Tidak perlu,” jawab Inari. Ia memandangi gaun putih yang sangat pas di tubuhnya.
“Tapi nona,” ucap pelayan tersebut ragu.
“Aku bilang tidak perlu, kamu dengar tidak?” Ketus Inari dengan sedikit membentak. Inari melihat pelayan wanita tersebut tampak ketakutan, ada rasa bersalah dalam diri Inari. Bagaimana pun juga ia pernah merasakan rasanya jadi seorang pelayan, namun rasa kesalnya pada Arzan membuatnya tidak sengaja membentak wanita tersebut. “Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu,” ujar Inari.
Pelayan tersebut tersenyum ke arah Inari. “Tidak apa nona, nona tidak perlu meminta maaf. Ini kesalahan saya karena terlalu memaksa.”
Inari tahu betul jika pelayan itu tidak ingin terkena masalah sehingga memilih menyalahkan dirinya sendiri. “Sekali lagi aku minta maaf,” ujar Inari. Ia masuk ke ruangan untuk mengganti pakaiannya. Lalu berjalan keluar dengan baju yang ia pakai semula.
Arzan juga tampak keluar dari ruang ganti dengan pakaian miliknya yang tadi. Mereka seolah tak peduli untuk menunjukkan pakaian untuk pernikahan.
Teriknya matahari membuat kulit Inari sedikit terbakar, beruntung ia memakai sunscreen SPF lima puluh + sehingga dirinya tidak takut kulitnya akan rusak.
Tetapi Arzan tidak kunjung keluar, akhirnya Inari berjalan dan bersembunyi di rindangnya pepohonan. Matanya memicing ke arah pintu masuk, menunggu Arzan keluar dari dalam sana.
Saat Inari melihat Arzan keluar dari pintu mata Inari memberikan tatapan laser miliknya yang cukup tajam. Ia sudah menunggu Arzan lama sekali.
__ADS_1
Arzan yang merasa di perhatikan menengok ke arah samping dan melihat wajah Inari yang tampak kesal.
“Kenapa lama sekali, aku menunggumu di sini sampai kakiku pegal,” protes Inari.
“Suruh siapa kamu buru-buru keluar, sebagai calon istri seharusnya kamu berada di sisiku. Membicarakan gaun pengantin yang akan di pakai, bukan melarikan diri seperti anak kecil.”
Kata-kata Arzan terdengar sangat pedas, Inari tidak suka. Ia berusaha menahan tangis dan membuang mukanya agar Arzan tidak melihat wajahnya yang hampir menangis.
Kaki Arzan melangkah semakin mendekati tubuh Inari.
Inari yang terkejut dengan sikap Arzan membuatnya menahan nafas saat tubuh Arzan sangat dekat. “A-apa yang kamu lakukan?” tanya Inari gugup. Jaraknya dengan Arzan sangat dekat, bahan dua centimeter lagi wajah Inari menempel di dada Arzan. Dada Inari berdetak hebat, setelah satu Minggu tidak berdekatan dengan Arzan tubuhnya kembali berdisko.
Tangan Arzan terulur mengambil daun kering yang ada di rambut Inari, lalu membuangnya. “Ada daun kering di rambutmu.”
Tatapan Arzan membuat Inari rasanya sangat gugup, namun terus menerus seperti ini akan membuatnya kalang kabut tidak karuan. Akhirnya ia mengangkat tangannya ke hadapan Arzan.
Arzan melihat telapak tangan Inari yang mendekat ke arahnya, seolah meminta sesuatu. “Apa?” tanya Arzan tidak mengerti.
__ADS_1
“Ganti rugi satu miliar karena telah meninggalkanku sendirian lalu menyuruhku membayar makanan yang tidak aku pesan,” pinta Inari dengan nada sombongnya.
Arzan melakukan hal yang sama, seperti yang Inari lakukan. “Ganti rugi kepadaku lima miliar karena telah membohongiku, dan tampil buruk rupa di pertemuan pertama kita sehingga mataku sakit dan aku harus pergi ke dokter.”