
“Kalau begitu saya ingin kamu memberikan saya ciu’man di pagi hari, setiap hari meskipun kamu mendapat jatah libur. Ciu’man tetap harus kamu lakukan.”
Mata Inari berkedip beberapa kali mendengar ucapan Arzan. “Tidak mau, dalam tugas di buku yang tuan berikan juga Tidak ada tugas ciu’man pagi setiap hari,” tolak Inari. Ia tidak bisa membayangkan setiap hari harus berciuman dengan Arzan.
“Bukannya minum dengan majikanmu dulu bukan sebuah tugas, maka kamu juga bisa menjalankan permintaanku,” jawab Arzan. Seolah sebuah ciu’man di pagi bukan permintaan yang sulit.
“Iya tapi ini konteksnya beda, jika minum saya hanya menemaninya minum. Namun jika ciu’man saya juga ikut adil dalam hal tersebut, lagi pula saya tidak suka ciuman dengan sembarang orang.” Inari terus menerus berusaha menolak agar tugas ciu’man tidak perlu ia lakukan.
__ADS_1
Arzan merogoh saku blazernya, ia mengambil sebuah kotak beludru. Tangan Arzan yang lainnya mengambil tangan Inari, ia menyimpan kotak beludru tersebut pada tangan Inari. “Kalau memang kamu tidak suka ciu’man dengan sembarang orang. Maka kamu tidak keberatan berciuman dengan calon tunanganmu,” ucap Arzan serius.
Mata Inari semakin membelalak, bahkan hampir jatuh dari tempatnya. Ucapan Arzan benar-benar di luar dugaannya, semalam ia di klaim sebagai kekasih oleh Bara. Dan pagi ini Arzan ingin menjadikan Inari sebagai calon tunangannya.
Inari membuka kotak beludru tersebut, ia melihat sebuah cincin berlian. Inari menyimpan kotak tersebut ke atas paha Arzan. “Bibir saya tidak bisa di bayar dengan status tidak jelas atau pun cincin mahal. Saya bukan wanita murahan yang tuan bisa manfaatkan,” ucap Inari sungguh-sungguh. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak ingin bertatapan dengan Arzan karena pipinya bersemu merah. Ia sangat kegirangan karena ada pria yang mau serius padanya. ‘Papa sebentar lagi, papa akan memiliki menantu tampan,' batin Inari kegirangan. Dadanya berdebar tidak karuan, jika tidak di depan Arzan ia sangat ingin melompat-lompat kegirangan. Sebelumnya tidak ada pria yang seserius Arzan, apalagi sudah menyiapkan cincin. Meskipun tidak bisa di katakan romantis tapi Inari sangat bahagia, rekor tebaik dalam hidupnya.
Arzan memasukkan kembali cincin tersebut pada sakunya, meskipun ia sangat ingin memasangkan cincin tersebut ke jari Inari. Semalam ia memesan cincin tersebut, namun Arzan bukan pria yang mudah jatuh cinta atau pandai berkata-kata.
__ADS_1
Sampai di gedung MR Group Arzan melajukan mobilnya sampai di lobby depan. Sorang satpam yang biasa bertugas membukakan pintu Arzan.
Arzan keluar dari mobil di ikuti Inari. Inari mengekor di belakang tubuh Arzan. Banyak pasang mata yang Tempak memuja Arzan. Inari sedikit kesal melihat tatapan para cewek yang tanpa malu memandangi Arzan secara terang-terangan, rasanya Inari ingin melepas sepatunya dan melemparkannya pada pandangan lapar mereka yang menatap calon tunangannya. Namun sepatunya hanya dua dan Inari tidak bisa melempari wanita yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang.
Arzan masuk ke dalam lift khusus untuk para petinggi perusahaan. Inari menekuk wajahnya, ia masih kesal karena Arzan menjadi pusat perhatian. “Apa Tuan tidak risi di tatap puluhan wanita setiap paginya?” tanya Inari.
“Memangnya kenapa? Lagi pula aku tidak peduli,” jawab Arzan. Tangannya menekan tombol lift.
__ADS_1
“Besok-besok saya bawakan masker, saya tidak rela calon tunangan saya di tatap oleh wanita-wanita genit.” Bibir Inari mengerucut, ia benar-benar tidak rela dan berniat membeli masker untuk menutupi wajah Arzan.
“Calon tunangan?” ulang Arzan. Ia merasa tidak salah mendengar.