
Sontak Inari menengok ke arah suara saat mendengar suara Arzan. “Iya,” jawab Inari canggung. Ia merasa seperti wanita ketahuan berselingkuh.
Arzan menghampiri Inari, ia mengacak puncak kepala Inari. “Terima kasih,” ucap Arzan tulus sambil memandang wajah Bara yang damai dalam tidurnya.
Bibir Inari tersenyum, ia merasa lega setelah mendengar ucapan Arzan. “Kenapa Tuan pulang cepat? Bukannya ada rapat penting,” tanya Inari.
“Rapatnya sudah selesai. Kamu bisa pergi makan atau beristirahat sejenak biar aku yang menjaga Bara.” Arzan melihat wajah Inari yang tampak kelelahan.
Inari mengulurkan tangannya ke hadapan Arzan.
“Apa?” tanya Arzan memandang Inari dengan wajah kebingungannya.
“Aku haus, tapi tidak punya uang,” ujar Inari dengan senyuman yang menampilkan deretan giginya.
“Kamu tidak punya uang sama sekali?” tanya Arzan.
Inari menjawab pertanyaan Arzan dengan anggukan kepalanya.
“Kalau begitu bon saja,” jawab Arzan dengan wajah seriusnya. Ia berjalan menuju sofa dan duduk dengan tenang.
Sementara wajah Inari menunjukkan rasa kesalnya. Ia berbalik badan dan menhampiri Arzan. “Mana bisa ambil dulu, lagi pula memalukan juga,” jawab Inari.
__ADS_1
Arzan menatap wajah kesal Inari. Ia mengeluarkan dompetnya dan memberikan kartu ATM miliknya. “Pegang saja olehmu.”
“Terima kasih Tuan.” Bibir Inari tersenyum puas, ia menerimanya dan segera pergi ke katin. Sampai di kantin rumah sakit Inari membeli dua botol minuman dingin serta makanan manis kesukaannya lalu kembali ke ruangan Bara.
Inari masuk dan melihat Arzan yang tengah fokus pada laptop yang ada di hadapannya.
Inari memberikan satu minumannya pada Arzan. Melihat Arzan yang terus fokus pada pekerjaannya Inari memilih menjauh dan duduk di kursi yang ada di samping Bara.
Rasa kantuk mulai menyerangnya, Inari menumpukkan kedua tangannya di pinggiran kasur Bara. Ia menyimpan kepalanya di atas tumpukan kedua tangannya dan pergi ke alam mimpi.
Bara terbangun dari tidurnya, ia melihat Inari yang tertidur karena menunggunya. Ada perasaan haru yang menyelimuti Bara, sebelumnya tidak pernah ada yang memperlakukan Bara seperti ini.
Bara mengelus kepala Inari dengan lembut, dadanya berdebar tidak biasanya.
“Kenapa?” tanya Bara khawatir.
Inari segera mengangkat kepalanya. “Tanganku kesemutan tuan,” jawab Inari.
Dengan perlahan Bara membantu meluruskan tangan Inari, ia memberikan pijatan yang sangat pelan. Namun Inari tampak kesakitan.
“Aaaa sakit tuan,” ucap Inari.
__ADS_1
“Tahan ya,” pinta Bara. Ia tetap memijat tangan Inari dengan sangat perlahan.
Inari mengangguk dan memperhatikan pijatan Bara di tangannya. Ia merasa berada di posisi yang salah, seharusnya ia yang melayani Bara tapi kini Bara yang melayaninya.
Lima menit berlalu dan rasa sakit di tangan Inari sudah hilang. “Terima kasih Tuan,” ucap Inari.
“Lain kali jangan tidur dengan posisi seperti itu lagi.”
“Baik Tuan.” Inari mengambil gelas yang ada di nakas. “Minum dulu Tuan, Tuan Bara pasti kelelahan telah memijat saya.” Inari membantu Bara minum. Merasa di perhatikan Inari menengok ke arah Arzan. Mata Arzan menatap nyalang ke arah Inari, saking takutnya hingga tanpa sadar gelas di tangannya terlepas dan tumpah mengenai baju Bara.
“Inari,” panggil Bara saat bajunya basah terkena tumpahan air.
“Ma-maaf Tuan,” gugup Inari. Ia segera mengambil tisu dan membersihkan tumpahan air yang membuat baju Bara basah.
“Percuma saja.” Bara membuka bajunya.
Inari menutup sebagian matanya, ia tidak tahan melihat orang bertel anjang da da.
“Cepat bersihkan, perutku basah,” titah Bara. Ia sengaja melakukan hal itu, untuk mengerjai Inari.
Inari memalingkan wajahnya dengan tangan yang terulur ke arah perut Bara. Setelah merasakan bagian yang basah Inari segera mengelapnya dengan tisu tanpa mau melihat ke arah tubuh Bara.
__ADS_1
“Perhatikan dengan betul, nanti kamu mengelap bagian yang salah lagi,” ujar Bara.