Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Enam


__ADS_3

Sesampainya di rumah Bara menatap Inari lekat-lekat. “Awas saja kalau sampai mengecewakan, kamu aku pecat!”


“Tenang saja, saya akan menjadi ratu yang sangat memesona,” jawab Inari dengan penuh percaya diri.


Bara berjalan menuju kamarnya, ia mengistirahatkan tubuhnya yang terlalu lelah. Berbelanja dengan wanita menghabiskan separuh tenaganya.


Setelah kepergian Bara, Inari segera pergi ke kamarnya. Ia mengeluarkan seluruh barang belanjaannya. Wajah Inari terlihat sangat antusias, ia segera memulai rutinitasnya merawat wajah dan badannya.


Tidak terasa langit mulai gelap Inari sudah selesai dengan perawatan tubuhnya. Bahkan ia sudah mandi dan hanya memakai lilitan handuk yang membungkus tubuhnya. Inari duduk pada meja rias kecil yang ada di kamarnya, ia mulai mengeringkan rambutnya namun suara ketukan di pintu kamarnya membuat Inari menghentikan aktivitasnya. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan membuka pintu.


Arzan memperhatikan pintu yang mulai terbuka menampilkan tubuh polos Inari yang hanya terbalut handuk.


“Ada apa Tuan?” tanya Inari dengan wajah polosnya, serta senyum yang ia buat semanis mungkin.


“Jika tidak berpakaian jangan sembarangan membuka pintu, saya bisa melihat bukit kembarmu dengan jelas,” ujar Arzan seraya pandangannya menuju bukit kembar milik Inari.


Inari menatap bukit kembarnya yang sedikit menyembul ke atas karena terikat lilitan handuk. “Kenapa memangnya? apa Tuan tergoda. Saya menghabiskan lima botol serum agar Tina dan Tini tumbuh subur, halus dan kenyal,” jawab Inari dengan jujur.


Arzan menyentil kening Inari yang terlalu sembrono dalam berbicara. Meskipun apa yang di katakan Inari bisa Arzan lihat dengan jelas hasilnya, namun sangat tidak sopan berbicara sembarangan seperti itu. Tidak ingin larut dalam naf’sunya Arzan lebih memilih menatap mata Inari. “Kamu melupakan satu tugas penting hari ini, asam lambung saya kambuh gara-gara kamu tidak mengingatkan saya untuk makan siang,” protes Arzan menyampaikan maksud dan tujuannya datang menemui Inari.


Inari menundukkan kepalanya. “Maaf tuan saya melupakan hal penting tersebut, karena Tuan bara meminta saya untuk menemaninya.”


“Itu bukan sebuah alasan!” bentak Arzan.


Dengan kepala menunduk bibir Inari mencebik kesal, ‘Seenaknya saja bentak-bentak, aku laporkan Papa tahu rasa loh,' batin Inari kesal mendengar bentakan dari Arzan.


“Maaf Tuan,” ujar Inari tak ingin mendapatkan masalah besar.

__ADS_1


“Maaf saja tidak cukup. Bahkan kesalahan kamu terlalu banyak, kamu juga tidak membersihkan kamar saya.”


‘Mampus,' batin Inari. Ia merutuki dirinya sendiri yang terlalu ceroboh karena kesenangan membeli barang, sehingga melupakan semua tugasnya. “Maaf Tuan,” ujar Inari dengan suara yang pelan.


“Terus saja meminta maaf! saya mau saat nanti saya hendak tidur, kamar saya harus bersih dari debu. Tiga jam bagimu untuk membersihkannya saya rasa lebih dari cukup.”


“Cukup Tuan, saya akan membersihkan kamar Tuan secepatnya,” jawab Inari.


Arzan memberikan tatapan tajamnya pada Inari sebelum berjalan meninggalkan Inari.


Inari menatap tubuh Arzan yang menjauh, ia segera kembali masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamar. Inari segera melanjutkan aktivitasnya untuk berias. Dia tidak boleh mengecewakan Bara.


Tepat pukul tujuh malam, Inari sudah selesai berias dan menggunakan gaun yang di belikan oleh Bara. Ia keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang depan.


Arzan yang tengah menikmati makan malamnya menengok saat ujung matanya melihat wanita yang memakai gaun merah darah. “Inari,” panggil Arzan.


Inari menghentikan langkahnya dan melihat ke arah yang memanggil namanya. Bibir Inari tersenyum saat melihat Arzan yang memanggilnya. “Iya Tuan,” jawab Inari.


“Pergi ke pesta,” jawab Inari. Tangan Inari mengibaskan rambutnya yang pari purna, ia juga mengedipkan sebelah matanya ke arah Arzan.


Sebelah alis Arzan terangkat satu melihat sikap genit Inari. “Siapa yang memperbolehkanmu pergi ke pesta. Kamu belum membersihkan kamarku,” ketus Arzan.


Wajah genit Inari berubah jadi terkejut, ia melupakan tugasnya lagi. Tapi tidak mungkin sudah cantik pari purna seperti ini ia harus bergelut dengan kegiatan yang melelahkan, yang ada make up nya luntur seketika.


Bara yang sudah siap segera menghampiri Inari. “Kenapa lama sekali, ayo cepat,” ucap Bara seraya menarik tangan Inari.


“Bara kamu mau membawanya ke mana? Inari belum membersihkan kamarku,” tanya Arzan.

__ADS_1


“Ke Pesta, Kakak jangan menghalangiku. Ini masalah penting, menyangkut harga diriku,” jawab Bara.


“Tapi Inari belum melakukan tugasnya, bahkan karena ulahmu dia melalaikan semua pekerjaannya. Dan kakak akan memotong uang jajan kamu,” tegas Arzan.


Mendengar uang jajannya di potong Bara tidak bisa membiarkan itu semua terjadi, apalagi Inari sudah menguras uang jajannya. “Kalau urusan kamar itu bisa di atur, kakak kan tidur jam sepuluh malam. Bara akan membawa Inari pulang sampai rumah pukul sembilan, jadi dia masih bisa melakukan tugasnya. Iya kan Riri?” tanya Bara meminta bantuan pada Inari.


“I-iya tuan,” jawab Inari. Meskipun ia yakin jika acara pesta tidak akan secepat itu.


Tidak ingin memperpanjang masalah Arzan menganggukkan kepalanya setuju. Ia membiarkan Bara membawa Inari pergi.


Bara menarik tangan Inari untuk mengikuti langkahnya menuju garasi.


Inari memandang takjub pada deretan mobil limited edition yang berjejer rapi di dalam garasi. Inari sangat ingin mencobanya. “Tuan, kita akan memakai mobil yang mana?” Tanya Inari penasaran.


Bara menunjuk mobilnya miliknya. Inari memandang lesu ke arah mobil yang di tunjuk Bara, mobil yang persis seperti milik Inari hanya berbeda warna saja. “Kenapa kita tidak memakai ini?”


“Jangan, itu milik kak Arzan. Lecet sedikit saja, aku bisa mati berdiri di tangan Kak Arzan,” jawab Bara. Bara sedikit merinding saat mengingat momen ia membuat lecet mobil milik kakaknya.


Inari mengangguk mengerti, pasalnya mobil milik Arzan harganya cukup fantastis. Pantas saja Bara takut, membayar kosmetik yang harganya sepuluh juta saja dia sudah seperti kehilangan lima puluh persen uang jajannya, apalagi jika harus ganti rugi mobil Arzan. Inari perkirakan Bara tidak akan mendapatkan uang jatah bulanannya dalam waktu tiga bulan atau bahkan lebih.


“Ayo cepat!” teriak Bara. Mata Bara memperhatikan tubuh tegap Inari. Ia baru menyadari make-up yang di gunakan Inari sangat cocok dengan warna gaunnya. Ia tidak menyangka pelayannya akan secantik ini, bahkan mantan Bara tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Inari. ‘Kalau hasilnya seperti ini aku tidak akan merasa rugi mengeluarkan uang sepuluh juta,’ batin Bara.


Inari berdiri di hadapan Bara, bulu mata lentiknya mengayun sempurna. “Ada apa?” tanya Inari karena Bara memperhatikan dirinya tanpa berkedip. ‘Terpesona yang terlambat,’ betin Inari.


“Mulai hari ini kamu resmi jadi pacarku,” Klaim Bara.


Mata Inari membelalak. “Apa?”

__ADS_1


“Mulai detik ini kamu resmi menjadi pacar Bara Bahaduri Ravindra,” ucap Bara dengan tegas.


‘Dasar pria tidak tahu diri, baru mengeluarkan uang sepuluh juta saja sudah belagu,’ batin Inari kesal. Tapi ia tidak mungkin mengeluarkan suara hatinya di depan Bara.


__ADS_2