
“Kamu melakukan kesalahan lagi Inari, kerjamu tidak betul. Tiga kesalahan lagi kamu saya pecat.”
“Betul Ka pecat saja, Riri enggak bagus kerjanya. Tidak memuaskan.”
Mendengar ucapan Arzan dan Bara membuat Inari kesal bukan main. Tidak tahukah mereka bahwa Inari juga merasakan lelah, ia sudah berusaha untuk memberikan yang terbaik dalam dirinya. Namun ia merasa Arzan dan Bara tidak menghargainya. ‘Papa Inari mau pulang,’ batin Inari sedih. Ia memilih keluar dari ruang rawat Bara dengan berlari entah ke mana.
Rasanya Inari sangat ingin menangis, belum genap satu minggu ia menjadi seorang pelayan tapi Inari sangat ingin menyerah saja.
Inari berlari hingga sampai di depan rumah sakit, ia melihat sebuah taman tidak jauh darinya. Ia menengok ke kanan dan kiri, lampu jalanan berubah merah, kendaraan berhenti dan inilah kesempatan Inari untuk menyeberang.
Sampai di taman Inari berjalan perlahan. Sinar mentari sore tidak begitu menyengat. Mata Inari melihat sebuah kursi taman yang berada di bawah pohon yang rindang. Ia berjalan dan duduk di kursi tersebut. Dadanya masih sedikit memburu setelah berlari, ia mengatur nafasnya. Menyandarkan punggungnya.
Punggung tangan Inari menghapus keringat yang membasahi keningnya. Inari berada di posisi yang sama lagi, tidak memiliki uang sepeser pun. Dia tidak mau kembali pada Arzan, rasa egonya masih menguasai Inari.
Jika lepas dari Arzan sudah dapat di pastikan Inari akan menjadi gelan’dangan. Namun ia terlalu gengsi jika harus kembali pada Arzan dan Bara. Embusan nafas lelah keluar dari mulut Inari. “Sial,” gerutu Inari.
Inari memilih diam, memandangi kakinya yang terasa lelah. Ia melupakan satu hal penting. Tangannya meraba saku. Bibirnya tersenyum saat melihat benda pipih yang di berikan Arzan masih ada padanya.
Tanpa pikir panjang Inari bangkit dari duduknya ia berjalan dengan langkah penuh semangatnya. Keluar dari Area taman, indra penglihatan Inari di suguhkan gedung tinggi. Sebuah hotel yang cukup mewah. Bibir Inari tersenyum dengan wajah penuh semangat, ia menari tempat penarikan uang. Setelah sampai Inari mengecek saldo milik Arzan. Mata Inari tercengang melihat deretan angka. Tidak ingin salah melihat Inari mencoba menghitung deretan angkanya. “Satu ... dua ... tiga ... empat ... lima ... enam ... tujuh ... delapan ... sembilan ... sepuluh.”
Inari cukup terkejut, Arzan memberikan kartu ATM dengan saldo yang cukup fantastis. Saking tidak percayanya Inari kembali menghitung deretan angka tersebut. “Astaga saldo lima miliar seenaknya saja Arzan berikan pada seorang pelayan sepertiku,” ucap Inari seorang diri. Ia keluar dari ruangan kotak tersebut menuju hotel.
Inari memesan kamar VIP. Sesampainya di kamar, Inari menghempaskan tubuh lelahnya ke atas tempat tidur yang empuk. “Aaaah nikmatnya,” ujar Inari. Ia memejamkan matanya, seluruh beban yang ada di tubuhnya terasa ikut terhempas.
Bunyi cacing di perut Inari membuat matanya terbuka, ia segera memesan makanan dengan berbagai menu. Sebagai ganti makan siangnya yang terbuang akibat Bara.
__ADS_1
Setelah menunggu akhirnya makanannya tiba juga, Inari makan dengan sangat lahap. Tiga menu yang ia pesan ludes seketika. Perutnya sudah terasa penuh, kini badannya terasa sangat gerah.
Inari pergi ke kamar mandi. Whirlpool jacuzzi terlihat sangat menggiurkan, Inari segera mendekat. Setelah melakukan pengisian air sambil menunggu Inari melepaskan seluruh pakaiannya. Air sudah terisi ia kini menghidupkan pompanya dan menyalakan jet. Inari memilih pijat hidroterapi.
Dengan perlahan Inari memosisikan tubuhnya di dalam jacuzzi. Tubuh Inari terasa sangat rileks, ia memejamkan matanya. Sudah tiga hari tubuhnya bekerja kelelahan, rasanya sangat nikmat bisa memanjakan tubuhnya.
Selesai memanjakan tubuhnya Inari keluar dari kamar mandi dengan jubah mandi. Langkah Inari terhenti di depan pintu kamar mandi saat melihat tubuh Arzan di depannya. “Tu-tuan,” cicit Inari.
Arzan meneliti penampilan Inari yang hanya memakai jubah mandi. Wajahnya terlihat biasa saja, ia pikir Inari sudah melupakan kejadian tadi.
Kaki Arzan melangkah menghampiri Inari dan memeluk tubuh calon tunangannya. Kini ia bisa bernafas dengan lega saat melihat Inari baik-baik saja. “Syukurlah kamu baik-baik saja.”
Inari terdiam tanpa membalas pelukan Arzan. Ia masih terkejut Arzan bisa masuk ke kamarnya, padahal Inari memesan kamar VIP tidak bisa sembarang orang yang masuk ke kamarnya. “Kenapa Tuan bisa masuk?”
Inari tersenyum ke arah Arzan dengan perasaan canggung. Bagaimana bisa ia seceroboh ini melarikan diri di sarang milik Arzan. ‘Kalau begini namanya bukan melarikan diri,' batin Inari.
Arzan mencubit pipi Inari dengan gemas, “Jangan membuatku khawatir lagi.”
Bibir Inari mengerucut sempurna, sementara tangannya menggosok pipinya yang terasa sakit akibat cubitan Arzan.
Arzan melepaskan pelukannya, ia menarik tangan Inari untuk kembali ke dalam. “Ayo bantu aku mandi,” ucap Arzan.
Inari menahan tubuhnya. “Tidak mau,” tolak Inari. Ia berusaha menarik tangannya agar terlepas dari Arzan.
Arzan memperkuat tenaganya untuk menarik Inari. “Ayo cepat, kamu pelayanku jadi harus melayaniku dengan baik.”
__ADS_1
Dengan kekuatan penuh Inari menghempaskan tangan Arzan begitu saja. “Saya memang seorang pelayan, tapi tuan tidak bisa menginjak-injak harga diri saya seperti ini. Bukannya tuan ingin memecat saya?”
Arzan mengerti kenapa Inari marah, sepertinya Inari tersinggung karena ucapannya.
“Kalau kamu memang mau di pecat, ganti rugi uang saya yang kamu pakai sekarang juga,” pinta Arzan. Jelas-jelas Arzan sendiri tahu jika Inari tidak memiliki uang, dan ini cara yang tepat agar Inari tidak akan pernah pergi darinya.
“Selalu uang saja yang tuan bahas,” ketus Inari.
“Upahmu tiga hari ini tidak akan bisa menutupi kerugian yang saya dapat. Jadi cepat bantu saya mandi.”
Inari sangat kesal, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menurut. Ia menyiapkan air hangat untuk Arzan.
“Bantu aku membuka baju,” pinta Arzan lagi.
Inari mencebik kesal. Ia berdiri di depan tubuh Arzan. Tangan Inari membuka dasi yang melingkar di leher Arzan lalu melemparkannya ke sembarang arah melampiaskan sedikit rasa kesalnya.
Arzan senang melihat wajah kesal Inari. Ia terus memandanginya dengan serius.
Inari menarik kemeja Arzan dengan sengaja hingga seluruh kancingnya terlepas.
Arzan menarik dagu Inari agar menatapnya. “Kamu marah?”
“Tidak,” jawab Inari ketus.
'Sudah tahu masih tanya,' batin Inari kesal.
__ADS_1