Pelayan Keluarga Ravindra

Pelayan Keluarga Ravindra
PKR Tujuh Belas


__ADS_3

“Sayang jangan marah.”


Suara lembut Inari yang memanggil dengan sebutan sayang berhasil membuat Arzan terpaku dan menghentikan langkahnya.


“Ayo ke rumah orang tuamu, aku ingin membicarakan pertunangan kita untuk bulan depan,” ucap Arzan serius menatap wajah Inari.


“Hah?” mulut Inari terbuka lebar dengan ekspresi wajah yang terkejut. Padahal ia hanya mencoba mengikuti kebiasaan temannya yang selalu memanggil sayang jika pacarnya marah. Tapi kenapa hasilnya sangat fantastis seperti ini di Arzan, padahal biasanya temannya akan berbaikan dan kembali mesra bukan menjadi lebih serius ke jenjang berikutnya seperti ini.


Arzan menarik tangan Inari untuk mengikuti langkahnya. “Ayo kita bertemu orang tuamu.”


Inari menahan tubuhnya. “Jangan, aku belum siap,” ucap Inari tanpa sadar berteriak.


Arzan melihat wajah Inari yang tampak takut. “Kenapa?”


“Yang ada orang tuaku akan menikahkan kita,” jawab Inari mencoba menakut-nakuti Arzan.


“Ya enggak papa, itu lebih bagus.”


Jawaban enteng Arzan membuat Inari semakin kalang kabut. Lagi pula ia tidak mungkin tiba-tiba membawa Arzan ke rumah, apalagi Arzan hanya tahu Inari seorang pelayan tidak mungkin memiliki rumah besar. Inari menghembuskan nafasnya. “Aku ingin kita lebih dekat dulu,” jawab Inari.


Arzan memeluk tubuh Inari. “Maaf, aku terlalu buru-buru hingga membuatmu tidak nyaman.”


Rasanya inari ingin pingsan di peluk seerat ini oleh Arzan. ‘Papa Inari enggak single lagi,’ teriak Inari di dalam benaknya.


Dengan perasaan ragu-ragu Inari membalas pelukan Arzan, ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Arzan. ‘Aaaah sandaran ternyaman,’ batin Inari.

__ADS_1


Inari dan Arzan segera melepaskan pelukannya saat mendengar suara roda brankar yang di ikuti suara tangis. Mereka menatap ke arah gerombolan orang yang mendorong brankar ke kamar jenazah.


“Kita kembali ke ruangan Bara saja,” usul Arzan saat melihat pandangan ngeri dari wajah Inari.


Inari mengangguk setuju dan mereka berjalan beriringan menuju ruangan Bara.


Sampai di ruangan Bara pria itu tengah memainkan ponselnya dengan tangan kiri. Ia menengok ke arah pintu saat terbuka menampilkan Arzan dan Inari.


“Apa Papa dan Mama akan pulang?” tanya Bara.


Inari menangkap rasa penuh harap di wajah Bara.


“Aku belum memberitahu mereka,” jawab Arzan. Ia melihat raut kekecewaan di wajah Bara. Ia tahu betul jika adiknya merindukan sosok orang tua.


“Cepat beritahu mereka kak,” pinta Bara dengan wajah penuh harap.


Inari merasakan hal yang berbeda dari raut wajah Arzan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Arzan merasakan getaran dari ponselnya. Ia segera menerima panggilan dari sekretarisnya.


[Tuan Arzan rapat akan segera di mulai tiga puluh menit lagi.]


“Baik, saya akan kembali ke kantor sekarang juga,” jawab Arzan.


“Kaka tinggalkan aku?” tanya Bara.

__ADS_1


“Iya ada rapat penting,” jawab Arzan.


Bara memalingkan wajahnya setelah mendengar jawaban Arzan. Dia tahu sudah dewasa, namun ia hanya memiliki Arzan seorang. Dan kini Arzan tak lagi peduli dan sibuk dengan pekerjaan seperti orang tuanya.


Melihat sikap Bara, Arzan tidak mungkin membiarkan Bara sendirian meskipun ia masih ingin membawa Inari bersamanya. “Kamu tunggu di sini, temani Bara,” titah Arzan.


“Baik Tuan,” jawab Inari patuh.


Dengan berat hati Arzan keluar dari ruangan inap Bara.


Tidak lama setelah kepergian Arzan ada dua orang suster yang masuk ke ruangan bara dengan empat parsel buah.


“Ini ada titipan untuk Tuan Bara,” ucap salah satu suster tersebut.


Bara diam saja seolah tidak tertarik.


Inari tidak enak membuat suster menunggu jawaban Bara. “Taruh di sini saja Sus,” jawab Inari dengan senyum ramahnya. Menunjuk meja yang ada di antara sofa.


Setelah menyimpannya parcel buah, suster tersebut berpamitan.


Inari berjalan menghampiri parcel buah yang berjejer. Ia memperhatikan kartu ucapan di setiap parcelnya. “Cecilia. Lekas sembuh sayang,” ucap Inari membaca kartu pertama.


“Cepat sembuh honey. Evelyn,” Inari membaca kartu ucapan yang ada di parcel kedua.


Lalu perhatian Inari beralih pada parcel ke tiga. “Doaku selalu menyeritmu, cepat sembuh baby. Danila.”

__ADS_1


Kali ini Inari membaca kartu ucapan terakhir dengan ukuran parcel yang paling besar. “Lekas sembuh kesayanganku, Anthony.”


__ADS_2