Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Empat Puluh Empat


__ADS_3

Pernikahan Inari dan Arzan berlangsung cukup meriah, dan berjalan lancar tanpa hambatan sedikit pun. Hanya saja wajah tak senang dari Bara akan pernikahan kakaknya cukup kentara.


Saat sesi foto sebelum acara berakhir pun tak segan Bara menampilkan wajah tak senang.


Sebelum kembali ke kamar hotel Arzan menghampiri bara yang tengah duduk di antara kursi kosong dengan sebotol anggur di hadapannya.


Arzan ikut duduk di hadapan Bara. “Kamu masih tidak bisa terima?”


“Hmmm.”


“Maaf tapi kali ini aku tak bisa mengalah,” ujar Arzan tak enak hati.


“Sejak kehadiran Inari kakak kan tidak peduli padaku. Jadi untuk apa meminta maaf, terlambat!”


Arzan terdiam memperhatikan Bara yang menenggak Anggurnya.


“Aku sudah berusaha mengejar Inari, bahkan memutuskan seluruh pacarku demi dia. Tapi nyatanya dengan mudah dia lebih memilihmu, dari pada pengorbanan yang aku lakukan,” ucap Bara mengeluarkan keluh kesahnya.


“Mungkin Inari bukan jodohmu,” ucap Arzan.


Ya jelas bukan orang Inari jodohnya Arzan kok hihihi.


“Bukan tidak berjodoh, kakak saja yang terlalu egois ingin mengambil kesempatan sekaligus,” ketus Bara tak terima.


Arzan hanya menghela nafasnya mendengar ucapan ketus Bara. Ia memilih untuk pergi meninggalkan Bara menuju kamarnya dan Inari untuk malam ini.


Bara masuk ke dalam kamar, ia melihat Inari yang tengah membersihkan riasan wajahnya di depan meja rias.


“Aku mandi duluan ya,” ucap Arzan. Setelah mendapat persetujuan berupa anggukan kepala Inari ia masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Inari menahan debaran jantungnya yang semakin tidak aman. Ia segera membersihkan riasan wajah, dan merapikan rambutnya yang berantakan. Selesai Inari membuka gaunnya dan mengenakan kimono untuk mandi.


Selesai membersihkan tubuhnya Arzan keluar dari kamar mandi dan berhadapan langsung dengan Inari. “Jangan terlalu lama, nanti masuk angin,” ucap Arzan mengingatkan. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam.


“Iya.” Inari segera masuk ke dalam kamar mandi. Air hangat dari shower terasa menyegarkan kulit yang lengket. Inari menepati ucapannya untuk tidak mandi terlalu lama. Inari menggunakan pakaian tidur panjangnya.

__ADS_1


Setelah berpakaian lengkap Inari hendak keluar, namun tangannya tertahan di hendel pintu. Ia cukup gugup berada di dalam satu ruangan bersama Arzan.


Sepuluh menit Inari berdiam di balik pintu tanpa membukanya, ia meyakinkan diri jika malam ini tak akan terjadi hal apa pun. Ia hanya cukup keluar dan naik ke tempat tidur lalu menutupi tubuhnya dengan selimut, selesai.


Inari meyakinkan diri bahwa semuanya akan berjalan baik-baik saja, baru membuka pintu Inari di hadapkan dengan Arzan yang bertelanjang dada.


“Aaa kenapa kamu tidak memakai baju,” teriak Inari. Ia menutup wajahnya dengan tangan, namun matanya mengintip lewat sela-sela jarinya.


“Aku rasa ini bukan pertama kalinya kamu melihatku bertelanjang dada,” jawab Arzan. Ia cukup heran dengan tingkah Inari.


Inari membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Apa yang di katakan Arzan memang benar, tapi ucap temannya akan malam pertama membuat Inari tak bisa berpikir dengan jernih. “Ah iya aku lupa,” jawab Inari dengan senyuman lebar yang menampilkan deretan giginya.


Inari memperhatikan manik Arzan yang melihat penampilan Inari yang hanya memakai piama panjang. Sadar di perhatikan Inari pura-pura menguap. “Aku mengantuk sekali,” ujar Inari. Ia naik ke atas tempat tidur dan menutupi tubuhnya sampai sebatas leher. Lalu memejamkan matanya.


Arzan ikut naik ke atas tempat tidur, ia mengikuti Inari yang merebahkan tubuhnya dengan terlentang. Namun rasanya tidak asyik menatap langit-langit kamar. Akhirnya Arzan mengubah posisi tubuhnya, tubuh bagian atasnya terangkat dengan tangan yang menahan bobot tubuhnya. Ia dapat leluasa memperhatikan wajah Inari.


Jari Arzan menekan-nekan hidung Inari. “Jangan pura-pura tidur Inari, aku tahu kamu masih bangun.”


Inari membuka kelopak matanya perlahan dan bola matanya melebar sempurna ia sangat terkejut saat wajah Arzan berada di atasnya.


“Membuatmu tidak bisa berjalan.”


Senyuman smirk yang pertama kali Inari lihat dari wajah Arzan membuatnya merinding dan ketakutan dalam waktu bersamaan.


***


Arzan sedikit terganggu akibat bel yang terdengar cukup nyaring, ia melirik Inari yang masih tertidur namun tampak terganggu karena bunyi tersebut. Arzan memungut celananya yang berada di lantai lalu mengenakannya. Ia membuka pintu kamar hotelnya tak begitu lebar.


“Ada apa?” tanya Arzan saat melihat Bara yang berada di depan pintu kamarnya.


“Aku lupa memberikan kado pernikahan untuk Inari.” Bara menyerahkan kotak yang ia bawa kepada Arzan.


“Kalau begitu aku permisi, silakan bersenang-senang.”


Arzan mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya, ia membuka kotak tersebut. Tangannya mengepal erat melihat isi kotak tersebut. Arzan membuang hadiah pemberian Bara ke tempat sampah.

__ADS_1


“Ada siapa?” tanya Inari saat melihat Arzan berjalan mendekati tempat tidur.


“Pelayan hotel,” jawab Arzan berbohong.


Inari hendak bangkit dari tidurnya namun bagian bawahnya terasa sangat sakit. Mengingat kejadian semalam membuat Inari kesal dan malu sekaligus. “Arzaaaaan aku membencimu!”


Arzan tersenyum menanggapi ucapan Inari. “Mau ke kamar mandi? sini biar aku bantu.”


Bibir Inari mengerucut kesal. Sementara ia tidak protes saat Arzan mengangkat tubuhnya, bahkan Inari mengalungkan tangannya pada leher Arzan. Tidak hanya itu kepala Inari bersandar pada dada bidang Arzan yang polos tanpa kain.


Sampai di kamar mandi Inari meminta Arzan untuk keluar, ia juga ingin membersihkan tubuhnya yang lengket. Meskipun kesulitan bergerak karena rasa sakit di bagian intinya namun Inari harus tetap beraktivitas. Selesai membersihkan tubuhnya Inari keluar dari kamar mandi dengan handuk kimono yang membalut tubuhnya.


“Selamat ulang tahun istriku.”


Inari terharu saat melihat Arzan yang sudah rapi, tangannya membawa kue ulang tahun dengan lilin yang menyala. Ia pikir Arzan tidak mengingatnya, karena tepat jam dua belas malam setelah menyelesaikan urusan ranjangnya Arzan tidak berbicara apa pun.


“Ayo berdoa dan tiup lilinnya,” ucap Arzan saat melihat Inari yang terpaku.


Inari mengangguk, ia mendekat dan meniup lilin tersebut. “Terima kasih,” ucap Inari dengan air mata yang menetes saking terharunya.


Arzan menyimpan kue ke atas meja, lalu memeluk tubuh Inari dengan erat. ‘Aku akan menjagamu dengan sebaik mungkin, bahkan dari adikku sendiri.’


Inari merasa kebahagiaan di hari yang turut-turut. Kemarin ia bahagia karena akhirnya bisa menikah dengan orang yang ia cintai. Kini ia mendapat kejutan dari suaminya. Rasa lelah dan cemas yang ia rasakan kini sirna, hanya kebahagiaan dan senyuman yang tercetak di bibir Inari. ‘Terima kasih tuhan, aku sangat bahagia akan takdir hidup yang telah engkau atur sebaik mungkin.’


_-TAMAT-_


Halo semuanya ☺️


Kisah Arzan dan Inari belum usai, untuk season kedua mungkin akan aku tulis di Juli awal. Aku tidak bisa lanjut sekarang karena idenya belum matang, takut berhenti di tengah jalan, semoga kalian sabar menunggu.


Untuk info karyaku kalian bisa ke Instagram ku riskaalamahyra atau jangan unsubscribe kisah Inari di rak buku kalian, karena aku akan infokan juga di karya ini untuk season duanya.


Terima kasih untuk kalian semua yang membaca sampai akhir, apalagi yang udah kasih semangat lewat komentar, like dan dukungan lainnya. Karena dukungan kalian sangat berarti bagi aku.


Sampai jumpa lagi, semoga di berikan kesehatan dan rezeki yang lancar untuk kita semua. Aku sayang kalian semua 💕

__ADS_1


__ADS_2