Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Tiga Puluh Tiga


__ADS_3

Semalaman Inari tidak bisa tidur, ia bulak balik mengecek kamar Arzan namun hingga pagi tiba Arzan tidak pulang juga. Inari duduk di pinggiran tempat tidurnya ia sudah siap dengan seragam pelayan yang melekat di tubuhnya. Perasaannya sudah tidak karuan ia berharap pagi ini dapat melihat Arzan saat sarapan.


Seperti biasanya Inari berjalan menuju kamar Arzan dan masuk ke walk in closet ia menyiapkan pakaian untuk Arzan meskipun Inari tidak melihat tanda-tanda kehadiran Arzan, bahkan kamar mandinya sangat hening sudah dapat Inari pastikan bahwa tidak ada siapa pun di dalam sana. Inari meraba pakaian yang sudah ia siapkan untuk Arzan. “Ada hal penting apa yang membuatmu tidak pulang? Atau-“ Inari memotong ucapannya sendiri seraya menggelengkan kepalanya, ia harus yakin jika Arzan tidak mendengar percakapannya dengan Bara.


Inari memilih keluar dari kamar Arzan namun saat hendak menutup pintu bayangan ciu’man di pagi hari bersama Arzan membuat hati Inari sesak, hari ini hatinya terlalu sakit membayangkan hal yang tidak-tidak.


Suara pintu kamar sebelah yang terbuka membuat Inari sedikit terkejut.


“Sedang apa?” tanya Bara saat melihat Inari terdiam di depan pintu kamar Arzan.


“Tidak, saya baru selesai menyiapkan pakaian untuk tuan Arzan,” jawab Inari sambil menundukkan kepalanya. Saat ini ia sedang tidak ingin bertatapan dengan Bara sedikit pun.

__ADS_1


“Untuk apa? Memang kakak tidak memberitahumu ya, kalau dia ada tugas ke luar kota,” jawab Bara.


Kepala Inari yang menunduk menggeleng pelan. “Saya tidak tahu,” jawab Inari. Rasanya ia sangat ingin menangis sekarang juga, bagaimana dia tidak di beritahukan oleh Arzan hal sepenting ini.


“Cepat siapkan bajuku, aku ada kelas pagi ini,” titah Bara. Ia memandangi Inari yang masuk ke dalam kamarnya dengan hati yang sedikit nyeri, bagaimana tidak wanita itu terus menolaknya padahal Bara sudah berusaha keras untuk mendapatkannya tapi sangat sulit. Bahkan saat ini ia harus merasakan canggung karena Inari menolaknya lagi.


Inari menyiapkan pakaian untuk Bara lalu keluar dari dalam kamar Bara saat pemiliknya sedang mandi. Ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Arzan, satu kali tidak mendapat jawaban. Namun Inari tidak pantang menyerah dan mencoba yang kedua kalinya, masih tetap tak mendapat jawaban. Inari menghembuskan nafas lelahnya, ia memasukkan kembali ponselnya. Dan segera menyiapkan sarapan untuk Bara. Lebih tepatnya ia hanya menyajikan makanan yang sudah di buatkan oleh asisten rumah tangga.


Hari ini Inari merasa interaksinya dengan Bara hanya sebatas pekerjaan, ia merasa sedikit lega. Namun yang membuatnya khawatir malam sudah tiba namun Arzan masih tidak dapat ia hubungi, bahkan saat Inari bertugas untuk mengingatkan makan siang pun tidak di angkat oleh Arzan. Akhirnya Inari mengirimkan pesan, namun sampai detik ini pesannya tidak di balas oleh Arzan. Perasaan khawatir Inari berubah menjadi amarah, bagaimana tidak ia cukup kesal dengan sikap Arzan yang sangat kekanakan ini.


Sementara di ruangannya Arzan tengah menatap jendela yang memperlihatkan gemerlapnya kota yang di hiasi lampu jalanan, ia juga memandang langit yang cerah. Meskipun hatinya tengah di terpa gundah gulana, sampai detik ini ia belum bisa memutuskan untuk langkah ke depannya.

__ADS_1


Inari terkejut saat di sampingnya terdapat wajah Bara yang tiba-tiba muncul. “Sedang bertengakar ya dengan pacarmu?” tebak Bara. Ia ikut duduk di samping Inari.


“Jangan mengejutkan seperti itu, aku punya penyakit jantung,” jawab Inari asal untuk menghindari pertanyaan Bara.


“Kalau tidak menjawab itu artinya tebakanku benar, kamu sedang bertengkar dengan pacarmu,” ulang Bara. Ia menyerahkan satu batang coklat ke hadapan Inari.


“Aku tidak makan coklat, sedang diet,” tolak Inari.


Bara menarik kembali tangannya, ia membuka bungkus coklat tersebut dan menyuapi Inari.


“Bara cukup,” bentak Inari. Ia bangkit dari duduknya menatap Bara dengan pandangan kesalnya.

__ADS_1


“Semua ini salahmu, jadi berhenti mengejarku lagi!”


Bara menatap kepergian Inari untuk ke sekian kalinya dengan hati yang terasa sakit. Namun ia tidak akan pernah menyerah ia yakin ada kebahagiaan yang akan ia dapatkan.


__ADS_2