
“Memangnya apa pekerjaan kekasihmu, tukang kebun?”
“Bukan.”
Bara terdiam sejenak. “Lalu apa pekerjaan kekasihmu?” tanya Bara lagi, ia tak puas dengan jawaban Inari yang berkata bukan.
“Kenapa Tuan ingin tahu?”
“Aku hanya ingin tahu seberapa hebat dia, sampai-sampai pesonaku tidak bisa menggesernya dari hatimu.”
Inari membuang nafasnya. “Dia sangat hebat, perbandingannya kekasihku di ibaratkan gajah dan tuan hanya semut kecil yang sekali injak pun nyawanya melayang,” ucap Inari pedas berharap perkataannya dapat membuat Bara menyerah.
“Sombongnya,” sindir Bara.
“Memang kenyataannya seperti itu kok,” jawab Inari tak mau kalah.
“Padahal sebentar lagi aku jadi gajahnya dan dia jadi semutnya, yang akan aku injak agar menghilang dari hidupmu.”
‘Tidak akan pernah terjadi,' batin Inari. Ia sengaja menutup mulutnya. Inari menggunakan kecepatan kilat untuk menyelesaikan pekerjaannya.
Inari keluar dari kamar Bara dengan tubuh yang lelah. Ia menyimpan kembali peralatan kebersihan dan pergi menuju kamar untuk berstirahat.
Pagi sekali Inari bangun dan mengendap menuju kamar Arzan. Inari membawa kunci cadangan dan masuk ke dalam kamar Arzan. Setelah memastikan Arzan masih tidur, Inari segera mengunci pintu kamar Arzan dan membawa kuncinya. Inari mengambil kunci yang tergeletak di atas meja televisi. Inari mengambilnya dan melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju kamar mandi.
__ADS_1
Inari bersembunyi di dalam bathtub kosong. Tidak lama ia mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Inari segera keluar dari tempat persembunyiannya saat mendengar langkah kaki.
Arzan cukup terkejut dengan kehadiran Inari. “Sedang apa kamu di sini?”
“Kita perlu bicara,” ucap Inari dengan wajah memohonnya.
“Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, aku ingin mengakhiri hubungan ini. Dan jangan mengganggu hidupku.”
Ucapan Arzan terdengar sangat serius, membuat hati Inari sakit bukan main. Bukannya Arzan yang menginginkan hubungan ini. “Bukankah kamu ingin bertemu dengan orang tuaku untuk membicarakan pertunangan kita? Aku sudah siap,” ucap Inari berharap mendapat kesempatan.
“Aku sudah tidak peduli,” jawab Arzan cuek.
“Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kamu menjauhiku dan ingin memutuskan hubungan ini?” tanya Inari dengan air matanya yang berlinang.
Ucapan Arzan sangat menusuk, terdengar sangat merendahkan. Inari menghapus air mata yang turun menggunakan punggung tangannya. Ia berjalan keluar dari kamar Arzan dengan air mata yang mengalir dengan deras.
Setelah kepergian Inari tangan Arzan mengepal erat. Ia membenci dirinya sendiri yang telah menyakiti hati wanita yang sangat ia cintai. Namun baginya ini yang terbaik untuk hubungan mereka.
Inari pergi ke kamarnya, ia menumpahkan tangisnya. Rasa kesal, benci dan kecewa Inari keluarkan semuanya. Ia sangat kecewa karena Arzan berani menghina pekerjaannya. Ia pikir Arzan berbeda dari pria lain, ternyata Arzan sama saja memandang wanita dari kastanya.
“Papa Inari ingin pulang,” ucap Inari pelan di tengah air matanya yang terus mengalir.
Inari melihat jam, sudah waktunya ia melakukan tugasnya. Inari pergi ke kamar mandi dan mencuci wajahnya. Inari melihat pantulan dirinya di cermin matanya sedikit memerah. Tapi itu bukan sebuah masalah Inari bisa beralasan. Inari melepaskan cincin pemberian Arzan.
__ADS_1
Inari keluar dari kamarnya menuju kamar Bara untuk menyiapkan pakaian Bara. Setelah itu Inari pergi ke ruang makan, ia tidak berniat menyiapkan pakaian untuk Arzan.
Arzan dan Bara masuk ke ruang makan bersamaan. Pandangan Bara dan Arzan tertuju pada wajah sembab Inari.
Arzan yang tahu penyebabnya memilih acuh dan duduk di kursinya. Sementara Bara mendekati Inari, “Ayo sarapan bersama,” ajak Bara. Ia menarik kursi untuk Inari duduk.
“Tidak perlu tuan,” tolak Inari tidak enak.
Tangan Bara menuntun bahu Inari untuk duduk. Mata Bara tertuju pada jari manis Inari, tidak ada lagi cincin yang melingkar di sana. Bara tersenyum penuh kemenangan, ia tahu penyebab wajah Inari menangis. Pasti hubungannya sudah kandas, kini giliran Bara maju paling depan.
Bara mengambil pancake dan mendekatkannya pada mulut Inari. “Buka mulutmu,” pinta Bara.
“Saya bisa makan sendiri tuan,” tolak Inari. Meskipun hubungannya sudah berakhir namun ia masih merasa canggung jika terlalu dekat dengan Bara.
“Ayo cepat buka,” ucap Bara dengan tatapan tajamnya agar Inari mau menerima suapannya.
Terpaksa Inari membuka mulutnya, menerima suapan dari Bara.
Melihat kegiatan Bara dan Inari membuat hati Arzan memanas, ia menundukkan kepalanya fokus pada sarapan miliknya. Meskipun sesekali ia melirik untuk melihat kegiatan Bara dan Inari.
“Dih berlepotan seperti anak kecil saja,” ucap Bara dengan sengaja. Ia mengambil tisu untuk menghapus sudut bibir Inari yang terkena saus dari pancake.
Rasanya Inari mau marah, bisa-bisanya Bara menyuapi Inari dengan tidak sabaran sehingga berlepotan ke sana kemari. Dan sekarang mengatainya seperti anak kecil, sungguh menyebalkan.
__ADS_1
Arzan yang tidak bisa menahan rasa cemburunya memilih menaruh garpu dan sendok yang ada di tangannya lalu bangkit dan pergi meninggalkan ruang makan, berada di ruang makan lima menit saja sudah membuatnya kesulitan untuk bernafas.