
Sebelum Arzan pulang Inari membersihkan kamar Arzan dari debu. Mulai dari sudut-sudut, tempat tidur dan pajangan milik Arzan.
Kini Inari mulai menyalakan alat vakum untuk menyedot debu di tempat tidur Arzan.
Saat melaksanakan tugasnya kepala Inari terus memutar kejadian Bara hari ini yang di luar dugaan. Inari ingin memberitahu Arzan namun ia takut kakak beradik tersebut bermusuhan gara-gara dirinya apalagi mengingat Bara yang penuh dengan tekad. Meskipun Inari tidak yakin Bara serius dengan ucapannya.
Hari ini Arzan pulang lebih cepat ia masuk ke dalam kamarnya yang terbuka. Perhatian Arzan tertuju pada Inari yang tengah membersihkan tempat tidur namun tampak melamun. “Hal apa yang mengganggu pikiranmu?” tanya Arzan yang kini berdiri di samping Inari.
Inari yang tengah melamun pun terkejut bukan main. “Tuan,” ucap Inari kesal dengan tangan yang mengelus dadanya.
“Melamunkan hal apa?”
Inari menggelengkan kepalanya. Ia memilih untuk tidak bicara.
Arzan membawa tubuh Inari ke dalam dekapannya.
Inari terdiam merasakan rasa nyaman di peluk Arzan. Apalagi parfum Arzan yang khas dapat menenangkan perasaan Inari.
Arzan melepaskan pelukan mereka setelah beberapa menit. “Cepat selesaikan pekerjaannya, sebentar lagi kita makan malam,” ucap Arzan.
“Baik Tuan,”
***
__ADS_1
Siang yang cukup terik Inari memilih bersantai di halaman belakang rumah Arzan.
Inari mengeluarkan ponsel pemberian dari Arzan untuk kebutuhan pekerjaan. Ia melaksanakan tugasnya menghubungi Arzan agar majikan plus calon tunangannya tidak telat makan. “Halo,” sapa Inari begitu telepon tersambung.
[Ada apa?]
“Ini sudah waktu makan siang,” ujar Inari mengingatkan.
[Iya]
Jawaban Arzan seperti Biasanya. Inari sudah mulai hafal betul setelah bekerja hampir satu bulan menjadi pelayannya Arzan, pria itu terkadang tidak langsung makan, padahal asisten pribadinya sudah menyiapkan makanan sepuluh menit sebelum jam makan. “Cepat makanan sayang, jangan kerja terus!”
Arzan tersenyum mendengar ucapan kesal dari Inari. [Iya sayang aku makan sekarang.]
“Oke, kalau begitu. Bye sayang, selamat menikmati makan siangnya.”
Arzan menurut teleponnya dengan wajah yang berseri setelah berbincang dengan Inari. Ia menghubungi asistennya. “Siapkan cincin dengan model yang lebih indah namun tidak berlebihan. Untuk lamaran, ukurannya masih sama seperti yang kemarin,” ucap Arzan menyampaikan tujuannya.
[Baik Tuan.]
Arzan bisa makan siang dengan perasaan gembira. Ia sudah mantap untuk menjadikan Inari sebagai tunangannya. Ia hanya perlu berbicara dengan Inari sekali lagi untuk menemui keluarganya, mengingat sikap Inari dapat Arzan simpulkan jika Inari jatuh cinta. Dan ia rasa modal cinta serta kedekatan mereka ini cukup untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi, mengingat usia Arzan yang sudah memasuki tiga puluh satu tahun rasanya sudah cukup ideal untuk menikah.
Pekerjaan Inari sudah selesai semua, ia juga sudah mengingatkan Arzan untuk makan siang. Kini waktunya menikmati jam istirahatnya.
__ADS_1
Inari menghabiskan waktu istirahatnya kali ini dengan bersantai menikmati minuman dingin yang ia buat serta satu toples kue kering pemberian dari Arzan.
“Riri,” panggil Bara dengan nada khas manjanya. Sambil ikut duduk di kursi yang tepat berada di samping Inari.
“Ada apa?” tanya Inari. Tangannya memasukkan kue ke dalam mulutnya.
“Jalan yuk,” ajak Bara.
Inari mengunyah kue yang ada di dalam mulutnya. “Aku mau di rumah saja, istirahat,” tolak Inari secara halus.
“Kali ini penting,” mohon Bara.
“Aku mau habiskan waktu istirahatku, setelah itu kita pergi,” ucap Inari memberi keputusan.
“Oke.”
Untuk memenuhi janjinya Inari kini duduk di samping Bara, tidak biasanya pria itu keluar di siang hari menggunakan mobil.
Saat mobil berhenti Inari keluar dari mobil, ia mengikuti langkah Bara yang memasuki sebuah cafe yang cukup ramai. Inari tidak heran saat melihat beberapa orang yang ia kenal seperti Cecilia, kekasih Bara dan beberapa wanita lainnya yang sering datang ke rumah.
“Halo pacar-pacarku,” sapa Bara dengan senyuman merekah di bibirnya.
Semua orang yang ada di sana tampak sedikit terkejut dengan sapaan Bara. Mereka saling memandang, dan tidak menyangka jika seluruh wanita yang ada di ruangan ini pacarnya bara.
__ADS_1
“Kali ini aku ingin kalian bersilaturahmi dan menjalin hubungan sebagai mantan dari Bara Bahaduri Ravindra, karena mulai detik ini aku ingin mengakhiri hubungan asmara dengan kalian.”