Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Lima Belas


__ADS_3

“Ada apa?”


[Ke rumah sakit sekarang ka, aku kecelakaan.]


Arzan mematikan teleponnya sepihak dan menyimpan kembali ponselnya.


Inari yang penasaran karena tadi ia melihat nama Bara akhirnya bertanya. “Ada apa Tuan Bara menelepon?”


“Katanya kecelakaan,” jawab Arzan.


Inari tidak melihat kepanikan di wajah Arzan, terlihat sangat santai mendapat kabar adiknya kecelakaan. “Tidak langsung ke rumah sakit?” tanya Inari lagi untuk memenuhi rasa penasarannya.


“Makanannya belum habis,” jawab Arzan. Ia kembali mengambil piring miliknya dan kembali melanjutkan makannya yang tertunda.


Kening Inari berkerut, ia tidak habis pikir dengan sikap Arzan yang sangat santai. “Apa tuan tidak mengkhawatirkan tuan Bara?”


“Dia baik-baik saja, cepat habiskan makanannya!”


Inari mengangguk mengerti, ia tidak ingin cari masalah dan melanjutkan kembali makanya. Inari hendak mengambil potongan udang menggunakan garpunya, bertepatan dengan Arzan yang ikut menusuk bagian udang tersebut.


“Buatmu saja,” ucap Arzan.

__ADS_1


“Tidak, buat tuan saja,” jawab Inari. Ia masih sadar akan posisinya yang masih menjadi pelayan. Di beri hidangan berbagai protein saja sudah membuatnya kegirangan, karena tiga hari ini Inari hanya makan ayam saja sangat membosankan.


Arzan memperhatikan Inari yang menarik kembali garpunya. Udang yang hanya tersisa satu di ambil oleh Arzan lalu tangannya bergerak ke arah bibir Inari.


Inari memberikan tatapan penuh tanda tanya pada Arzan.


“Buka mulutmu,” titah Arzan.


Dengan malu-malu Inari membuka mulutnya menerima suapan dari Arzan. ‘Jika tahu sifat Arzan seperti ini aku mau jadi calon tunangannya,’ batin Inari. Kini ia merasa menyesal telah menolak Arzan.


“Kamu suka udang?” tanya Arzan. Inari mengangguk sebagai jawaban.


“Kalau begitu nanti aku ganti menu makan untukmu.”


Arzan yang tengah menikmati makanannya segera menengok ke samping. “Jangan terlalu lama, aku sudah siap bertemu orang tuamu,” ujar Arzan.


Inari yang baru saja menyuapkan nasi ke dalam mulutnya langsung tersedak mendengar ucapan Arzan yang terdengar sangat serius.


Arzan segera membukakan botol minum untuk inari dan memberikannya.


Inari menerimanya dengan cepat lalu meminumnya, tenggorokannya terasa sakit.

__ADS_1


Tenggorokan Inari kini terasa lega setelah minum. “Terima kasih.”


Arzan telah menghabiskan makannya, begitu juga dengan Inari. Mereka segera pergi untuk melihat keadaan Bara.


Sampai di rumah sakit Arzan mencari ruangan Bara di rawat. Setelah menemukannya Inari dan Arzan masuk bersamaan.


Arzan memperhatikan keadaan Bara yang baik-baik saja, seperti dugaannya. Hanya lecet di bagian jidat serta tangan yang di perban.


“Bayar sendiri biaya rumah sakitmu,” ujar Arzan sengaja. Adiknya yang satu ini memang sangat manja.


“Aku kan sengaja memanggil kakak ke sini untuk membayar biaya rumah sakit,” ucap Bara dengan wajah memelasnya.


Tidak banyak bicara Arzan segera keluar dari ruangan Bara untuk membayar biaya perawatan.


Inari yang berdiri di sana memandangi kondisi tubuh Bara. Pantas saja Arzan sangat santai, ternyata memang drama saja, pikir Inari.


“Kenapa diam saja, cepat suapi aku. Aku belum makan siang,” titah Bara.


Inari segera mengambil makanan yang ada di nampan lalu duduk dan menyuapi Bara.


Arzan sudah selesai membayar biaya perawatan dan kembali ke ruang rawat Bara. Ia memperhatikan Inari yang tengah menyuapi Bara. “Untuk apa menyuapinya? Dia bukan anak kecil lagi,” ketus Arzan.

__ADS_1


“Tanganku sakit ka, lagi pula ini tugas Riri sebagai pelayan,” jawab Bara.


Arzan sangat geram saat Inari tetap menyuapi Bara, tidak tahu kah dirinya jika di dalam hati Arzan ada lahar panas yang mulai menyelimutinya.


__ADS_2