
“Cepat katakan kamu berciuman dengan siapa?” desak Bara.
“Ini bukan ciuman, tadi pagi tanpa sadar saya menggigit kecil bibir saya seperti ini,” ujar Inari menunjukkan bibirnya yang ia gigit dengan sedikit keras agar menimbulkan bekas. “Lihat seperti ciuman kan ?,” jawab Inari.
“Kenapa kamu harus menggigit bibirmu segala?” tanya Bara lagi, seolah tak puas dengan jawaban yang Inari berikan.
‘Ayo cepat berpikir alasan yang akan masuk di akal!’ batin Inari sambil memperhatikan wajah Bara. Inari mendapat ide brilian. “Saya menggigit kecil bibir saya karena takut dengan intimidasi Tuan Arzan, ia marah karena saya tidak membersihkan kamarnya semalam,” jawab Inari dengan wajah lesunya. Kepalanya ikut menunduk agar aktingnya terlihat sempurna di hadapan Bara.
Bara mengingat kejadian semalam saat mereka mabuk, dan pulang larut sekali. Tidak mungkin Inari sempat membersihkan kamar Arzan, mengingat kakaknya itu memiliki sifat yang tidak ramah jika marah. “Kamu tidak di pecat?” tanya Bara memastikan.
Inari menggelengkan kepalanya. “Untungnya Tuan Arzan memberikan saya kesempatan kedua,” jawab Inari.
Bara sedikit merasa lega, karena pacar barunya tidak akan pergi begitu saja darinya. Lagi pula Bara tidak berniat menjadikan Inari kekasih sungguhan, bahkan ia lupa Inari kekasihnya yang ke berapa.
“Bagus, karena jika kamu di pecat aku tidak bisa mempertahankan kekasihku. Semua kendali di rumah ini ada pada Arzan. Jadi jangan sampai Arzan memecatmu oke,” ucap Bara.
“Baik Tuan.”
“Kenapa masih di sini, Mau melihat aku menggunakan pakaian?”
Kepala Inari menggeleng. “Saya permisi Tuan,” pamit Inari. Ia berjalan meninggalkan kamar Bara dan menutup pintunya.
__ADS_1
Inari terdiam sejenak memahami ucapan Bara. Jika memang di rumah ini kekuasaan ada di tangan Arzan, itu artinya Inari tidak boleh bermain-main dengan Arzan jika tidak ingin di pecat.
Inari segera ke ruang makan, ia melihat Arzan tengah menikmati sarapan paginya. Inari menuangkan susu ke gelas Arzan. “Hari ini kamu ikut saya ke kantor,” ucap Arzan.
Tangan Inari menggenggam erat-erat kotak susu yang ia pegang. “Untuk apa saya ikut tuan?” tanya Inari memberanikan diri.
“Saya tidak ingin magku kambuh karena keteledoran kamu,” jawab Arzan. Sejujurnya Arzan tidak ingin Inari terlalu dekat dengan Bara.
“Baik Tuan saya akan ikut,” jawab Inari patuh meskipun ia tidak tahu akan melakukan hal apa jika ikut bersama Arzan. Terlebih tugasnya lebih banyak di rumah jika di bandingkan dengan ikut pada Arzan. Namun karena ucapan Bara tadi, Inari tidak ingin menolak dan membuat ulah. Ia akan menuruti semua perintah Arzan.
Bara duduk di ruang makan saat Arzan telah menyelesaikan sarapannya. Arzan bangkit dari duduknya.
Inari segera mengekor di belakang Arzan.
Inari menghentikan langkahnya, dan berbalik menatap Bara. “Hari ini Tuan Arzan meminta saya ikut ke kantor,” jawab Inari.
Bara sebenarnya ingin protes, namun mengingat Arzan yang tidak mengungkit kesalahannya semalam karena membiarkan Arzan tidur dengan debu membuat Bara tahu diri. Uang jajannya tidak di potong saja ia bersyukur banyak, meskipun hari ini ia berencana membawa Inari ke kampus.
Bara menggerakkan tangannya memberi isyarat agar Inari pergi cepat dan menyusul Arzan.
Inari yang paham maksud isyarat dari Bara segera berlari kecil menyusul Arzan.
__ADS_1
Inari mengikuti langkah Arzan yang keluar dari rumah. Arzan membuka pintu tempat kemudi. Inari masih berdiri di depan mobil Arzan. Ia sedikit kebingungan harus duduk di depan atau di belakang. Andai saja masih menjadi nona di keluarga Papanya Inari akan dengan mudah memilih tempat duduk di belakang, namun jika melakukan hal itu sekarang ia tak enak membuat Arzan terlihat seorang sopir. Namun jika duduk di depan, Inari takut di anggap seenaknya saja duduk di depan.
“Kenapa melamun ayo cepat masuk,” ucap Arzan dengan nada kesalnya.
“Saya duduk di mana Tuan?” tanya Inari. Ia tidak ingin salah mengambil langkah.
“Duduk di depan,” jawab Arzan cepat.
Inari segera duduk di samping Arzan. Tidak membuang waktu Arzan melajukan mobilnya.
Tak banyak yang Inari perbuat selain menundukkan kepalanya. Rasanya canggung mengingat kejadian pagi tadi saat berciuman dengan Arzan.
“Semalam kamu berani minum dengan Bara sampai mabuk, apa kamu terbiasa dengan hal itu?” tanya Arzan.
“Iya, majikan saya dulu sering meminta saya menemaninya minum,” jawab Inari berbohong. Sejujurnya ia lebih suka mencuri koleksi minuman milik Papanya.
“Saya pikir wanita desa seperti kamu tidak minum,” ujar Arzan tanpa menoleh ke arah Inari, matanya fokus menyetir.
‘Ah dia berpikir aku benar-benar lugu karena tidak pernah berciuman,’ batin Inari.
“Awalnya terpaksa karena perintah dari Tuan saya, namun lama kelamaan saya jadi terbiasa minum.”
__ADS_1
Saat di persimpangan lampu jalanan berubah merah, Arzan menghentikan laju mobilnya. Ia menatap serius ke arah Inari. “Kalau begitu saya ingin kamu memberikan saya ciu’man di pagi hari, setiap hari meskipun kamu mendapat jatah libur. Ciu’man tetap harus kamu lakukan.”