Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Tiga Puluh Delapan


__ADS_3

Saat pria itu berbalik badan tubuh Inari rasanya kaku seketika, tas yang di tentengnya pun sampai jatuh ke lantai. Ia tidak pernah menyangka jika pria yang akan di jodohkan dengannya ialah Arzan.


“Apa ada masalah?” tanya Arzan.


“Ti-tidak ada,” jawab Inari gugup. Dari suaranya kali ini ucapan Arzan terdengar sangat dingin di telinga Inari. Tubuh Inari merunduk dengan tangan yang mengambil tas miliknya di lantai lalu berjalan mendekat ke meja yang ada di tengah ruangan.


Inari menangkap gerakan mata Arzan yang memerintahkannya untuk duduk, ia duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Arzan.


“Namamu Inari Alohilani Bramatayududa?” tanya Arzan memastikan.


Inari tak berani menatap wajah Arzan, ia memilih menundukkan wajahnya. “Iya,” jawab Inari singkat.


“Apa kamu setuju dengan perjodohan ini?” tanya Arzan.


‘Tidak setuju’ jawab Inari dalam hati. Bodoh jika ia mengeluarkan kata itu, bagaimana juga perasaannya masih mencintai Arzan. Tapi kini ia berada di dalam dilema, rasanya memalukan jika ia menerima perjodohan ini. Sementara ia sudah membuat kekacauan pada wajahnya. ‘Tuhan tolong putar waktu kembali ke beberapa menit yang lalu, aku ingin tampil cantik saja.’

__ADS_1


Andai ia tahu pria yang di jodohkannya Arzan ia akan tampil cantik. Rasanya memalukan sekali jika Inari menerima perjodohan ini dengan kondisi wajah seperti ini, terlebih lagi Arzan tidak menyadari bahwa wanita yang ada di hadapannya Inari. Hal itu membuat Inari sudah menjawab, ia bisa saja menerima perjodohan ini. Tapi bagaimana bisa pria setampan Arzan mau menikah dengan badut Ancol. Inari rasanya mau menangis saja, kenapa nasibnya sial sekali.


Arzan memperhatikan wanita di hadapannya tertunduk tanpa menjawab pertanyaannya. Tangan Arzan mengeluarkan sapu tangan dari dalam sakunya. Tangannya yang memegang sapu tangan terulur ke arah Inari. “Hapus riasan wajahmu itu, kamu lebih cantik tanpa riasan wajah.”


Inari mengangkat wajahnya menatap Arzan. Ia sangat terkejut dengan ucapan Arzan, tidak ingin kehilangan kesempatan ia melarikan diri dari hadapan Arzan untuk menghapus riasan wajahnya.


Arzan hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Inari.


Sampai di toilet Inari menghapus wajahnya dengan perasaan malu, dari ucapan Arzan dapat Inari simpulkan jika Arxan tahu bahwa dirinya adalah Inari. “Aaaa bagaimana ini?” ucap Inari pada dirinya sendiri yang ada di pantulan cermin. Ia benar-benar malu berpenampilan seperti tadi.


Kaki Inari pegal, perutnya pun mulai terasa lapar. Ia juga belum makan malam. Inari memutuskan untuk keluar dari toilet dan berjalan masuk ke ruangan private tadi. Inari menyiapkan dirinya agar tetap tenang saat berada di hadapan Arzan. Begitu pintu Inari buka ia tidak melihat keberadaan Arzan, kaki Inari melangkah mendekati meja. Matanya menangkap makanan yang tersaji di atas meja, namun tidak melihat keberadaan Arzan. Ada secarik kertas di atas meja, Inari mengambil dan membacanya. “Makanlah, aku ada urusan.”


Tangan Inari meremas kertas kecil tersebut sehingga membentuk bulatan kecil, ia sangat kesal karena Arzan meninggalkannya begitu saja.


Makanan di atas meja cukup menggodanya, Inari memilih untuk mengisi perutnya sebelum pulang. Setelah selesai makan seorang pelayan menghampiri meja Inari memberikan struk tagihannya. Mata Inari melongo karena Arzan belum membayarnya, ‘Arzan aku membencimu,' batin Inari berteriak kesal. Sudah di tinggalkan begitu saja kini Inari harus membayar makanan yang tidak ia pesan.

__ADS_1


Arzan sudah menunggu Inari cukup lama, ia pikir Inari malu jika bertemu dengannya. Dan akhirnya Arzan memilih untuk pulang, sesampainya di rumah sang Ayah tampak menanti kedatangan Arzan di ruang tamu.


“Bagaimana?”


“Berjalan lancar,” jawab Arzan cuek.


Dari dalam Bara tampak menghampiri kakak dan ayahnya yang sedang berbincang mengenai perjodohan kakaknya. “Bara ingin lihat wanita yang akan menjadi kakak ipar Bara.”


Arzan memilih diam, sementara sang ayah menunjukkan foto Inari yang ada di layar ponselnya pada Bara.


Wajah Bara terkejut bukan main, ia tidak menyangka jika wanita yang akan di jodohkan dengan Arzan itu Inari. “Ayah tidak salah, wanita itu kan seorang pelayan?”


“Pelayan dari mana, sembarangan kamu. Dia ini akan tunggal dari pemilik BA Grup, perusahaan kita akan semakin berkembang jika bersatu dalam ikatan pernikahan ini.”


“Bara tidak setuju!” sentak Bara.

__ADS_1


__ADS_2