Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Delapan


__ADS_3

“Dapat dari toko kelontong mana, cewek modelan begini?”


Inari cukup kesal mendengar hinaan yang di lontarkan Cecilia. “Kok bisa sih sayang kamu pacaran sama modelan orang tipes kayak begini, enggak ada aura cantik-cantiknya sama sekali,” balas Inari tak ingin kalah.


Mita yang berdiri tidak jauh dari mereka berusaha menengahi. “Apaan sih kok malah main sindir, kita ke sini kan mau happy. Minum nih,” tawar Mita. Tangan Mita yang terisi gelas memberikannya pada Inari dan Cecilia.


Inari minum dengan perlahan menikmati sensasi nikmat minuman yang Al ko hol.


Bara memperhatikan raut wajah Inari yang terlihat santai meminum minuman yang di berikan Mita.


Inari menatap ke arah Bara, tugasnya di sini untuk menyelesaikan misi Bara. Dan Inari ingin menikmati pesta ini juga. Minuman yang mereka pesan dari brand ternama, dengan harga kantong mahasiswa. Inari yang terbiasa minum minuman mahal tak masalah yang penting sensasinya memuaskan.


Bara mengisi kembali gelas milik Inari. Ia menunggu reaksi Inari, kekasihnya itu tampak santai meminumnya.


“Kamu sering minum?” tanya Bara.


Inari terdiam sejenak. “Tidak terlalu,” jawab Inari.


Bara mengambil gelas dan menuangkannya. Ia meminumnya dalam sekali tenggak.


Cecilia merasa hanya menjadi penonton antara Bara dan Inari. Ia memilih pergi menghampiri pacarnya, sementara Mita memberikan waktu untuk mereka berdua.


“Tuan-“


“Jangan memanggilku dengan sebutan itu, kamu sadar kita sedang apa? Lagi pula aku ini pacarmu,” ucap Bara mengingatkan.

__ADS_1


“Baiklah.”


Mereka terdiam cukup lama, namun Inari dan Bara telah menghabiskan satu botol.


“Kamu tidak bergabung bersama temanmu?” tanya Inari.


Bara menengok ke arah teman-temannya yang sedang asyik. “Biasanya mereka memakai. Aku bukan pemakai, kalau bukan untuk memperkenalkanmu rasanya aku malas datang kemari,” ucap Bara dengan jujur.


Inari cukup kuat terhadap Al ko hol, namun sepertinya Bara tidak. Inari menatap teman-teman Bara yang tengah dalam pengaruh obat yang mereka pakai.


“Kita pulang saja,” ujar Inari.


Bara hanya mengangguk. Inari berjalan bersama Bara dengan sedikit terhuyung, meskipun ia kuat terhadap minuman namun jika melebihi batas kemampuannya Inari tidak dapat mengatur seluruh tubuhnya, kepalanya sedikit berdenyut.


Sesampainya di parkiran seorang wanita menghadang Bara. “Kamu selingkuh dariku?”


“Apaan sih berisik,” ketus Bara.


“Kamu bawa pacarku minum sengaja ya buat mengambil kesempatan dalam kesempitan?”


Inari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kamu siapa sih, ganggu banget!”


“Aku tuh Vera, pacarnya Bara.”


Mulut Inari sedikit menganga. “Bukannya pacar Bara tuh Cecilia cewek yang di dalam?”

__ADS_1


“Cecilia siapa, pacar Bara itu aku Vera! ... Ayo sayang aku antar pulang,” ucap Vera. Ia mengambil alih memapah Bara untuk sampai di mobil.


Inari hanya mengekor saja.


Vera membantu Bara masuk ke dalam mobilnya.


"Untuk apa kamu ikut masuk?" tanya Vera kesal.


"Aku ini pelayan di rumah Bara, tolong antar kita ya. aku gak bisa bawa mobil. kepalaku sakit," keluh Inari seraya memegang kepalanya yang sedikit pusing.


"Merepotkan saja," keluh Vera.


Inari tidak peduli dengan ucapan Vera. ia duduk di kursi belakang, sementara Bara duduk di depan bersama Vera.


Vera yang sudah hafal letak rumah Bara mengantarkan mereka selamat sampai tujuan. "Kita sudah sampai," ujar Vera.


Inari bangkit dari bersandarnya dan ia keluar dari mobil dengan langkah sempoyongan.


Sementara Vera membantu Bara berjalan, mereka masuk ke dalam rumah.


Arzan berdiri di ruang tamu dengan tangan yang terlipat rapi di dada. ia memperhatikan Inari dan Bara yang dalam kondisi mabuk.


Vera yang sudah mengenal Arzan tersenyum ke arah calon kakak iparnya. "Bara mabuk lagi, katanya wanita ini pelayan di rumah ini," ujar Vera seraya menunjuk Inari.


"Iya, biar saya yang mengurusnya. Antarkan Bara ke kamarnya," titah Arzan.

__ADS_1


Vera mengangguk dan mengantarkan Bara ke kamarnya.


Sementara Arzan membimbing tubuh Inari masuk ke dalam kamar milik Arzan. "Kamu harus mendapatkan hukuman," batin Arzan. ia merebahkan tubuh Inari di tempat tidur.


__ADS_2