
Inari sengaja tidak menutup rapat pintu kamarnya, agar Arzan bisa langsung. Ia duduk di tempat tidur masih dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Rasanya sangat gerah, namun tidak mungkin ia melepaskannya. Belum lagi koyo di kepalanya terasa panas menusuk sampai ke kulitnya. ‘Astaga menyiksa sekali,’ batin Inari mengeluh atas perbuatannya sendiri.
Tidak sampai setengah jam Arzan masuk ke kamar Inari dengan nampan yang ia bawa.
Arzan duduk di pinggiran tempat tidur Inari. “Ini makan malammu,” ucap Arzan menyerahkan nampan yang ia bawa kepada Inari.
“Suapi,” pinta Inari dengan nada lemahnya seolah tak berdaya.
Arzan yang merasa iba akhirnya membantu Inari makan.
Hatinya bersorak gembira bisa makan di suapi oleh Arzan.
Arzan mulai menyuapi Inari. Inari cukup terkejut saat lidahnya merasa terbakar akibat sup yang baru masuk ke mulutnya hingga tanpa sadar tangan reflek bergerak mengenai tangan Arzan.
Semangkuk sup tumpah mengenai paha Arzan. Inari sangat terkejut karena ulahnya, apalagi wajah Arzan tampak menahan sakit. Inari bangkit dan berlari mengambil tisu di lemarinya ia kembali mendekati Arzan dan membantu melap bagian yang basah.
Namun kepulan asap masih terlihat dari celana Arzan yang basah, Inari mengambil langkah cepat membuka celana Arzan ia melihat paha Arzan yang tampak memerah. Selesai membuka celana Arzan tangan Inari menarik tangan Arzan masuk ke kamar mandi. Inari menuntun tubuh Arzan untuk duduk di toilet, ia mengambil keran air dan mulai menyalakan kerannya hingga mengeluarkan air yang langsung mengenai paha Arzan yang memerah.
“Pasti panas sekali, maaf ya,” ucap Inari. Wajahnya merasa bersalah karena keteledorannya Arzan jadi celaka.
__ADS_1
Sedari tadi Arzan terdiam, ia tidak begitu mempedulikan rasa sakit di pahanya. Gerakan cepat yang di lakukan Inari membuat Arzan terheran-heran. Belum lagi kini ia melihat wajah Inari yang tampak biasa saja, seperti tidak sakit sama sekali. “Kamu membohongiku?”
Jemari Inari terlepas dari tombol keran, ia menatap Arzan dengan wajah yang kebingungan. “Maksudmu?”
Arzan menarik koyo putih yang menempel di kening Inari dengan kencang tanpa perasaan sedikit ppun
“Aaaaa sakit,” teriak Inari. Tangannya memegangi kulitnya yang terasa perih akibat tarikan Arzan.
“Kamu sengaja pura-pura sakit?” tanya Arzan dengan nada dinginnya. Aura wajahnya tampak menakutkan.
“Tidak,” jawab Inari cepat.
Inari melepas koyo yang masih ada di kening sebelahnya lagi. “Bara mengajakku keluar, aku berbohong untuk menolak ajakannya. Kamu tahu sendiri kan bagaimana merepotkannya Bara. Belum lagi tadi siang aku di ajak menemui seluruh pacarnya, aku lelah,” ucap Inari dengan lesu.
“Puas telah mengerjaiku juga?”
Inari Menundukkan kepalanya, merasa bersalah. “Tidak.”
Arzan menarik dagu Inari agar menatapnya. “Jangan di ulangi lagi ya?”
__ADS_1
“Iya.”
“Cepat ambilkan salep dan celana untukku,” perintah Arzan.
“Celana untuk apa?” tanya Inari dengan polosnya.
“Celanaku kotor, tidak mungkin aku keluar dari sini dengan keadaan seperti ini.” Di beberapa bagian dalam diri Inari selalu berhasil membuat Arzan marah.
Inari mengikuti arah pandang Arzan dan ia terkejut saat melihat bagian bawah Arzan yang hanya di tutupi pakaian dalam berwarna hijau.
Inari tertawa melihatnya, ia menjadi teringat sosok makhluk kol'or ijo.
“Kenapa ketawa?” tanya Arzan sewot saat Inari memandangi pakaian dalamnya.
“Aku tidak menyangka Tuan memiliki dala’man berwarna hijau. Seperti makhluk gaib yang suka mele’cehkan wanita, persis seperti tuan yang memaksaku ciu’man di pagi hari.” Inari kembali tertawa saat membayangkan rambut Arzan berubah panjang dan berantakan, belum lagi di tambah mata Arzan yang dingin akan mengeluarkan sinar hijau sepeti makhluk ko’lor Ijo.
“Kamu cari mati ya, menyamakan aku dengan makhluk itu?”
Inari tidak bisa menghentikan tawanya. Namun kepalanya menggeleng berusaha menyangkal tuduhan Arzan.
__ADS_1
Arzan yang tidak terima di tertawakan seperti itu menangkup kedua pipi Inari agar tidak bisa melarikan diri. “Kamu ingin benar-benar aku lece’hkan agar berhenti tertawa bahkan sampai tidak bisa berjalan?”