
“Kamu ini bodoh apa bagaimana, jelas-jelas perjodohan ini tidak di dasarkan cinta. Perjodohan ini demi kelancaran bisnis yang sekarang di pegang Arzan, dia mau menikah denganmu hanya untuk memajukan perusahaannya. Bukan karena mencintaimu!”
Inari mendorong tubuh Bara agar menjauh, kini bahunya yang di remas Bara sudah terlepas namun meninggalkan rasa sakit. “Kamu salah Bara! Aku dan Arzan sudah saling mencintai sejak merawatmu di rumah sakit. Arzan serius mencintaiku dan memintaku untuk menjadi tunangannya. Bahkan dia berniat untuk menemui orang tuaku. Tapi aku tidak bisa melakukan hal itu karena aku sedang melarikan diri dari rumah.”
Bara cukup tercengang dengan fakta yang dia dengar. “Jadi maksud pacar yang kamu banggakan itu kakakku sendiri?”
“Iya.”
Bara bertepuk tangan dengan meriah atas sandiwara hebat yang telah di lakukan Inari dan Bara. “Bukankah kalian sudah resmi mengakhiri hubungan, Bahkan kamu melarikan diri dari rumah kami begitu saja tanpa berpamitan. Dan dengan hebatnya tampil di hadapanku sebagai calon kakak iparku.”
“Maaf karena aku menyimpan semua rahasia ini, dan pergi tanpa berpamitan,” ucap Inari dengan menundukkan kepalanya.
“Kamu tidak menghargai perasaanku Riri, aku mencintaimu tapi kamu menerima perjodohan ini begitu saja. Bahkan dengan sengaja kalian mempercepat pernikahan kalian hanya untuk mengolok-olokku.”
__ADS_1
Inari menatap wajah Bara yang tampak bersedih. “Tidak sama sekali. Maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu karena aku sudah mencintai Arzan lebih dulu.”
“Arzan tidak mencintai kamu Inari. Bukannya kalian sudah mengakhiri hubungan, lalu tiba-tiba Arzan menerima perjodohan ini. Apa kamu pikir dia mencintaimu?”
Inari terdiam sejenak, tak langsung menjawab pertanyaan Bara.
“Hubungan kalian berakhir, bahkan dia tahu kalau kamu membohonginya sebagai pelayan namun kini menjadi pewaris tunggal resmi BA Grup dan dengan mudahnya dia menerima perjodohan ini tanpa rasa kecewa telah di bohongi. Apa kamu tidak menyadari hal itu?”
Lagi-lagi Inari hanya diam membisu, ucapan Bara sangat masuk di akal.
“Sudah cukup!” bentak Inari. Ia tak mau lagi mendengar ucapan Bara dan bergegas pergi kembali menuju private room.
***
__ADS_1
Hari pernikahannya dengan Arzan hanya tinggal menghitung hari. Menurut papanya persiapan pernikahan sudah di angka sempurna. Namun perasaan Inari semakin bimbang, setelah acara makan malam itu semakin banyak tanda tanya di kepalanya.
Inari memandangi ponselnya yang kosong. Bahkan dari acara makan malam itu Inari tak mendapatkan satu telepon atau pesan dari Arzan. Seolah ucapan Bara memang nyata, ‘Arzan tak mencintaiku.’
Inari menghembuskan nafasnya, ia duduk bersandar pada sofa yang ada di kamarnya. Ia menyalakan musik cukup kencang. Termenung memandang keluar jendela kamar dengan perasaan yang cukup kacau.
Terpikirkan sebuah ide untuk menghubungi Arzan. Ia hanya ingin mengetes seberapa bersikerasnya Arzan jika ia meminta pernikahan ini di batalkan.
Inari menekan tombol untuk menghubungi nomor Arzan. Nada sambung mulai terdengar Inari menggigit kecil bibir bawahnya dengan perasaan gugup. Pada nada sambung ke empat terdengar sapaan dari ponselnya. [Halo]
“I-iya halo,” jawab Inari cepat.
[Ada apa?]
__ADS_1
Begitu singkat dan padat pertanyaan Arzan. “Aku ingin membatalkan pernikahan kita,” ucap Inari. Jantungnya berdetak tak karuan menunggu jawaban dari Arzan.