
“Aku sangat mencintaimu Inari.”
Arzan tidak bisa menyaksikan keseluruhan percakapan adik serta calon tunangannya. Ia memilih pergi dari rumah.
Inari mendorong tubuh Bara agar menjauh. “Kamu berkata apa sih, tidak tahu harus kapan menyerah?”
Bara mengambil tangan Inari dan menggenggamnya. “Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyerah Inari,” jawab Bara dengan wajah seriusnya.
Inari memilih menarik tangannya dari genggaman Bara. Ia menatap Bara dengan wajah kesalnya. “Aku ini sudah memiliki kekasih, bahkan sebentar lagi aku akan tunangan. Lebih baik kamu menyerah saja dan cari wanita lain. Karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyakiti perasaan kekasihku,” tandas Inari.
“Kalau begitu aku akan menikahimu,” ucap Bara dengan lantang.
__ADS_1
Inari memberikan tamparan tepat di pipi Bara dengan sekuat tenaga sebagai balasannya. “Jangan berbicara hal yang tidak-tidak, aku tidak mencintaimu Bara.”
Bara cukup terkejut dengan perlakuan Inari yang di luar dugaannya, bukannya sakit hati Bara merasa semakin tertantang untuk mendapatkan Inari.
“Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya.”
Inari memilih berlari meninggalkan Bara, ia tak ingin mendengar ucapan di luar nalar yang terus keluar dari mulut Bara membuatnya kesal bukan main. Inari masuk ke dalam kamarnya lalu berjalan menuju kamar mandi yang terbuka, namun Inari tidak menemukan keberadaan Arzan.
Inari merasa Arzan tidak mungkin keluar begitu saja, lagi pula ia berada di kamar Arzan bersama Bara. “Astaga,” ucap Inari dengan nada paniknya. Ia takut Arzan mendengar percakapan mereka.
Sesampainya di gerbang Inari tersenyum ramah pada penjaga. “Pak melihat tuan Arzan?” tanya Inari.
__ADS_1
“Lima menit yang lalu tuan Arzan keluar dengan mobilnya,” jawab penjaga.
Inari terdiam sejenak memikirkan cara untuk bertemu dengan Arzan. Namun ia tidak tahu juga Arzan pergi ke mana, akhirnya Inari mencoba menghubungi nomor Arzan kembali. “Ayo angkat,” gumam Inari menunggu teleponnya di angkat.
Inari berdecap kesal saat panggilannya lagi-lagi di abaikan oleh Arzan.
Arzan terduduk di meja kerjanya, ia memandangi handuk yang melilit di pinggangnya. Akhirnya ia mengambil celana yang tersedia di ruangannya lalu memakainya di toilet.
Arzan mendekat ke arah mejanya, ia melihat ponselnya yang lagi-lagi mendapat panggilan dari Inari. Arzan menghela nafasnya dan ia kembali mengabaikan telepon Inari. Sementara pandangannya kembali lurus pada jendela besar yang ada di ruangannya. Hari sudah malam, tak ada satu pun pekerja yang masih ada di ruangannya selain Arzan.
Perasaannya sangat terkejut mendapati jika Bara mencintai Inari. Padahal Arzan sudah sangat serius pada Inari, ia tidak ingin kehilangan Inari. Wanita yang membuatnya jatuh cinta dalam hitungan jam.
__ADS_1
Namun ia tidak ingin menghancurkan perasaan Bara, terlebih ucapan Adiknya terdengar sangat serius dan Arzan tidak bisa mengesampingkan fakta itu. Ia takut Bara kecewa, apalagi jika tahu tentang hubungannya dengan Inari. “Kenapa kamu tidak bilang padaku dari awal,” ucap Arzan dengan nada frustrasinya padahal tidak ada siapapun di ruangannya.
Arzan tidak bisa memilih salah satunya, Inari penting baginya. Begitu juga dengan Bara, sang adik kandungnya sangat-sangat penting bagi Arzan.